
**Dilema merambat,
Rasa ini hadir semakin pekat
Tapi jiwaku harus kuat
Tak kan ku izinkan lagi cinta ini melekat
🌻🌻
Happy reading**
Aisyah menatap semua orang yang ada di sana. Lalu tatapannya pindah pada pria yang ada di hadapannya, yang kini sedang menggenggam tangannya.
"Mas ... A-aku ...."
"Kenapa sayang? Apakah kamu sangat merindukan aku? Katakan saja, sayang. Atau ... kamu malu karena di sini sangat ramai?" goda Arzan sembari tersenyum mengedarkan pandangannya menatap sekilas semua orang yang ada di sana.
"Bukan mas, tapi aku ke sini karena ...."
"Ayo, kita ke kamar saja ya sayang." ajak Arzan seraya menarik tangan istrinya dengan lembut, wajahnya begitu sumringah. Tak ada lagi kesedihan yang menggelayuti wajah tampan pria itu seperti kemarin.
"Mas ...." Aisyah mencegah suaminya yang hendak melangkah mengajaknya ke kamar.
"Kenapa sayang?" Arzan mengangkat sebelah alisnya. Menatap heran pada istrinya yang tampak muram.
"Aku Kesini untuk mengambil barang-barangku." kata Aisyah sehingga membuat Arzan terdiam dengan wajah datar. Semua yang ada di sana saling tatap, Mbok Sumi kembali terisak. Ia begitu berharap bahwa kedua majikannya ini akan baik-baik saja dan kembali seperti semula. Dita dan Ibunya tersenyum puas. Sementara Mama Arzan tampak biasa saja.
"Lihat bukan? Dia kesini hanya untuk mengemasi barang-barangnya. Sudah Ibu katakan, ia tidak akan tega melihat kamu hamil tanpa suami. Tenang sayang, kamu akan menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini." bisik Ibu Dita dengan puas. Ia bahkan ingin sekali melompat jika tidak ada orang lain di sana.
"Ibu benar. Kak Aisyah itu orangnya tidak tegaan. Syukurlah, posisi Dita aman." Keduanya berbisik ria, senyum kebahagiaan selalu menghiasi wajah keduanya.
"Sayang, barang apa? Maksudnya, kenapa barang kamu di ambil? Kamu mau kemana? Bukankah kamu kembali ke sini untuk memperbaiki rumah tangga kita?" tanya Arzan dengan suara tercekat. Bisa di lihat mata pria itu berkaca-kaca, berembun dan akan segera turun air mata.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa." ujar Aisyah dengan penuh kesakitan. Ia menatap adiknya yang berdiri tak jauh darinya.
"Sayang, Mas minta maaf. Mas harus apa biar kamu mau kembali lagi ke sini? Agar rumah tangga kita baik-baik lagi seperti kemarin? Mas minta maaf sayang. Mas janji tidak akan ada lagi Dita atau siapapun. Hanya ada kita, sayang. Hanya KITA!"
Aisyah tersenyum kecut, ia menatap suaminya dengan tatapan nanar.
"Kenapa baru sekarang kamu ucapkan semua itu, Mas? Semuanya sudah terlambat!"
"Belum sayang. Semuanya belum terlambat. Masih ada kesempatan itu. Kamu mau kan memperbaiki semuanya?"
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa mengabaikan keadaan adikku sendiri. Aku tidak bisa melihat Dita hamil tanpa suami dan keponakanku lahir tanpa seorang Ayah. Aku bukan wanita yang sekejam itu, Mas." Arzan membuang muka, memejamkan matanya yang menurunkan bulir bening dengan deras.
"Dan kamu! Kamu harus menjadi pria yang bertanggung jawab! Kamu harus menikahi Dita, Mas." sekuat hati wanita itu menahan rasa sakit yang terus menusuk. Mbok Sumi membekap mulutnya, ia pun merasa sakit melihat Aisyah dengan segala ketegaran yang di tunjukkan oleh wanita itu. Ia tahu, dalam hatinya pasti begitu rapuh dan merasa amat sangat sakit. Hatinya pasti sangat terluka, tapi wanita itu mencoba untuk terus tegar di hadapan suami dan semua orang.
"Tapi Mas tidak mencintainya. Mas hanya mencintai kamu, Sayang. Mas tidak mau menikah dengan Dita!"
"Jangan jadi pengecut, Mas! Jika kamu tidak mencintai dia, kenapa kamu bisa melakukan hal itu dengan dia? Jika kamu mencintai aku, kenapa kamu tega mengkhianati aku hanya gara-gara kekurangan?" Aisyah menatap mata suaminya dalam, mencari cinta yang di gadang-gadang hanya untuknya. Tapi ia tidak menemukannya. Entahlah, mungkin ia salah. Tapi besarnya rasa kecewa dan sakit hati seolah menutup hatinya. Ia tidak bisa untuk kembali lagi ke dalam kubangan cinta yang menyiksa. Yang menjebaknya dalam lumpur kesakitan yang akan membuatnya mati secara perlahan.
"Maafkan aku Aisyah, tapi ku mohon. Jangan pergi lagi. Aku tidak bisa jika hidup tanpa kamu. Aku mohon!" pinta pria itu dengan sangat.
Setelah sekian menit, ia baru tersadar. Ia harus menghentikan Aisyah, ia tidak bisa jika harus kehilangan wanita itu. Arzan segera berlari ke kamar, mencari keberadaan Aisyah.
Aisyah masuk ke dalam kamar dengan perlahan, semua kenangan melintas di kepalanya. Ia tersenyum getir, menatap ranjang yang menjadi saksi bisu atas segalanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, menuju lemari yang terdapat pakaian miliknya. Ia segera mengambil koper yang ada di dalam lemari bagian bawah, lalu memasukkan satu persatu pakaian miliknya ke dalam sana.
