
**Aku tersadar
Aku tenggelam sampai ke dasar
Napsu membutakan ku
Napsu menghancurkan ku
Napsu juga, membuat ku harus kehilanganmu
πΊπΊ
Happy reading**
Arzan pulang saat adzan subuh selesai berkumandang, ia berjalan dengan langkah gontai membawa tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau. Membawa harapan yang hampir tak bersisa. Ia belum menemukan istrinya, ia kehilangan wanita yang begitu mencintainya. Penyesalan menyesakkan jiwanya, membuat hatinya menjerit menangisi kebodohannya. Mengapa ia tak berpikir jika semua ini akan terjadi nantinya? Kenapa ia baru tersadar ketika semuanya sudah terlambat? Apakah kini ia benar-benar sudah kehilangan istri sebaik Aisyah?
Pria itu memencet bel rumah, Mbok Sumi yang baru selesai sholat pun segera berlari untuk membuka pintu. Mendapati majikannya yang datang, Mbok Sumi begitu senang. Ia menoleh ke belakang Arzan berharap ada Aisyah di sana. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya gerimis sisa semalam yang turun dengan sangat jarang.
"Tuan sudah pulang? Di mana nyonya?" tanya Mbok Sumi dengan wajah sedih. Bahkan masih terlihat wajah sembab dan kurang tidur dari asisten rumah tangga itu. Mbok Sumi tidak tidur semalaman semenjak kepergian Aisyah. Ia menunggu majikanya pulang, dan merasa sangat khawatir pada Aisyah karena ia sangat menyayangi Aisyah layaknya anak sendiri.
"Aisyah belum ketemu, Mbok." lirih Arzan penuh penyesalan. Mendengar hal itu membuat Mbok Sumi hampir menangis.
"Ya Allah. Kemana Nyonya pergi? Hujan turun dari semalam, nyonya pasti kedinginan di luar sana." wanita itu kini benar-benar sudah menangis. Melihat si mbok menangis membuat Arzan iba, ia mengusap pelan bahu Mbok Sumi dengan lembut. Melihat bagaimana sedihnya mbok Sumi atas kepergian Aisyah, penyesalan yang Arzan rasakan semakin besar. Aisyah wanita yang sangat baik, bahkan pada Mbok Sumi yang notabenenya hanya asisten rumah tangga saja ia begitu baik.
"Nanti Arzan akan mencari Aisyah lagi ya mbok. Arzan mau ganti baju dulu, setelah itu Arzan akan kembali mencarinya lagi." ujar pria itu. Mbok Sumi hanya mengangguk dengan Isak tangis tertahan. Arzan hendak pergi ke kamar tapi di cegah oleh Mbok Sumi.
__ADS_1
"Tuan, kalau saya boleh minta. Anda dan Nyonya jangan sampai berpisah, ya. Nyonya orang yang sangat baik, ia juga istri dan menantu yang baik. Anda tidak akan mendapatkan semua itu pada Wanita lain, tuan. Bawa Nyonya kembali ke rumah ini, Tuan." pinta mbok Sumi dengan penuh harap. Arzan pun hanya bisa mengangguk pelan, ia pun segera pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian sebelum mencari Aisyah kembali. Mbok Sumi segera menutup pintu utama, saat ia berbalik dirinya di kejutkan oleh kehadiran Dita yang sudah berdiri di belakangnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan dengan wajah yang marah.
"Astaghfirullah, ada apa non? Kenapa mengagetkan saya?" ucap Mbok Sumi seraya memegangi dadanya karena terkejut.
"Jangan ikut campur masalah majikan! Jangan karena Arzan baik sama mbok Sumi, jadi mbok bisa seenaknya saja mengatur rumah tangga orang! Kalau kak Arzan sudah nggak mencintai Kak Aisyah, ya jangan di paksa dong. Lagian biarin aja Kak Aisyah pergi, jangan khawatir! Pacarnya banyak, jadi dia pasti nginep di sana. Jangan sok peduli dan jangan sok tahu deh! Kak Arzan dan kak Aisyah itu nggak cocok! Biarkan kak Aisyah pergi! Jangan coba-coba mempengaruhi kak Arzan untuk mencari kak Aisyah lagi! si mbok itu cuma pembantu di sini! Jangan ikut campur masalah majikan! Cukup kerjakan apa yang seharusnya di kerjakan! Paham?!" Mbok Sumi beristighfar berkali-kali di dalam hati. Ia tak menyangka jika adik dari Aisyah begitu jahat dan licik. Mbok Sumi hanya menatap Dita dengan tak mengerti, ia menatap wanita yang ada di hadapannya dengan heran. Wanita ini adalah adik dari nyonya dari rumah ini, tapi dengan sangat tega malah merebut kakak iparnya sendiri. Mbok Sumi yak habis pikir dengan semuanya.
