
Titik-titik penyesalan itu semakin nyata
Menggerogoti hati
menciptakan lubang besar tak kasat mata
Mengutuki diri dengan kebodohan sendiri
Sesal ....
Satu kata yang kini sedang di rasa
Membuat menangis merana hingga ingin mengubah arah
🌷🌷
Happy reading
Dita memasuki kamarnya dengan hati yang dongkol. Wajahnya terlihat masam dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Ia benar-benar tidak terima atas perlakuan Arzan yang menurutnya benar-benar sudah keterlaluan. Mengapa pria itu berubah dengan cepat? Bukankah selama ini ia selalu ikut saja dengan apa yang ia katakan?
"Aku benar-benar nggak terima kak Arzan ngusir aku gitu aja. Padahal ini adalah waktu yang sangat pas untuk mengambil hati kak Arzan. Hanya karena kepergian kak Aisyah, Kak Arzan bisa marah besar seperti ini. Ini nggak boleh di biarin, jika seperti ini terus maka hubungan antara kami akan renggang. Aku nggak mau kehilangan kak Arzan gitu aja setelah semua yang terjadi." ujarnya seraya menatap wajahnya di depan cermin.
__ADS_1
"Padahal aku cantik, kenapa Kak Arzan sering menolak? Aku lebih seksi di bandingkan kak Aisyah. Bahkan aku sering memuaskan kak Arzan di bandingkan kak Aisyah! Tapi kenapa kak Arzan sangat mencintai wanita itu? Ini semua gara-gara kak Aisyah! Coba saja dia menghilang selamanya! Maka kak Arzan juga akan menjadi milikku selamanya!" ia menatap cermin penuh kebencian. Rasa cinta sudah menjelma menjadi obsesi yang akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Lihat saja nanti, aku akan kembali membuat kak Arzan bertekuk lutut di kakiku dan akan ku buat kak Aisyah tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini!"
🌻🌻
Arzan baru merasa segar setelah mandi, ia hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana pendek sebatas lutut bewarna hitam. Rambutnya ia biarkan berantakan, bahkan tetes air sesekali terjatuh dari rambutnya yang tidak ia keringkan dengan benar. Arzan kembali berdiri di atas balkon, entah kenapa hari ini pria itu senang sekali berada di balkon kamar. Ia menatap nanar pada taman yang ada di bawah sana, di penuhi bunga mawar kesukaan Aisyah. Masih sangat jelas teringat kilasan beberapa bulan lalu saat dirinya memboyong wanita itu ke rumah ini. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika pernikahan yang seharusnya bahagia akan berubah menjadi menyakitkan seperti ini. Ia menyesali sikap Aisyah yang tidak mau jujur sebelum mereka menikah. Jika wanita itu jujur lebih awal, mungkin ia tidak akan sekecewa ini. Mungkin saja ia akan lebih menerima keadaan wanita itu. Tapi semua sudah terlambat, ia pun menyesali kesalahan yang telah ia lakukan. Dirinya malah jatuh oleh pesona sang adik ipar yang menghancurkan. Bahkan dirinya begitu menikmati permainan yang di ciptakan oleh gadis itu. Ah tidak, Dita sudah tidak gadis lagi. Dan dia-lah yang mengambil kegadisan adik iparnya. Kakak ipar macam apa dirinya? Bahkan jika di bandingkan dengan pria brengsek yang suka merusak anak gadis orang, maka dia adalah pria paling brengsek di dunia ini! Bagaimana tidak? Dirinya dengan sangat tega merusak adik iparnya sendiri dan malah mengabaikan istrinya sendiri. Di sebut pria macam apa yang begitu tega mengkhianati istrinya dengan adik ipar sendiri?
Pria itu meremas rambutnya dengan kuat, mendongak ke atas, menghalau air mata yang berdesakan ingin keluar.
Ia menyesal!
Sangat menyesal!
"Tuan, sarapannya sudah siap. Sarapan dulu, biar ada tenaga." ujar wanita setengah baya itu.