"Aisyah, apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" suara Arzan datang dari luar, Aisyah menoleh. Menatap sebentar pada suaminya yang berlinang air mata di pintu kamar.
"Aku yakin." jawab Aisyah singkat. Ia melanjutkan untuk memasukkan kembali pakaian miliknya. Mengabaikan tatapan Arzan di belakangnya. Ia harus kuat, ia tidak boleh lemah dan terperangkap dalam cinta penuh sakit yang akan membunuhnya secara perlahan. Arzan melangkah dengan lemah, ia duduk di tepi ranjang melihat istrinya memasukkan satu persatu pakaiannya.
"Tolong, jangan pergi." suara Arzan memelas, terdengar begitu memilukan. Aisyah memejamkan mata sebentar, gerakan tangannya terhenti. Menahan gelombang air mata yang mendesak ingin keluar.
Tidak. Ia tidak boleh menangis dan terlihat lemah di depan Arzan. Jika ia seperti ini, maka niatnya untuk berpisah dengan suaminya pasti akan gagal. Dirinya tidak akan bisa membiarkan adiknya hamil tanpa suami. Mengenai hidupnya, ia yakin akan baik-baik saja setelah ini. Asiyah membuka matanya, menatap Arzan yang duduk gak jauh darinya.
"Biarkan aku pergi, Mas. Dan nikahi Dita. Jangan sakiti dia seperti kamu menyakiti aku. Cintai dia dan sayangi dia seperti kamu mencintai aku. Kalian pasti bahagia," pintanya.
__ADS_1
"Tidak, Aisyah. Hanya kamu wanita yang bisa membuatku jatuh cinta. Aku tidak menginginkan siapa pun kecuali kamu. Aku mohon, sayang. Tolong jangan pergi! Tetaplah di sampingku, karena aku sangat membutuhkan mu."
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa." Aisyah segera menutup koper miliknya, menariknya perlahan dan ingin segera meninggalkan kamar itu.
"Aisyah, aku mohon." Arzan mencekal lengan Aisyah dengan tatapan memohon saat wanita itu melewatinya.
"Lepaskan Mas!" Aisyah menatap lengannya, berpindah pada wajah suaminya yang tampak sedih.
"Tidak. Aku mohon jangan pergi!"
"Aku harus pergi. Maaf belum bisa jadi istri yang kamu impikan. Maaf aku tidak jujur dari awal dan maaf ... tidak bisa menjadi istri kamu lagi." Aisyah menarik paksa lengannya, lalu melangkah keluar kamar.
"A-Aisyah ... Sayang ...." teriak Arzan. Ia pun segera menyusul istrinya yang menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah, Dita segera berlari memeluk sang kakak tirinya.
"Kak, jangan pergi. Dita mohon jangan pergi. Maafkan Dita, Kak. Kasihan kan Arzan, dia pasti akan sangat sedih karena kehilangan kakak." ucap wanita itu dengan tangis keras. Aisyah menghela napas berat, ia menatap ke atas. Mengelus bahu adiknya yang bergetar.
"Kakak harus pergi. Kakak tidak di butuhkan lagi di sini. Jaga kak Arzan baik-baik, dan hiduplah bahagia bersamanya." Aisyah melepaskan pelukannya, mengusap perlahan air mata yang ada di wajah adiknya.
"Aku minta maaf, Kak." cicit wanita itu.
Aisyah mengangguk, menatap perut Dita yang datar Lalu mengelusnya.
"Selamat ya, atas kehamilan kamu. Jaga keponakan kakak baik-baik. Selamat juga akhirnya kamu bisa menikah dengan orang yang sangat kamu cintai. Kakak pamit," Aisyah mencoba untuk tersenyum, meski pahit. Air mata yang sedari tadi di tahan kini lolos begitu saja menuruni wajahnya. Dengan cepat ia segera menghapus air mata itu. Ia tahu, Dita sudah lama juga mencintai Arzan. Ia tahu, jika dari dulu adiknya berusaha untuk merebut Arzan darinya. Tapi ia tidak tahu dan tidak menyangka jika Dita akan senekat itu. Merebut suaminya bahkan sampai hamil dengan pria itu.
Aisyah menarik koper miliknya, melewati adik dan Ibu tirinya yang sedang menatapnya. Saat melewati sang mertua, ia tersenyum.
"Maaf Ma, selama ini Aisyah tidak bisa menjadi menantu yang baik. Dan sekarang, Mama sudah mendapatkan menantu idaman mama. Selamat, ya Ma. Aisyah pamit," Wanita yang ada di hadapannya bergeming. Ia hanya diam tanpa kata. Tak tahu harus berkata apa, karena ia merasa hampa.
"Nyonya jangan pergi. Nyonya Sangat baik, Mbok Sumi tidak bisa kehilangan Nyonya." mbok Sumi menangis histeris, membuat tangis Arzan semakin pecah. Ia sangat mengetahui kedekatan antara Mbok Sumi dan istrinya.
"Maaf Mbok, tapi Aisyah harus pergi. Jika mbok kangen, nanti kita bisa ketemu." kata wanita itu memeluk perempuan setengah baya itu sebentar. Suasana haru sangat jelas terasa saat Aisyah pergi. Ia segera keluar dari rumah besar itu, meninggalkan segala kenangan yang ada di sana. Semua cinta, kesedihan, kebahagiaan serta air mata. Ia tinggalkan di sana. Ia siap untuk memulai hidup baru dan masa depan yang lebih baik. Saat akan keluar pagar, seorang pria mendatanginya.
"Naik mobil aku aja, Ya." ajaknya seraya mengambil alih koper yang ada dalam genggaman Aisyah.
__ADS_1
"Ka-kamu?"