
"Rindu tercipta bukan karena jarak,
tapi karena dia sudah ada dalam hatimu.
Kau berada dalam jarak yang sangat dekat, tapi dengan sengaja kau ciptakan tembok yang begitu tinggi, sehingga kita semakin berjarak."
πΌπΌ
Happy reading
Arzan menuruni tangga dan bersiap ke kantor, pakaiannya sudah rapi dengan sebuah jas bewarna hitam yang tersampir di lengan kanannya sementara di tangan kirinya menjinjing tas kantor miliknya. Melihat suaminya sudah siap, Aisyah yang awalnya sedang menyiapkan makanan segera menyambut pria itu. Menata senyum manis sedemikian rupa, dengan hati yang di paksa oleh balutan luka ia meraih tas kerja dan jas milik suaminya agar pria itu bisa sarapan terlebih dahulu.
"Mas, sarapan dulu yuk. Aisyah udah masak buat kita sarapan. Sini tas sama jasnya," Alih-alih memberikan apa yang di minta oleh istrinya, Arzan malah menghindar.
"Aku sarapan di kantor aja,"
Aisyah tak ingin buru-buru berpikiran buruk, ia mencoba mempertahankan senyumnya yang hampir pudar.
"Sarapan di rumah sebentar aja, mas. Aku udah masakin nasi goreng seafood kesukaan Mas." katanya sekali lagi. Mencoba membujuk sang suami yang terlihat mulai jengah.
"Apa kamu tidak dengar? Aku ingin sarapan di kantor. Habiskan saja nasi gorengnya, aku sedang tidak berselera." ketus pria itu sehingga membuat Aisyah tersentak. Senyum itu akhirnya luntur juga, tak bisa lagi ia pertahankan karena hatinya tak cukup kuat mendapatkan respon yang begitu menyinggung perasaannya.
"Di bawa aja ya mas? Biar Aisyah siapin bekalnya." Wanita itu bergegas akan mengambil tempat bekal untuk suaminya, tapi dengan cepat pula Arzan menolaknya.
__ADS_1
"Tidak perlu! Kamu kira aku anak TK pakai bawa bekal segala? Aku udah telat!" bentak Arzan. Wanita dengan rambut terurai itu memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang berebut ingin keluar. Akhirnya Aisyah hanya bisa terdiam, melihat kepergian suami yang sama sekali tidak mau melihatnya. Hingga pria itu hampir menghilang, adik tirinya datang dengan buru-buru.
"Kak, kak Arzan mana?" tanya gadis itu.
"Baru aja pergi," susah payah ia menjawab karena suaranya tercekat di tenggorokan. Pertahanan bulir air mata itu seakan terus mendobrak, ingin segera tumpah mewakili perasaannya yang hancur.
"Yaah ... Padahal 'kan Dita mau bareng. Coba kejar deh, siapa tahu belum berangkat." ujarnya tanpa memperdulikan wajah Aisyah yang terlihat murung. Ia berlari kecil menuju pintu keluar dan berteriak memanggil Arzan yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kak Arzan! Bareng ya, ke kampus." teriaknya masih terdengar oleh Aisyah. Tak terdengar sahutan dari Arzan, dan beberapa detik berikutnya hanya terdengar suara mobil yang meninggalkan pelataran rumah. Bersamaan dengan itu, runtuh sudah pertahanan yang ia bangun. Dengan derasnya air mata itu turun membasahi wajah, terisak dalam diam. Menangis tanpa suara sangatlah terasa sakit dan sesak. Ia meremas dadanya dengan kuat, menatap nanar pada sepiring nasi goreng bertabur udang dan cumi kesukaan suaminya. Biasanya pria itu akan sangat antusias ketika memakan nasi goreng kesukaan buatan Aisyah. Bahkan sewaktu pacaran, tak segan Arzan meminta di bawakan nasi goreng seafood ke kantor. Dan sekarang, ketika mereka sudah sah menjadi suami istri malah kesempatan itu hilang seketika. Harusnya dengan bangga Arzan menenteng bekal buatan sang istri, sama seperti dulu sewaktu masih pacaran. Tapi semuanya kini telah berbeda, semuanya telah berubah setelah malam pertama.
