
Wahai hati....
Jangan terlalu sakit, tetap kuat dan jangan lemah. Aku yakin, kita bisa melewati ini semua....
πΊπΊ
Happy reading
Mama Arzan masih di rumah Arzan dan pagi ini mereka sarapan bersama. Seperti biasa, ketika Aisyah sibuk memasak dan menyiapkan sarapan Dita hanya duduk bersama mama Arzan dan kakak iparnya di meja makan menunggu semuanya siap. Bertukar cerita dan saling bersenda gurau, sesekali Aisyah melirik ke meja makan. Merasa iri tentu saja, merasa sakit hati tapi tidak tahu harus sakit hati karena apa. Ia menghela napas berat, dadanya terasa sangat sesak.
Mbok Sumi yang melihatnya hanya menatap majikan perempuannya dengan sedih. Ia ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Aisyah. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa terlebih posisinya di rumah ini hanya sebagai asisten rumah tangga. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Aisyah ikut bergabung di meja makan. Ingin menyendokkan nasi ke piring Arzan, tapi Dita lebih dulu mengambil perannya sebagai seorang istri.
"Kak, makan yang banyak ya. Biar kakak kuat kerjanya," kata Dita dengan senyum yang lebar. Ia melirik pada kakak tirinya yang menunjukkan wajah penuh kekecewaan.
"Terima kasih ya Dit." balas Arzan ikut tersenyum.
"Sama-sama," kata Dita dengan suara manja. Melihat hal itu membuat Mama Arzan senang, ia pun ikut tersenyum.
"Nak Dita ini emang menantu idaman ya. Sama orang tua ramah dan asyik banget. Sama kakak iparnya aja baik dan perhatian, gimana nanti sama suami sendiri? Pasti pria yang jadi suaminya akan beruntung banget." sontak saja ucapan dari Mana Arzan membuat gadis itu melambung.
__ADS_1
"Ah Tante bisa aja. Dita 'kan lagi belajar untuk jadi istri dan menantu yang baik."
"Bagus dong, nanti kalau udah nikah bisa di praktekin langsung. Kamu memang idaman," ujarnya seraya tersenyum dan bangga pada adik dari menantunya. Sementara Dita hanya tersenyum malu-malu setelah mendapat pujian dari mertua kakaknya.
"Nggak seperti Aisyah, bisanya apa? Sama mertua cuek, nggak perhatian. Sama suaminya juga. Bahkan adiknya yang lebih perhatian sama mertua dan kakak iparnya." cibir wanita itu sehingga membuat Aisyah menghentikan makan. Ia kembali menghela napas berat tanpa mau menoleh pada mata-mata yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Ma, sudah. Aisyah juga sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Arzan." Tanpa di duga kalimat itu keluar dari mulut suaminya sehingga membuat Aisyah terkejut.
"Kamu itu ya, selalu saja belain istri kamu yang nggak bisa apa-apa itu."
"Ma, udah ya. Lebih baik kita sarapan, Arzan mau berangkat ke kantor." kata pria itu seraya menghabiskan makanannya. Mamanya diam tak bisa berkata apa-apa, sementara Dita menatap cemburu pada kakak iparnya dan Aisyah. Wanita itu ingin sekali menghujani pria itu dengan banyak pertanyaan jika saja tidak ada Mama Arzan dan Aisyah.
Meja makan itu mendadak sunyi dengan pikiran masing-masing yang memenuhi kepala mereka. Aisyah menatap suaminya dengan senyum, tak menyangka di balik sikap dinginnya masih mau membela dirinya. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang tak biasa di leher suaminya. Sebercak warna merah terlihat di leher putih sang suami.
Deg ....
Jantungnya seolah berhenti berdetak, wajahnya pucat pasi. Kerongkongannya terasa tercekat, ingin bertanya tapi tidak enak ada Dita dan Mama mertuanya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Dita, ia makin terkesiap. Tanda yang sama juga ada di leher sang adik tirinya. Matanya hampir terlepas kala mendapati tanda yang masih baru di antara tanda yang samar.
