
Tak peduli meski dunia menolak,
Tak kan risau jika penghalang berdiri tegak
Kan ku libas semua yang menghalangi
Yang penting kamu bisa ku miliki
✨✨
Happy reading
"Astaghfirullah ya Allah! Arzan, Dita! Apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak sang pria dengan amarah yang luar biasa. Dita tampak terkejut dan berusaha melepaskan bibirnya yang terbenam dalam bibir sang kakak ipar, tapi karena napsu yang begitu besar membuat Arzan tidak ingat apa-apa. Yang ia tahu tubuhnya minta di puaskan. Dita meronta, berusaha melepaskan diri tapi Arzan kembali menariknya dan menciumnya dengan membabi buta tanpa menghiraukan sekitar. Dita mendelik, begitu juga dua orang yang datang. Kedua orang itu ialah Ayah dan Ibu tiri Aisyah. Keduanya sangat shock melihat apa yang terjadi antara menantu dan anak kedua mereka.
"Kak, lepaskan! Ada Bapak dan Ibu," kata Dita di sela serangan Arzan yang membabi buta. Arzan tak mengindahkan apapun, entahlah mengapa ia bisa begitu. Setelah meminum jus yang di berikan oleh Dita, tubuhnya terasa panas dengan napsu yang terus menggulung. Melihat menantunya yang berbuat kurang ajar di depannya membuat pria itu naik pitam. Ia setengah berlari menghampiri kedua orang berbeda jenis kelamin itu. Menarik Dita dengan kuat, lalu melemparnya dengan asal. Emosi telah menguasai pria itu, ia sangat marah pada kelakuan anak serta menantunya.
Arzan terkesiap, ia hanya menatap heran pada Dita yang meringis menahan sakit di bagian punggungnya karena terlempar ke lantai. Arzan mencoba untuk mengumpulkan sisa kesadaran, mencoba menguasai kondisi tubuhnya yang seolah menjerit minta di puaskan.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Arzan seraya memijit pelipisnya yang penting.
__ADS_1
Plak ....!!
Suara tamparan yang keras terdengar di seluruh ruangan, Arzan merasa panas dan perih di wajah kanannya. Bahkan telinganya berdenging.
"Kamu tanya apa yang saya lakukan? Kalian berdua benar-benar keterlaluan! Kelakuan kalian sama saja dengan binatang! Sangat memalukan!" teriak pria itu dengan marah. Wajahnya sudah memerah dengan urat leher yang menyembul keluar. Matanya melotot menatap nyalang pada menantunya yang masih mencoba tersadar dari pengaruh obat yang di berikan oleh adik iparnya.
"Pantas saja anak saya pergi dari rumah ini. Wanita mana yang akan tahan jika suami dan adiknya dengan tega mengkhianati dirinya?! Kalian berdua memang tidak punya perasaan! Kelakuan kalian benar-benar sangat memalukan!"
Bugh ....
Satu pukulan mendarat sempurna di wajah pria itu menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Belum sempat Arzan menegakkan kepala, satu pukulan kembali mendarat di wajahnya. Ayah Aisyah sudah di kuasai oleh Amarah yang menjadi-jadi. Ia terus memukuli menantunya dengan membabi buta hingga Arzan tersungkur di lantai. Melihat wajah Arzan yang sudah penuh oleh darah, tak menyurutkan emosi ayah Dua anak itu. Ia terus mengejar menantunya, bahkan kini tubuhnya sudah berada di atas tubuh Arzan. Memberikan pukulan demi pukulan yang bisa saja menghabiskan nyawa menantunya. Melihat hal itu membuat Dita dan Ibunya menjerit ngeri.
"Pak, sudah Pak. Jangan pukuli kak Arzan seperti ini! Kak Arzan bisa mati!" Dengan sekuat tenaga Dita menarik tubuh ayahnya dari sang kakak ipar. Ia tidak rela jika nantinya Arzan akan mati dan dirinya akan kehilangan pria itu. Dirinya sangat mencintai sang kakak ipar, melihat wajah yang penuh darah membuat tangisnya semakin pecah.
"Cukup, Pak. Dita mohon berhenti memukuli Kak Arzan!" teriak histeris wanita itu. Mendengar teriakan dari Sang anak membuat Pak Wisnu tersadar, di sampingnya terdapat menantunya yang bersimbah darah. Mbok Sumi yang mendengar suara ribut-ribut pun segera keluar, ia sangat shock sehingga menutup mulutnya yang tak sengaja terbuka. Melihat majikannya berlumuran darah sedang di peluk oleh Dita. Keduanya dalam keadaan hampir tak berbusana, Arzan yang berbaring tak berdaya dengan Dita yang menangis histeris memeluk Arzan.
