
**Ketika rasa itu mulai tumbuh, tapi ia salah arah
Tak mungkin ku abaikan rasa yang menghantui
Tak mungkin ku korbankan cinta yang hadir tiba-tiba
Aku pasrah, aku mengalah
Berharap pada semesta
🌻🌻**
Happy reading
Arman duduk bersandar di kursi kerjanya dengan pikiran melayang. Seminggu sudah ia bekerja dengan pikiran yang tidak tenang. Teringat kejadian seminggu yang lalu ketika ia mengetahui bahwa dirinya dan sang adik ternyata jatuh hati pada wanita yang sama.
"Sebentar. Apakah wanita yang kakak maksud adalah Aisyah yang ini?" tanya Haris seraya menyodorkan ponselnya kepada Arman dan Mama Lita. Jari telunjuknya mengarah pada wanita yang tersenyum lebar mengenakan gaun putih bersama Desy sahabatnya. Jantung Arman seolah berhenti berdetak. Netranya melebar, menatap nanar pada Haris yang juga ikut sock. Arman mengangguk pelan sebagai jawaban. Melihat anggukan dari sang kakak membuat Haris menghempaskan tubuhnya dengan lemah.
"Ternyata kita mencintai wanita yang sama." kata Haris seraya menatap jauh ke depan. Tampak kesedihan terpancar dari matanya. Begitu pun Arman, ia tampak tak percaya dengan fakta yang ada.
"Apa benar kalian menyukai wanita yang ada di foto itu?" tanya Mama Lita pada kedua anaknya. Keduanya mengangguk, membenarkan apa yang ada di pikiran mamanya.
"Astaga. Apa yang telah terjadi? Mengapa semua ini bisa jadi begini?"
Semuanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Semenjak saat itu, hubungan Haris dan Arman merenggang. Keduanya tampak saling menghindar dan terlihat canggung. Tentu saja hal itu membuat sang Mama gelisah dan tidak tenang. Orang tua mana yang bisa tenang jika melihat kedua anaknya tak bertegur sapa selama satu Minggu?
Sore itu wanita separuh baya mendekati anaknya yang sedang bermain ponsel di ruang tamu.
"Apa mama boleh duduk?" tanya sang Mama pada anaknya. Pria yang sedang sibuk memainkan benda pipih yang ada di dalam genggamannya itu pun mendongak dan tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Duduk di sini, mah." kata Haris seraya bergeser dan memberi ruang untuk sang Mama agar duduk di sebelahnya. Ia menyingkirkan ponsel yang sedari tadi menemaninya, meletakkan benda itu ke atas meja transparan yang ada di hadapannya. Mama Lita tersenyum kecil, lalu duduk tepat di sebelah Haris.
Setelah duduk, ia meraih jemari anaknya ke dalam genggaman. Melihat wajah penuh kesedihan yang di tunjukkan oleh mamanya membuat Haris bertanya-tanya dan tidak tenang.
"Mama kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pria itu membelai lembut tangan mamanya.
"Mama mengkhawatirkan kalian berdua." kata Mama jujur. Ucapan sang Mama membuat pria itu menghela napas berat.
"Apakah kamu begitu sangat mencintai Aisyah?" tanya Mama Lita menatap manik hitam milik anaknya.
"Mengapa mama bertanya seperti itu?"
"Hanya memastikan."
"Haris sudah lama memendam perasaan pada Aisyah, Ma. Bahkan saat kami masih kuliah dan Aisyah belum menikah."
Mama Lita mengernyitkan dahi.
"Jadi, Aisyah itu seorang janda. Ia terpaksa bercerai karena suaminya kedapatan berselingkuh dengan adik tiri Aisyah."
sontak saja penjelasan anaknya membuat wanita yang mengenakan dress bewarna Sage itu terkejut. Ia menutup mulutnya yang terbuka.
"Astaga. Malang sekali nasib wanita itu." lirihnya sedih.
"Ya, nasib Aisyah begitu malang. Bahkan ketika baru saja ia kehilangan suaminya dia juga harus kehilangan ayahnya."
"Astaghfirullah. Mengapa cobaan terus datang silih berganti pada Aisyah?"
"Aisyah itu orangnya sangat baik dan lembut, Ma. Bahkan banyak yang menyukai dirinya saat di kampus. Tapi dia malah memilih pria brengsek itu dan menikah dengannya." kata Haris kesal.
__ADS_1
"Nak, apa kamu bisa merelakan Aisyah untuk kakakmu?" tanya Mama Lita penuh harap.
"Apa?!"
"Mengalah lah pada kakakmu. Kamu masih muda dan bisa mendapatkan yang jauh lebih baik. Kasihan kakak kamu, Nak. Lihatlah kemarin saya dia jatuh cinta. Sudah lama ia tidak tersenyum bahagia seperti itu semenjak di tinggalkan oleh Ayahmu. "
"Tapi, Ma."
"Tolonglah, nak. Kasihan kakak kamu baru pertama kali jatuh cinta tapi harus di patahkan. Mengalah lah sekali saja. Bukankah selama ini kakak kamu yang mengalah?" Haris menyutujui ucapan sang Mama. Dari kecil Arman selalu mengalah padanya perihal apapun. Ia tidak akan membuatnya menangis. Mengingat betapa bahagianya sang kakak saat jatuh cinta, membuat hatinya tersentuh. Apakah dirinya harus merebut kebahagiaan itu? Ataukah dirinya bisa merelakan wanita pujaannya pada sang kakak.
Di hari yang sama di depan sebuah pengadilan agama. Aisyah keluar membawa surat tanda perceraian antara dirinya dan Arzan. Sepasang suami istri yang telah resmi bercerai itu tak sengaja bertemu di depan gedung pengadilan agama. Keduanya saling tatap sebentar sebelum di tegur oleh adiknya yang sedang menggandeng Arzan dengan begitu posesif.
"Kenapa melihat Suami Dita seperti itu? Jangan mencoba menggodanya!" ujar Dita dengan wajah tak ramah. Melihat tingkah adiknya membuat Aisyah tersenyum kecut.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah sebelumnya kamu yang menggoda suami kakak mu sendiri?"
Dita terdiam. Ia kalah telak. Kata-kata Aisyah tepat mengenai hatinya.
"Sudahlah, ayo kita pulang saja." kata Arzan pada Dita.
"Sebentar, kak. Aku belum selesai dengan wanita ini."
"Apalagi? Hentikan semuanya. Jangan membuat malu di sini." kata Arzan seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak beberapa orang yang ada di sana sedang menatap ketiganya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Kak, aku hanya memperingati wanita ini agar tidak mencoba merebut kakak dariku."
"Astaga." keluh Arzan seraya mengusap wajahnya kesal.
"Dita ingatkan pada kakak, ya. Jangan pernah menggoda kak Arzan. Ingat! Kak Arzan itu sekarang suami Dita, jadi jangan pernah mendekatinya." ancam wanita itu penuh tekanan.
__ADS_1
"Silahkan ambil saja, Dit. Bukankah selama ini kamu memang selalu iri dengan apa yang aku miliki? Bukankah selama ini kamu selalu mendapatkan bekas -ku?" cibir Aisyah seraya menatap remeh pada adik tirinya.
"Kakak!" Dita kehabisan kata-kata, ia tidak bisa membalas ucapan Aisyah sehingga ia hanya bisa terdiam memendam kemarahan yang sebentar lagi akan meledak. Melihat situasi yang kacau, membuat Arzan segera menarik tangan Dita dan meninggalkan Aisyah seroang diri. ia tidak ingin menjadi tontonan gratis bagi mereka yang ada di sana.