Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 60


__ADS_3

**Gelombang cinta datang menghantam dinding hati yang rapuh


Menyalurkan getaran rindu yang ingin segera di rengkuh


Menciptakan senyum yang sekian lama terukir palsu


Aku dan kamu, semoga bersatu dalam satu titik temu


🌹🌹


Happy reading**


Arman pulang ke rumah dengan senyum yang terus terukir di wajahnya. Kilasan demi kilasan kejadian di taman membuatnya tidak berhenti untuk tersenyum kala mengingat wanita yang baru di temuinya di taman. Pria itu bersiul memasuki ruang tamu, jari kanannya memutar kunci mobil di selingi tubuh yang berputar. Pria itu tampak sedang jatuh cinta, hal itu tidak bisa di pungkiri karena gestur tubuh yang tidak mungkin bisa di bohongi.


"Kakak kenapa? Kesambet hantu jembatan?" tegur seorang pria yang duduk di kursi ruang tamu. Pria itu menatap kakaknya yang datang dengan tidak biasa. Sontak saja ucapan sang adik membuat Arman menghentikan tingkah konyolnya. Ia berhenti sebentar, berdehem beberapa kali lalu beberapa detik kemudian kembali memasang wajah cool-nya.


"Siapa yang kesambet?" tanya pria itu meneruskan langkahnya yang tertunda. Merebahkan tubuhnya di sebelah Sang adik.


"Tetangga sebelah kesambet hantu jembatan!" sahut sang adik dengan kesal sementara Arman hanya ber-oh ria seraya mengangguk.


"Dasar pohon pisang! Punya jantung kagak punya hati!" sindir pria yang duduk di sebelah Arman seraya bersungut-sungut sembari mengunyah cemilan buatan Mamanya dengan kesal.


"Apa sih? Gimana calon Adik ipar? Udah masuk perangkap belum?" tanya Arzan seraya mencomot cemilan yang ada di dalam dekapan adiknya.


"Udah kayak tikus aja masuk perangkap. Gatot! Gagal total!" ujarnya kesal seraya merebut kembali camilannya. Arman hanya tertawa kecil mendengar jawaban adiknya.


"Makanya, jangan terlalu di kejar. Ntar malah lari. Ngomong-ngomong, kenapa gagal? Kamu baru ketek, ya?" Mendengar pertanyaan kakaknya membuat sang adik ingin sekali membungkam mulut kakaknya yang menyebalkan.


"Cium nih ketek aku! Mana ada bau. Ngomong kok nggak pake filter." rutuknya kesal sementara kakaknya hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kayak Kakak dong, langsung sat-set. Cewek itu jangan terlalu di kejar, coba bikin nyaman dulu. Pasti lama-lama juga bakal nempel."


"Wah, kakak udah punya pacar ya?" tanya adiknya dengan mata berbinar menatap tak percaya pada sang kakak.


"Belum. Baru ketemu beberapa kali. Tapi entah kenapa udah mulai ngerasa cocok dan yakin aja kalau kita berdua jodoh."


"Allhamdulillah ya Allah. Semoga kak Arman beneran jodoh sama itu cewek. Ah akhirnya gelar jomblo Abadi sebentar lagi akan di lepas." ucapnya riang. Senyumnya mengembang kala mendengar berita baik yang selama ini di tunggu-tunggu. Arman adalah seorang pria yang cukup dingin pada yang namanya wanita. Tidak mudah bagi pria itu untuk membuka hati. Bahkan pria itu tidak pernah berpacaran sekali pun hingga umurnya yang hampir 35tahun.


"Mamaaaa ... KAK ARMAN PUNYA PACAR! KAK ARMAN NGGAK BAKAL JADI BUJANG LAPUK LAGI!!" teriak adik Arman dengan bersemangat. Hal itu membuatnya mendapatkan pukulan di bahunya.


"Dasar ember bocor!" ucap Arman sementara adiknya hanya tertawa tanpa merasa bersalah. Tak berselang lama wanita paruh baya yang mengenakan dress bewarna navi sebatas lutut keluar membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.


"Kenapa sih ribut-ribut? Kalau sudah kumpul pasti rame." kata sang Mama sembari meletakkan dua gelas jus ke atas meja.


