
Tak terhitung berapa banyak derai air mata yang turun
Tak tau berapa banyak hati ini merasa sakit
Meski begitu, aku akan bertahan sampai titik darah penghabisan
🌷🌷
Happy reading
Seorang wanita duduk di ranjang sembari memeluk kedua lututnya. Menatap lantai yang ada di hadapannya dengan nanar. Tak tahu seberapa banyak air mata yang telah di keluarkan. Wajahnya sudah sembab oleh air mata, masih terngiang dengan jelas kata-kata menyakitkan yang terlontar dari sang suami. Masih terekam jelas tatapan jijik dari suaminya kala jemarinya menyentuh tubuh pria itu. Mengapa semua terasa sangat menyakitkan? Setelah puas menikmati kesedihannya, ia segera melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kaki jenjangnya turun dari ranjang, menginjak lantai yang dingin. Melangkah keluar kamar mencari sang suami. Cukup lama ia berdiri di depan pintu ruang kerja Arzan. Menatap pintu itu dengan kesakitan yang teramat sangat. Ingin sekali rasanya ia membuka pintu yang berdiri kokoh di hadapannya, tapi ia mengurungkan niatnya dan berbalik menuju kamarnya kembali. Tapi belum sempat ia melangkah, indera pendengarannya menangkap suara yang aneh. Tubuhnya kembali berbalik, meletakkan telinga di daun pintu agar bisa mendengar suara itu dengan jelas. Ia mendengar ******* dan erangan antara pria dan wanita yang samar.
Deg ....
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tubuhnya bergetar hebat. Apa yang di lakukan oleh suaminya di dalam? A-apa dia sedang melakukan sesuatu bersama wanita di dalam sana? Tubuhnya lemas bak tak bertulang. Refleks, tangannya mengetuk pintu yang berdiri di hadapannya.
"Ma-mas, a-apa kamu di dalam?" tangannya pun tergerak mencoba untuk membuka handel pintu tapi pintu itu terkunci.
Tak ada sahutan dari dalam sehingga membuat dirinya semakin panik.
"Mas, buka pintunya mas! Kamu sama siapa di dalam?" suara Aisyah semakin keras. Di ikuti gedoran yang semakin kencang. Hatinya terasa sangat sakit membayangkan jika suaminya sedang bersama wanita lain di dalam sana. Wanita sangat panik, air mata turun begitu saja menuruni wajahnya.
"Mas tolong buka pintunya mas." ia memelas, memohon dengan sangat.
__ADS_1
Tak lama pintu itu terbuka, memperlihatkan suaminya yang menatapnya dengan marah. Dengan rambut acak-acakan serta hanya memakai celana pendek tanpa memakai baju.
"Kamu ngapain sih tengah malam gedor-gedor pintu kayak gitu? Ganggu orang tidur aja!"
"Ma-mas, ka-kamu sama siapa di dalam? Ka-kamu ngapain di dalam mas?" tanya Aisyah panik. Ia berusaha melihat ke dalam, tapi di halangi oleh Arzan. Ia berdiri tegak di ambang pintu menghalangi sehingga Aisyah tak bisa melihat apa-apa keadaan di dalam. Hanya gelap yang terjangkau di matanya.
"Kamu apaan sih? Aku itu ketiduran pas lagi nonton film. Kamu itu mikirnya apa?"
"Mas, tadi aku mendengar suara perempuan mas."
"Suara apa?"
"Su-suara perempuan dan laki-laki yang mendesah. Mas, katakan itu bukan kamu kan mas?"
"Kamu nggak bohong, 'kan mas?" tanya Aisyah dengan tatapan nanar.
"Terserah kamu mau percaya apa nggak. Kembali ke kamar kamu! Aku mau tidur besok mau kerja. Jangan berpikiran yang enggak-enggak! Kamu juga tidur. Jangan kebanyakan berpikiran negatif."
"Tapi, mas ...."
Belum sempat Aisyah menyelesaikan ucapannya, Arzan menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar sehingga membuat Aisyah harus puas dengan jawaban yang tidak memuaskan dari suaminya.