"Eh, ngerti nggak?!" hardik Dita dengan nada tinggi.
"Iya, non saya mengerti." Mbok Sumi terpaksa mengangguk dan menunduk.
"Ya udah kalau ngerti! Sekarang masak yang banyak, saya dan Kak Arzan mau sarapan. Jangan pakai lama! Saya udah lapar!" perintahnya seraya berlalu meninggalkan Mbok Sumi.
"Astaghfirullah, kenapa sikapnya sangat berbeda dengan nyonya Aisyah?" wanita setengah baya itu menggelengkan kepalanya melihat Dita yang berlalu menaiki tangga untuk naik ke lantai atas.
"Kasihan sekali nyonya Aisyah. Punya suami dan adik seperti itu. Tapi sebenarnya tuan Arzan itu baik, tapi Non Dita membawa pengaruh buruk bagi tuan. Dia benar-benar wanita ular! Jika sampai tuan menikahi perempuan ular itu, saya akan mengundurkan diri. Saya nggak akan bisa bekerja dengan perempuan jahat seperti dia." setelahnya Mbok Sumi segera menuju dapur, memasak untuk sang majikan.
"Maafkan aku, Aisyah. Semoga semuanya belum terlambat." gumamnya. Pikirannya menerawang jauh, ia masih mengenakan baju basah dan belum ingin mandi. Tiba-tiba sebuah tangan melingkari pinggangnya, memeluknya dengan posesif.
"Aisyah?"
Arzan berbalik dengan wajah berbinar, berharap jika yang memeluknya dari belakang adalah sang istri yang kini sedang berada di pikirannya. Tapi hatinya mendadak kecewa karena yang ia dapati bukanlah sosok lembut sang istri. Sosok yang ia rindu dan sosok wanita yang baik bak malaikat.
"Dita?" ia mengernyitkan keningnya, wajah yang semula berbinar berubah masam.
"Kok Aisyah, sih? Aku Dita, kak." gadis itu memajukan bibirnya, menatap kesal pada sang kakak ipar. Arzan melepaskan pelukan adik iparnya, lalu kembali berbalik membelakangi gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu ke kamarku?" tanya Arzan dengan dingin.
Dita memasang wajah kesal, ia pun segera berdiri di samping Arzan dengan wajah masam.
"Ya nyari kakak lah. Masak nyari mbok Sumi?" ketusnya seraya melirik pria yang ada di sampingnya.
"Ya ngapain kamu kesini? Saya lagi pengen sendiri."
"Kak, aku ke sini mau menghibur kakak. Aku di sini mau menemani kakak. Jangan terlalu di pikirin, dong. Nanti juga kak Aisyah pulang kalau udah puas sama pacar-pacarnya! Biasanya juga begitu, dia akan pulang setelah puas berkencan dengan banyak pria!" Arzan menoleh, menatap Dita dengan dingin.
"Berhenti menjelekkan Aisyah. Dia bukan wanita seperti itu!"
Dita terkejut, ia tidak menyangka jika kakak iparnya akan membela wanita itu.
"Kak, kenapa kakak bilang seperti itu? Dita hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Keluar sekarang, juga!"
"Apa?!" Dita menatap kakak iparnya dengan tidak percaya.
"Saya bilang, kamu keluar sekarang juga! Saya ingin sendiri."
"Tapi, kak."
"Keluar!" teriak Arzan dengan geram. Dita terpaksa pergi meninggalkan Arzan sendirian di balkon kamar. Ia begitu kesal dan marah karena telah di usir oleh Arzan. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal, menoleh sekali lagi pada pria yang berdiri membelakanginya.
__ADS_1
"Awas aja nanti. Aku akan membuat kakak kembali bertekuk lutut di kaki ku! Aku akan membuat kakak memohon untuk tidur denganku! Lihat saja nanti!" ujarnya dengan licik. Ia segera berlalu dengan rencana yang tersusun di kepalanya.