"Ini ma, Sebentar lagi mama bakalan Nerima menantu." kata adik Arman seraya tertawa bahagia.


"Wah ... Benarkah?" tanya Mama Lita seraya tersenyum senang. Matanya melebar menatap anak sulungnya yang sedang mengalihkan wajahnya karena malu. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu duduk di sebelah Arman.


"Hoaks Mah. Haris sudah berbohong. Arman belum punya pacar, kok." kata Arman seraya menatap Mamanya.


"Jadi cuma hoaks?" tanya Mama dengan wajah kecewa. Melihat ekspresi wajah sang Mama yang berubah membuat Arman merasa bersalah. Ia meraih tubuh wanita itu membawanya ke dalam pelukannya.


"Arman baru menyukainya, Mah. Bahkan kami baru dua kali bertemu. Tentang perasaan wanita itu, Arman tidak tahu. Do'akan saja semoga dia punya rasa yang sama." ucap pria itu seraya mengelus punggung Mama Lita dengan lembut. Wanita yang ada di dalam dekapannya memberontak, senyum yang semula hilang kembali lagi.


"Nggak apa-apa belum jadian juga. Yang penting hilal jodohnya udah kelihatan. Mama selalu mendo'akan kalian berdua. Meminta yang terbaik untuk kalian berdua." Mama Lita menatap sayang pada kedua anaknya.


"Jadi, kalau kakak udah menikah Haris bisa nyusul dong Mah?" tanya Haris sang adik Arman.


"Ya boleh, dong. 'Kan Mama sudah bilang, kamu nggak boleh menikah sebelum kakak kamu menikah."

__ADS_1


"Yes ...!! Kalau besok Haris bawa calon menantu mama kerumah, boleh nggak?" tanya Haris.


"Wah, udah nyuri start nih si bungsu." kata Arman iri. Haris hanya tertawa mendengar ucapan kakaknya.


"Boleh, kok. Coba, kenalin sini sama Mama. Kalau kakak juga mau bawa ke sini calon menantu mama, juga boleh kok." ujar Mama Lita seraya tersenyum menatap keduanya.


"Makasih, Mama." Haris berdiri, mencium pipi kanan dan kiri mamanya.


"Arman nggak mungkin bawa dia ke sini. Jadian juga belum. Lagi pula Nggak punya nomornya atau pun alamat rumahnya." Apa yang di katakan oleh Arman membuat Haris dan mamanya melongo. Keduanya saling tatap tak percaya pada pria yang sedang menggaruk kepalanya itu.


"Astaga! Ya ampun pohon pisang! Terus ngapain aja pas kalian ketemu? Jangan-jangan namanya juga belum tahu?!" kata Haris seraya menatap Mamanya dan Mama Lita mengangguk, membenarkan apa yang ada dalam pikiran putra bungsunya. Keduanya kembali menunggu jawaban dari Arman penuh rasa penasaran. Arman hanya tertawa kecil.


"Tahu kok." jawabnya singkat.


"Siapa namanya?" tanya Haris.


"Namanya ...." Arman menggantung ucapannya, ia menatap kedua orang yang ada di hadapannya. Sengaja memberi jeda untuk membuat adik dan Mamanya semakin penasaran.


"Siapa namanya, Kak? Aku yakin nih, kakak pasti belum tahu namanya. Ah ... kakak payah. Padahal aku udah rencana mau ngajakin kakak double date." keluh Haris kesal.


"Gimana sih, Arman? Gimana bisa calon menantu mama sampai ke sini kalau namanya aja nggak tahu?" Mama Lita pun mendesah kecewa. Arman hanya menahan tawa, puas melihat ekspresi dua orang yang sangat di sayangnya itu.


"Namanya Aisyah," kata Arman tiba-tiba sehingga membuat tubuh Haris kembali tegak.


"Apa? Namanya Aisyah?" tanya Haris tak percaya. Arman hanya mengangguk membenarkan.


"Kakak nggak salah?" Arman mengangguk.


"Memangnya kenapa sih, Ris? Kok kelihatannya kaget banget?" tanya Mama Lita.

__ADS_1


"Karena sebenarnya wanita yang Haris suka namanya juga Aisyah."


"Apa?!"


__ADS_2