
**Sebuah hubungan tak akan baik jika di paksakan
Setengah hati yang menjalani tidak akan tenang
Lebih baik melepaskan dari pada mempertahankan
🍂🍂**
Sesampainya di rumah, Arzan sangat murka pada Dita. Ia menarik lengan wanita itu dengan kasar.
"Lepaskan, kak. Kenapa kakak sangat kasar?!" keluh wanita itu seraya meronta, mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Arzan.
"Sini kamu! Kamu benar-benar sudah kelewatan! Aku akan memberikan kamu pelajaran." kata Arzan seraya menaiki tangga menyeret sang istri yang menurutnya benar-benar telah membuatnya naik pitam karena ulahnya.
"Kak, kenapa kamu membela kak Aisyah? Aku hanya mempertahankan kamu sebagai suami. Aku takut dia akan merebut kamu dari ku." cicit Dita seraya meringis. Ia merasakan pergelangan tangannya yang memerah dan perih. Arzan berhenti di tengah tangga, menatap marah pada istrinya.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu yang telah merebut aku darinya! Kamu yang selalu iri pada Aisyah! Harusnya kamu sadar diri, Dita!" teriaknya dengan amarah yang luar biasa. Baru beberapa waktu ini ia menyadari bahwa Dita adalah perempuan tidak baik. Ia baru menyadari jika Dita hanya memberikan pengaruh buruk untuknya. Bahkan rumah tangganya menjadi hancur berantakan karena adanya Dita.
"Apanya yang harus sadar diri, kak? Aku pantas mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan aku tidak ingin melihat kak Aisyah bahagia walaupun sedetik pun!" teriak wanita itu dengan pongah.
"Apakah hancurnya rumah tanggaku juga ada campur tangan kamu, Dita?"
__ADS_1
"Iya! aku sengaja datang ke rumah ini dan menggoda kakak. Asal kakak tahu, aku itu sudah lama memendam perasaan sama kakak. Tapi malah kak Aisyah yang harus menikah dengan kakak. Aku tidak terima! Aku berjanji akan merebut apapun yang seharusnya menjadi milik ku! Dan asal kakak tahu, Bapak mendadak meninggal itu juga karena aku! Aku tidak suka jika Kasih sayang Bapak sepenuhnya untuk kak Aisyah!"
Plaakk ....
Satu tamparan keras mendarat di wajah Dita. Wajah putih itu memerah. Dita memegangi pipi kanannya yang terasa perih dan panas. Ia menatap penuh kebencian pada pria yang menatapnya dengan jijik.
"Dasar perempuan tidak waras! Aku baru sadar bahwa aku menikahi wanita yang sangat jahat sepertimu! Aku ingin kita bercerai!" teriak Arzan dengan amarah yang meluap. Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut suaminya, membuat Dita mendelik tak percaya.
"Apa yang kakak katakan? Aku tidak mau bercerai! Kakak tidak boleh menceraikan aku!" teriak wanita itu tidak terima.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak punya istri jahat seperti kamu!"
"Aku tidak terima, kak. Aku sedang hamil! Kakak tidak boleh menceraikan aku." teriaknya tak terima. Ia mengejar suaminya yang kembali menaiki anak tangga menuju lantai atas. Wanita itu menarik lengan suaminya dengan kuat untuk mencegah Arzan dan memohon untuk merubah keputusan pria itu. Tapi Arzan yang begitu muak dengan Dita, segera mengibaskan tangan wanita yang bertengger di lengannya itu.
"Dita, bangun Dit!" ia mencoba membuat wanita itu bangun dari pingsan. Terus menepuk kedua wajah istrinya hingga Mamanya dan Mama Dita menjerit ngeri melihat Dita yang tergeletak di lantai dengan kepala yang terbentur dan mengeluarkan darah dari dahinya.
"Dita! Apa yang terjadi?" Mama Dita segera menghampiri anaknya. Mengguncang tubuh yang tak bergerak itu.
"Arzan, apa yang terjadi?" tanya Mama Arzan kebingungan.
"Dita jatuh dari tangga, Ma."
__ADS_1
"Astaga! Ayo kita bawa ke rumah sakit!"
Tanpa pikir panjang, Dita di bawa ke rumah sakit demi mendapatkan perawatan yang baik serta mengecek kandungannya. Mereka takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Dita dan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu.
Sesampainya di rumah sakit Dita langsung di berikan tindakan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Arzan cemas. Ia langsung bertanya pada dokter pria yang baru saja memeriksa Dita. Dokter yang memakai baju kebesarannya itu tersenyum ramah.
"Syukurlah tidak ada luka yang serius. Hanya cidera kecil di kepala."
"Bagaimana dengan anak kami?" tanya Arzan pada sang dokter. Ia juga merasa bersalah karena tak sengaja membuat Dita jatuh dari tangga. Apalagi di dalam perutnya sudah ada calon penerusnya.
"Anak? Maksud anda?" tanya Dokter itu dengan bingung.
"Ya maksud saya, istri saya sedang hamil. Jadi apakah kandungannya baik-baik saja?"
"Ya dok, menantu saya sedang hamil. Apakah kandungannya baik-baik saja?" tanya Mama Arzan khawatir. Begitu juga dengan Mama Dita yang hanya mengangguk sedari tadi.
"Maaf, tapi saya tidak menemukan bahwa ada janin di dalam perut pasien." sontak saja jawaban sang dokter membuat ketiga orang tersebut kaget bukan main.
"Apa anda salah, dok? Coba periksa lagi. Anda pasti salah." kata Mamanya Dita panik dan di dukung oleh anggukan Mama Arzan. Sementara Arzan hanya diam dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan. Apakah ia kembali masuk ke perangkap yang di buat oleh wanita ular itu?
__ADS_1
"Saya sudah memeriksa pasien dengan sangat hati-hati, Bu. Jadi saya sangat yakin, pasien tidak sedang hamil. Tidak ada janin di dalam perut pasien." jelas dokter. Kedua wanita setengah baya itu menutup mulutnya yang terbuka. Keduanya saling pandang dengan segala pikiran yang memenuhi isi kepala. Sementara Arzan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kebencian semakin besar dan tumbuh subur di hatinya pada wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.
Tanpa mengucapkan apapun, Arzan segera membuka pintu kamar rawat Dita. Ia masuk dan di ikuti oleh dua wanita yang masih sangat terkejut itu.