
Jalan itu terlalu rumit, pergi sakit bertahan pun sakit.
Perasaan getir selalu menggigit, membuat aku ingin sekali menjerit.
Kenapa semuanya begitu sulit, semua jalan terasa sempit.
πΌπΌ
Happy reading
Arzan berjalan dengan cepat menuju ruangannya, tak lupa menanggapi sapaan dari para karyawan yang berpapasan dengannya. Ia di kenal dengan atasan yang cukup ramah, tidak seperti atasan di novel-novel yang bersikap dingin serta angkuh. Ia tak segan balik menyapa pada para karyawannya sehingga mereka pun tak segan jika bertemu dengan Arzan. Ia memasuki lift bersama pegawai lainnya, di sana ada dua orang karyawan perempuan dan dua orang pria yang berdiri di sudut lift. Ia bukan karyawan di sana, tapi seorang klien yang bersiap melakukan meeting bersama Arzan dan para staf kantor lainnya.
Pria itu melirik sebentar pada Arzan yang berdiri di depannya tanpa menoleh. Kedua perempuan yang berada di sebelahnya berbisik-bisik, terlihat tertawa kecil sembari melirik Arzan. Merasa terganggu dengan suara mereka, Arzan mencoba menegur.
"Kalian sedang menertawakan apa?" ia menoleh sebentar, menatap kedua karyawan yang langsung terdiam karena di tatap sedemikian rupa oleh atasannya.
"Maaf, Pak. Ka-kami sedang tidak menertawakan apa-apa." Keduanya menunduk, merasa takut dan tidak enak. Mereka berdua takut jika sampai menyinggung perasaan si atasannya dan akan berakibat buruk pada posisi mereka di kantor.
Ting ...!!
Pintu lift terbuka, berhenti di lantai lima. Arzan segera keluar dan meninggalkan ketiga orang yang menuju lantai enam. Setelah pintu lift tertutup, kedua karyawan wanita tadi terkikik geli. Mereka tertawa lepas setelah kepergian atasannya.
"Gila, ya. Mentang-mentang pengantin baru, masak lehernya merah-merah. Terus liat nggak tadi, di sudut bibir Pak Arzan ada lipstik. Ya ampun, jadi pengen nikah gue." celetuk seorang wanita berambut sebahu.
"Iya loh, ternyata istrinya agresif juga ya. Sampe merah-merah gitu lehernya. Pasti lembur terus tuh mereka." sahut temannya yang berambut coklat.
"Bisa aja loh," senggol temannya seraya tertawa. Keduanya tertawa lepas tanpa menyadari ada dua orang pria di belakang mereka yang mendengar semuanya. Yang satunya diam di samping atasannya, sementara pria yang satunya tersenyum getir, kedua tangannya berada di dalam saku celana sedangkan netranya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Arzan terus melangkah menuju ruangannya, ia merasa heran melihat ekspresi para pegawainya yang diam-diam menertawakannya. Pria itu melihat penampilannya, ia merasa tidak ada yang aneh pada pakaiannya. Hingga kemudian ia memilih untuk bersikap cuek dan tidak peduli dengan sekitar.
Ia memasuki ruangannya, berhenti di meja sekretarisnya yang sedang sibuk di depan layar laptop.
"Niken, tolong siapkan materi untuk meeting hari ini. Sepuluh menit lagi kita meeting di lantai enam." Ujar pria itu. Wanita yang mendengar perintah dari atasannya pun segera berdiri dan menunduk sebentar.
"Semua materi sudah saya siapkan, Pak." ujarnya dengan lantang.
"Bagus." puji pria itu pada bawahannya.
"Ummm ... Maaf pak, Apa Bapak akan pergi meeting dengan penampilan seperti itu?" tanya wanita yang memakai blazer bewarna mocca itu ragu.
Arzan mengernyitkan dahi, melihat aneh pada sekretarisnya.
"Maksud kamu?"
"Apa?!" Sontak saja ucapan sekretarisnya membuat Arzan terkejut.
"Iya, Pak." ujarnya seraya tersenyum simpul. Ia pun maklum karena atasannya baru saja menikah.
Apakah para karyawan tadi menertawakan aku? Ah sial! Dita benar-benar berhasil membuat ku malu! Umpatnya dalam hati. I
"Terima kasih sudah memberi tahu saya." ujar Pria itu seraya berlalu dan masuk ke dalam ruangannya. Ia segera menuju kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruangannya. Menghapus jejak yang ada di sudut bibirnya.