"Ya Mbok, nanti saya akan turun." teriak Arzan. Tak lama terdengar suara langkah kaki Mbok Sumi yang menjauh, sementara itu Arzan menghela napas panjang.
"Kenapa penyesalan selalu datang belakangan?" ia kembali meremas rambutku yang mulai mengering.
"Kenapa aku begitu bodoh? Mengapa aku begitu brengsek dan tidak tahu malu?"
__ADS_1
"Aisyah ... Kamu dimana? Kembalilah sayang, kita mulai semuanya dari awal. Aku berjanji akan menerima semua masa lalu kamu. Aku janji," ucapnya penuh penyesalan. Titik air mata jatuh perlahan menyiratkan kesedihan serta penyesalan yang teramat dalam. Tanpa Arzan tahu, Dita sedang memperhatikannya dari pintu kamar yang terbuka. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan geram.
"Kenapa kak Arzan masih mengharapkan kak Aisyah padahal sudah ada aku di sini. Aku jauh lebih baik dari wanita murahan itu." ucapnya dengan menatap marah pada punggung pria yang bergetar menahan tangis.
"Aku akan bermain cantik, aku akan merebut posisi kak Aisyah di hati kak Arzan. Aku akan menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini. Dan akan ku pastikan bahwa kak Arzan akan menjadi milikku selamanya!" ucap wanita itu dengan mata yang berapi-api. Begitu banyak rencana yang tersusun di kepalanya. Ambisinya untuk mendapatkan cinta Arzan dan menjadi istri dari pria itu sangatlah besar. Bagaimana pun caranya dan apapun caranya akan ia lakukan demi cintanya pada Arzan yang notabenenya adalah suami kakaknya sendiri. Ia tidak peduli apa kata dunia nantinya. Wanita itu tidak takut di sebut sebagai pelakor atau pun wanita jahat. Yang penting tujuannya tercapai.
Wanita licik itu mengubah air mukanya yang semula penuh kebencian menjadi penuh senyuman. Ia berjalan perlahan dengan wajah penuh percaya diri menuju pria yang sedang tidak baik-baik saja itu. Mengandalkan rayuan mautnya ia melenggang menghampirinya.
Arzan terkejut ketika jemari lentik wanita itu berada di bahunya. Pria itu mengusap kasar wajahnya yang basah akan air mata. Ia menoleh mendapati wajah adik iparnya yang penuh senyuman dan tatapan menggoda.
"Kak, kenapa melamun? Ayo kita sarapan," ajaknya dengan suara mendayu.
Arzan menyingkirkan tangan Dita, ia berjalan menjauhi wanita penggoda itu.
"Aku sedang tidak ingin makan apapun. Pergilah jika kamu ingin," tolak Arzan. Ia berjalan menuju ranjang, duduk di sana dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Dita tidak menyerah, ia berjalan kembali menghampiri kakak iparnya. Wanita itu duduk di samping Arzan, tangan kanannya sengaja ia letakkan di paha kiri pria itu.
"Kak, Dita mohon jangan seperti ini. Kalau tidak ada makanan yang masuk ke perut kakak, nanti kakak bisa sakit. Kalau kakak sakit, bagaimana kakak mau mencari kak Aisyah? Ayolah, kak. Demi kak Aisyah," bujuknya seraya mengelus lengan pria itu.
"Dita mohon, jangan terus-terusan seperti ini. Kakak masih punya aku, aku akan selalu ada di samping kakak. Makan ya, walaupun hanya sedikit?" wanita itu terus membujuk sang kakak ipar.
"Ini semua demi kebaikan kakak. Aku nggak mau kalau kakak sampai sakit. Setelah makan kita cari kak Aisyah sama-sama." Arzan menoleh, menatap wanita yang ada di sebelahnya dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Dita bawain makanannya ke sini, ya?"
"Tidak perlu! Makan di bawah saja." ujarnya dengan dingin. Dita pun tersenyum, ia mengecup pipi kanan kakak iparnya sekilas. Wanita itu segera menarik lengan pria yang sedang bersedih itu dan mengajaknya segera ke bawah untuk sarapan.