Bukankah tadi malam Dita tidak kemana-mana? Siapa sebenarnya pacar Dita? Dan ... tanda itu, kenapa juga ada di leher suaminya? Apakah suara yang ia dengar semalam adalah ....?
__ADS_1
Aisyah meletakkan sendoknya, semakin tak berselera untuk menghabiskan makanannya. Mati-matian berusaha mencegah air matanya agar tak turun. Ia menatap Arzan dan Dita bergantian, ingin sekali melontarkan pertanyaan pada mereka. Kedua orang yang di tatapnya tak menyadari tatapan Aisyah. Malah sesekali keduanya melempar senyum. Bahkan Aisyah tidak menyadari jika sebuah tangan sedang berkelana pada paha seorang pria di bawah meja.
πΊπΊ
"Tadi malam kamu sama siapa, Mas?" tanya Aisyah tanpa basa-basi ketika suaminya sedang ke kamar untuk mengambil tas kerja. Tadi, setelah Arzan berpamitan untuk ke kamar ia mengikuti suaminya. Rasa penasaran dan sakit hati mendesaknya agar langsung bertanya pada suaminya.
"Kamu ini kenapa sih? Aku sendirian. Aku tidur semalam, kenapa kamu bertanya seolah aku sedang berselingkuh?" tanya Arzan gak terima.
"Kamu sendirian? Lalu suara siapa yang aku dengar semalam? Jelas-jelas ada suara seorang wanita di dalam ruang kerja kamu!" "Aku kan udah bilang, itu suara film yang aku tonton. Aku ketiduran dan lupa mematikan filmnya." elak Arzan.
"Lalu, tanda di leher kamu juga hasil tertidur? Atau kamu beralasan bahwa kamu menggaruknya sehingga meninggalkan tanda merah di sana?" wanita itu menunjuk tanda merah yang tercetak jelas di leher sang suami. Mata Arzan melotot dengan sempurna, ia benar-benar tidak mengetahui jika ada tanda merah di lehernya. Dalam hatinya ia mengumpat Dita.
Kenapa ceroboh sekali, sih? Kenapa bisa-bisanya sampai membuat tanda merah di leher yang akan mengundang kecurigaan istrinya.
"Aku tidak tahu!" pria itu tampak gugup dan segera menghindar.
"Tidak tahu apanya mas? jangan mengelak terus. Katakan kamu bersama siapa tadi malam?!" Aisyah mencegah langkah kaki suaminya. Ia mencekal lengan suaminya, dan Arzan langsung menghempaskan tangan Aisyah.
"Jangan coba-coba menyentuhku! Bukankah aku sudah bilang jika aku merasa jijik di sentuh sama kamu?" ia menyingkirkan tangan Aisyah. Ucapan suaminya sangat menohok dan menghujam sampai ke jantung. Terasa teramat sakit, ada luka yang tak berdarah di sana. Aisyah hanya menatap suaminya dengan nanar, bulir bening yang sedari tadi di tahan kini keluar bebas tanpa hambatan.
__ADS_1
Menggunakan kesempatan itu, Arzan segera berlalu. Tanpa Aisyah tahu sebenarnya pria itu mati-matian berusaha menutupi kegugupannya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tanpa Aisyah tahu, jantung Arzan sebenarnya terasa akan meledak karena Aisyah mulai mengendus bau perselingkuhan yang ia sembunyikan. Pria itu terus melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu kamar. Saat ia melewati tembok yang bersekat, ia terkejut bukan main ketika tubuhnya di tarik dengan tiba-tiba oleh seseorang. Tubuhnya di dapatkan ke tembok, detik berikutnya ia merasakan benda kenyal yang merebut paksa bibirnya. Ia mendelik mendapatkan serangan brutal secara tiba-tiba. Hingga tubuhnya menegang, hingga beberapa saat ia menikmati sesapan demi sesapan yang memabukkan. Ia pun membalas ciuman brutal itu, keduanya terlibat ciuman panas di balik tembok. Dan tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang berada tak jauh dari mereka sedang menatap mereka dengan wajah terkejut dan hampir menangis. Wanita itu membekap mulutnya karena tak percaya.