Aisyah mengusap dengan kasar air mata yang tak mau berhenti sejak tadi.
"Kenapa cengeng banget sih? Memangnya apa yang kamu harapkan? Harusnya kamu sadar, kamu itu emang nggak pantes buat siapa-siapa. Apalagi buat Mas Arzan yang notabenenya adalah pria baik-baik. Kenapa mimpiku terlalu indah kemarin? Karena pada akhirnya tetap mimpi buruk yang aku dapatkan." katanya dengan miris. Ia menatap pintu keluar dengan harap. Berharap suaminya kembali dan meminta maaf. Meminta di bawakan bekal yang di masak penuh cinta olehnya. Tapi sampai setengah jam ia berdiri di sana, harapan hanyalah sebatas harapan. Tak ada yang melewati pintu itu, tak ada yang berjalan menuju dirinya. Tak ada yang meminta bekal darinya. Ia kembali tergugu, menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Mengutuk diri sendiri atas apa yang pernah ia lakukan.
πΌπΌ
"Kak, kok tadi Dita lihat muka kak Aisyah murung? Terus kakak kok nggak sarapan dulu? Kalian sedang bertengkar ya?" tanya gadis itu seraya menatap pria di sebelahnya dengan antusias. Arzan hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Nggak kok, kakak sedang terburu-buru. Jadi tidak sempat untuk sarapan di rumah." bohongnya.
"Oh, gitu. Kirain kakak dan kak Aisyah sedang bertengkar." sepercik kecewa terbit di hatinya. Ia berharap bahwa hubungan Pengantin baru itu tidak baik-baik saja. Arzan melirik gadis yang ada di sampingnya sebentar.
"Kamu kenapa nggak sarapan dulu?" tanya Arzan.
__ADS_1
"Nggak selera ah. Mending sarapan di kampus aja,"
Arzan hanya ber-oh tanpa suara seraya mengangguk.
"Eh tapi ya, kak Arzan hebat deh."
Pria itu mengernyitkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang di ucapkan adik iparnya.
"Maksudnya?"
"Ya kakak hebat karena udah mau Nerima masa lalu kak Aisyah."
"Masa lalu? Masa lalu apa?"
"Ya masa lalu yang buruk. Masalah kak Aisyah nggak perawan lagi. Kakak keren deh karena mau Nerima Kak Aisyah. Padahal nih ya, Kak Aisyah itu bandel banget pas SMA bahkan sampai kuliah. Dia jarang banget pulang ke rumah," Arzan hanya mendengarkan dengan mencoba menekan emosi yang tiba-tiba mencuat.
"Memangnya kalau nggak pulang ke rumah, pulang kemana?"
"Emang Kak Aisyah nggak cerita?"
Arzan menggeleng pelan tanpa menoleh.
"Ya mana mau sih dia cerita. Pasti malu lah ketahuan boroknya. Kak Aisyah itu jarang pulang ke rumah, dia sering nginep di rumah temannya. Kadang juga sering nginep di hotel atau di kontrakan pacarnya. Pokoknya kehidupan Kak Aisyah semasa kuliah bebas banget. Sampai-sampai hipertensi ayah kumat gegara dia. Bahkan Ayah hampir meninggal karena kakak ketahuan kumpul kebo sama pacarnya. Mana sering gonta ganti pacar pula." ujarnya seraya mengerling ke arah pria yang ada di sebelahnya. Arzan mencengkram setir mobil dengan kuat, hingga buku jarinya terlihat memutih. Ia menggertakkan gigi dengan kuat. Rasa marah serta jijik mendominasi, membuatnya ingin sekali mengamuk dan melampiaskan semuanya pada Aisyah. Rasa kebencian itu semakin subur setiap harinya. Ia merasa di tipu dengan penampilan luar wanita itu. Ia kira Aisyah berbeda, tapi ternyata dialah wanita rusak yang munafik. Berpura-pura menjadi wanita baik-baik agar mendapatkan pria baik seperti dirinya. Tanpa Arzan sadari, senyum licik tercipta di bibir gadis yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1