"Kenapa gadis itu begitu agresif? Padahal Aisyah tidak seperti itu." gumamnya seraya mengingat kembali pergulatan panas yang mereka lakukan semalam. Permainan Dita selalu membuat Arzan ketagihan hingga ia ingin merasakan lagi dan lagi. Ia selalu ingin merasakan kehangatan dari gadis itu. Apa ia mulai mencintai Dita? Ah tidak. Ia hanya merasa tergantung dengan gadis itu. Ia bisa mendapatkan apa yang tidak bisa ia dapatkan dari istrinya. Tentang hatinya, di sana masih tersimpan rapat untuk Aisyah. Di hatinya masih ada Aisyah dan wanita itu tetap menjadi pemenangnya. Kekecewaan menghantarkan dirinya ke jurang kesesatan dan awal mula kesengsaraan. Jika saja ia bisa berpikir jernih dan berlapang dada menerima masa lalu kelam Aisyah, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Setelah Arzan berhasil menyingkirkan noda lipstik di bibirnya, ia segera bersiap untuk meeting. Ia tidak ingin para klien-klien nya menunggu lama. Arzan langsung mengajak sekretarisnya untuk pergi ke ruang meeting di lantai enam.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Aisyah bertemu sahabatnya di Cafe. Ia bercengkrama seraya meminum secangkir cappucino kesukaannya. Keduanya sesekali tertawa, menceritakan hal lucu yang sangat asyik di ulik kembali.
"Eh jadi gimana novel kamu yang genre horor?" tanya Aisyah seraya menyeruput capuccino miliknya yang tinggal setengah gelas.
"Wah, ngeri ih. Kok aku ngerasa merinding. Aku ngerasa ada yang ngikutin dan sering ganggu deh. Nggak tahu itu apa." ujar wanita bersurai pirang yang ada di hadapannya.
"Wah hati-hati kamu Des, bisa jadi itu hantu nggak terima kamu nulis tentang dia."
Desy sang temannya pun mendelik.
"Ih kamu kok nakutin sih? Jangan ngomong aneh-aneh deh."
"Ih, beneran. Aku sering banget denger para penulis horor sering di datengin. Bahkan sampai di teror, Karena si hantu nggak terima. Katanya mereka terlalu lancang mengusik mereka."
"Keterlaluan banget sih, kamu Aisyah."
"Lah, keterlaluan gimana?"
"Ya kamu keterlaluan! Udah bikin aku takut. Mana itu novel belum selesai." ujarnya dengan takut. Ia bergidik ngeri membayangkan jika benar kisah hantu yang ia jadikan novel tidak terima apabila kisahnya di angkat menjadi sebuah novel.
"Aku nggak bermaksud nakutin, Des. Tapi aku cuma share pengalaman para penulis horor lainnya. Kamu harus hati-hati kalau nulis novel horor. Makanya aku nggak pernah mau nulis novel begituan. Karena pernah sekali aku nulis novel genre horor, pas baru dua bab eh aku ngalamin sendiri hal-hal mistis. Sampai aku tanya nih sama temanku, penulis horor juga nih. Namanya Dian, dia penulis horor terbaik yang pernah aku kenal. Dia bilang, aku udah lancang nulis kisah dia. Dan si hantunya nggak terima. Ya udah, semenjak itu aku hapus tuh dua bab yang aku tulis. Semenjak itu, nggak ada lagi kejadian mistis yang aku alami. Dan semenjak itu juga, aku nggak mau nyoba lagi nulis horor. Kapok dong, aku." kata Aisyah seraya bergidik. Mengingat kembali hal mistis yang pernah ia alami ketika menulis novel horor.
"Ah tapi novel aku tanggung. Udah jalan sepuluh Bab, pembacanya juga udah banyak banget. Masak tiba- tiba harus aku hapus? Sayang banget, 'kan?"
"Kamu pilih mana, banyak pembaca atau di hantui seumur hidup?" tanya Aisyah dengan tatapan serius. Desy sahabatnya menimang dua hal itu dengan bingung. Ia sangat menyayangkan jika harus kehilangan banyak pembaca. Karena mencari pembaca itu tidaklah mudah dan lumayan sulit. Tapi jika novelnya tidak di hapus, ia tidak mau jika terus-menerus di teror oleh makhluk tak kasat mata. Ketika keduanya sedang mengobrol serius mengenai novel horor itu, tiba-tiba keduanya di kejutkan oleh suara seorang pria yang mengagetkan mereka.
"Aku di sini ...." lirihnya dengan suara horor. Sontak saja keduanya menjerit histeris, membuat semua pelanggan yang sedang berada di sana terkejut bukan main. Semua mata melihat ke arah mereka.
__ADS_1