"Sudah, Pak. Nak Arzan bisa mati kalau terus di pukuli." ucap Ibunya seraya menenangkan suaminya.
"Lebih baik dia mati daripada hidup hanya bisa menyakiti hati Aisyah! Mereka berdua memang pantas mati dan tidak pantas berada di dunia ini! Mereka itu bukan manusia! Mereka tidak lebih dari seekor binatang!" teriak ayah Aisyah dengan sangat marah. Dadanya naik turun, emosinya belum bisa reda dan malah bertambah kala melihat Dita yang menangis sembari memeluk menantunya. Hatinya terasa sangat sakit, mengapa ia bisa dengan mudah mengizinkan anaknya untuk ikut tinggal di rumah Arzan. Ia sangat menyesal, dan hati kecilnya menyalahkan diri sendiri. Seandainya saja ia tidak ikut memberi izin, maka semuanya tidak akan terjadi.
__ADS_1
Ia menarik Dita dan menampar pipi anak tirinya berkali-kali. Hingga sang istri menghentikannya. Sementara Dita hanya bisa menangis seraya menahan perih yang menjalar di seluruh wajahnya.
"Cukup, Pak. Berhenti berkata buruk pada dan memukuli Dita! Dita itu anak kita, Pak." Ibunya tidak terima.
"Aku tidak Sudi punya anak dengan kelakuan seperti setan! Dan apa kau lupa? Dita itu anak kamu! Bukan anak aku!" Pria itu menunjuk marah pada istrinya. Ia sangat kecewa pada istri dan anaknya. Keputusannya menikahi wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar sangat salah. Bahkan karena menikahinya, hidup Aisyah menjadi hancur. Bahkan pernikahannya hancur berantakan di karenakan anak tirinya.
"Kamu dan anak kamu itu sama saja! Sama-sama pembawa sial! Sama-sama perempuan penggoda! Dasar murahan!" teriaknya dengan amarah yang tak juga mau surut. Ia menyesali kejadian beberapa tahun lalu, saat mengkhianati istrinya yang sedang sakit. Wanita ini masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya, menjadi duri dalam pernikahan mereka. Hingga istrinya harus meregang nyawa karena mendapatkan tekanan dari selingkuhannya yakni Ibunya Dita yang kini menjadi istrinya. Dan dirinya tak menyangka, kini karma menghampiri dengan nyata. Aisyah, anaknya harus menanggung akibat perbuatannya terdahulu. Anaknya harus merasakan sakitnya di khianati bahkan oleh Dita yang telah di anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Sekarang kamu berani menghinaku, Pak? Jangan hanya mengatakan aku murahan! Kamu juga murahan karena sudah berselingkuh dengan istri kamu dulu. Kamu tergoda oleh janda seperti ku! Jangan hanya menyalahkan aku! Kamu juga salah!" teriak wanita itu dengan marah. Keduanya malah terlibat cekcok, membuat mbok Sumi kebingungan. Sementara Dita hanya menangis dengan terus merangkul kakak iparnya yang hampir saja pingsan.
Saat situasi semakin rumit, Mana Arzan datang dan sangat terkejut dengan semua yang terjadi. Dia menjerit histeris setelah melihat anaknya yang wajahnya penuh dengan darah sedang terbaring lemah di lantai dengan Dita yang terus menangis.
"Astaga anakku! Apa yang terjadi pada anakku? Apa yang kalian lakukan pada anak ku?!" teriaknya seraya berlari menghampiri anaknya dengan wajah yang hampir menangis. wanita itu bersimpuh, memeriksa keadaan anaknya yang babak belur dengan wajah hampir hancur bercucuran darah.
"Siapa yang melakukan ini pada anakku? Kenapa Arzan bisa sampai begini?!" Wanita itu tidak terima. Ia menatap satu persatu semua orang yang ada di sana. Mbok Sumi menunduk, hatinya sangat kalut. Tidak tahu harus berkata apa dan dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya karena ketika dirinya keluar semuanya sudah sangat kacau.
"Saya yang melakukannya!" jawab Ayah Aisyah dengan menatap tajam pada wanita yang juga sedang di liputi oleh amarah itu. Mama Arzan menoleh pada pria yang berdiri di belakangnya, semua mata tertuju pada Ayah Aisyah. Mama Arzan segera berdiri, ia berjalan menghampiri sang besan dengan berang.
"Beraninya kau!" teriaknya marah.
__ADS_1