"Apa benar itu hanya suara film yang mas Arzan tonton?" lirih wanita itu seraya mengusap air matanya. Hatinya masih merasa tidak enak, tak tenang dengan segala pikiran buruk yang menguasainya. Ingin rasanya percaya dengan semua yang suaminya katakan, tapi hatinya menolak. Mengapa suaminya juga hanya bertelanjang dada tanpa mengenakan baju yang tadi di pakainya? Hatinya terus merasa tak tenang. Ia terpaksa menyeret kakinya menjauh dari ruangan itu, membawa kegamangan yang melanda dan enggan pergi. Sesekali kepalanya melihat ke belakang, melihat pintu yang berdiri kokoh memisahkan antara dirinya dan sang suami.
__ADS_1
🌷🌷
Satu jam sebelumnya saat Arzan tak lama memasuki ruang kerja, ia di kejutkan oleh kedatangan sang adik ipar. Tiba-tiba memeluk pria itu dari belakang, bersikap sangat agresif padanya.
"Dita ... Apa yang kamu lakukan?" Pria itu menoleh, mendapati wajah penuh senyum di wajah gadis itu.
"Ya menemui kakak lah. Ngapain lagi?" jawabnya santai tanpa beban.
"Iya, tahu. Tapi nanti kalau ketahuan Aisyah gimana?" pria itu sesekali melihat ke arah pintu yang tertutup.
"Ya gampang, tinggal cerain aja kok repot." katanya seringan kapas. Arzan mendelik, tak percaya dengan ucapan adik iparnya.
"Kenapa kamu ngomong begitu? Dia itu kakak kamu."
"Dia itu cuma kakak tiri. Lagian 'kan kalo kakak sama dia pisah, aku bisa jadi istri kakak. Istri kayak gitu kok masih aja di pertahankan? Harusnya kakak talak dia tepat di malam pertama." gadis itu melepaskan pelukannya, menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang yang ada di sana.
"Aku nggak bisa cerain dia." lirih Arzan seraya menatap kosong ke depan. Dita melotot, ia merasa cemburu dan tidak terima.
"Kenapa? karena kakak masih mencintai dia?" todong gadis itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Arzan mengalihkan pandangannya, menatap adik ipar yang sedang cemberut di depannya.
"Hubungan kami sudah sangat lama terjalin. Mencintainya? itu sudah pasti. Aku sangat mencintainya." lirih Arzan penuh luka di matanya. Memang benar adanya, ia masih sangat mencintai wanita itu. Wanita yang selama ini menemaninya dari nol. Masih teringat dengan jelas ketika perusahaannya mengalami kebangkrutan, wanita itu dengan sabar menemaninya. Bahkan ikut membantunya bangkit kembali hingga perusahaannya berkembang pesat seperti sekarang. Wanita itu, yang dengan sabar menghadapinya. Terkadang ia pun menyesali sikapnya yang bersikap buruk pada istrinya hanya karena masalah keperawanan. Ia seringkali merasa sikapnya sudah keterlaluan pada Aisyah. Tapi entah kenapa saat menatap wanita itu, bayangan malam pertama yang mengecewakan itu terlintas di pikirannya. Membuatnya kecewa dan sakit hati.
"Lalu, kalo kakak masih cinta sama dia kenapa kakak nggak Nerima masa lalunya? Kenapa kakak mempermasalahkan keperawanan kak Aisyah? Bukannya kalau cinta itu mau menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing?"
__ADS_1
Arzan terdiam, ia menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan luka. Apa yang di katakan adik iparnya memang benar. Harusnya memang seperti itu. Tapi entah mengapa dirinya malah bersikap sebaliknya. Meski sering di perlakukan buruk oleh Arzan, Aisyah tetap bersikap baik pada suaminya. Ia terus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Menyiapkan segala keperluan pria itu dengan ikhlas, berusaha menyiapkan yang terbaik bagi suaminya. Dan ia pun tak tahu mengapa dirinya malah terjebak dalam kubangan hubungan yang menyesatkan seperti ini.