
Aku pasrah, bukan karena ku menyerah
Bukan pula karena kalah ataupun lemah
Aku tak kehilangan arah tapi karena ku menemukan arah
🌹🌹
Happy reading
"Pak," Aisyah menyentuh lembut tangan kiri ayahnya yang tidak di pasang infus. Ia duduk di sebuah kursi di sebelah ranjang rumah sakit. Menatap pilu pada ayahnya yang berjuang menahan sakit. Kedua mata yang semula tertutup itu kini terbuka, menatap anaknya dengan penuh sesal dan air mata. Pak Wisnu terkena Serangan jantung mendadak, sehingga ia di larikan ke rumah sakit.
"A-Aisyah ... Kamu pulang, Nak?" lirihnya hampir tak terdengar. Bulir bening itu turun tanpa bisa di cegah, tangan Aisyah terulur untuk menghapus air mata sang ayah.
"Iya, Pak. Aisyah pulang. Maafkan Aisyah karena sudah membuat Bapak sakit." ucapnya lembut. Pria yang sedang terbaring lemah itu menggeleng,
"Ini bukan salah kamu, Nak. Ini semua karena salah Bapak sendiri. Maafkan Bapak karena kamu harus mengalami hal menyakitkan di dalam hidupmu, Nak. Maafkan Bapak karena sudah menyebabkan kamu menderita. Ini semua salah Bapak." kata pria itu penuh sesal. Desy mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hatinya teriris melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ia merindukan sosok ayahnya yang telah tiada. Wanita itu mengelap sudut matanya yang berair.
"Ini bukan salah Bapak. Kenapa Bapak bicara begitu?"
Pria itu hanya menangis, tak bisa menjelaskan kesalahan yang telah di perbuat olehnya di masa lalu. Ia tak berani mengatakan jika penderitaan anaknya saat ini adalah karma atas perbuatannya beberapa tahun lalu. Ia menyesal, sangat menyesal. Kenapa nasib anaknya begitu malang? Kenapa anaknya harus merasakan di khianati oleh suaminya? Sakit. Rasanya sakit.
"Sudah, ya. Bapak jangan menangis terus. Aisyah baik-baik aja, kok. Maaf sudah membuat Bapak khawatir. Setelah ini, Aisyah akan pulang ke rumah mas Arzan." Mendengar penuturan anaknya, membuat Pak Wisnu menggeleng.
__ADS_1
"Jangan Nak. Jangan kembali lagi ke rumah itu! Segera urus perceraian kalian." kata Pak Wisnu sehingga membuat Aisyah dan Desy terkejut. Desy dan Aisyah saling tatap bingung.
"Apa maksud Bapak?"
"Bapak sudah tahu semuanya. Dan pria seperti dia tidak baik untuk kamu. Jangan pertahankan orang yang tidak bersyukur memiliki kamu. Banyak pria di luar sana yang lebih baik dari pada Nak Arzan. Selain itu ...." Pak Wisnu menggantung ucapannya, menatap tak tega pada anaknya. Ia ragu untuk mengungkapkan fakta yang dirinya pun baru mengetahui semuanya tadi. Akankah dirinya mengatakan semuanya pada Aisyah?
"Kenapa, Pak?" tanya Aisyah penasaran.
Pria itu menghela napas berat, memejamkan mata sebentar mengumpulkan sisa keberanian yang ia punya. Ia merasa tak sanggup untuk menambah luka di hati anaknya. Mengetahui perselingkuhan antara Dita dan Arzan saja cukup menyakitkan bagi dirinya dan putrinya. Apalagi jika tahu Dita sudah mengandung anak Arzan. Bagai luka yang di siram air garam, semakin perih tak tertahan.
"Dita ...."
Aisyah mengernyitkan keningnya, dirinya semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh ayahnya.
"Dita kenapa, Pak?"
Aisyah terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca, masih terasa sakitnya ketika mengetahui perselingkuhan suaminya. Masih jelas terekam di memori dengan semua adegan yang mencabik-cabik hatinya. Masih jelas terdengar suara erangan keduanya yang menikmati permainan demi permainan setiap malam. Bahkan dirinya menutup kedua telinganya dengan kuat agar tak mendengar ******* demi ******* di malam yang dingin. Yang ia lalui hanya seorang diri berteman guling. Semuanya ia simpan sendiri selama ini. Tak mudah baginya melewati semua ini, hingga hatinya menyerah. Ia tak bisa menahan semua sakit yang mendera. Dirinya memutuskan untuk pergi demi menjaga kewarasannya. Demi dirinya dan hatinya agar baik-baik saja. Tapi mengapa Ayahnya begitu mencegah agar dirinya tidak kembali pada suaminya? Apakah ayahnya mengetahui fakta yang lain? Segala pertanyaan berkeliling di kepalanya. Penuh teka-teki yang belum bisa di pecahkan olehnya.
"Nak, apakah kamu sudah mengetahui sesuatu?" tanya Pak Wisnu hati-hati.
"Sesuatu apa, Pak? Bapak jangan terlalu banyak bicara dulu, ya. Bapak belum sembuh benar. Lebih baik Bapak banyak-banyak istirahat." bujuk Aisyah. Ia sangat khawatir dengan keadaan sang Ayah yang terlihat memprihatinkan. Pria yang sedang terbaring lemah itu menggeleng, ia tidak bisa istirahat dengan tenang.
"Ini soal Dita,"
__ADS_1
"Ada apa, Pak? Dita kenapa?" tanya Aisyah.
Pria itu kembali menghela napas berat. Ragu tak juga mau hilang dari hatinya.
"Bapak mohon, kamu harus ikhlas dan banyak bersabar. Bapak yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini. Lepaskan Nak Arzan, relakan dia untuk Dita." Apa Bapak begitu menyayangi Dita? sehingga memintaku untuk melepaskan Mas Arzan dan merelakan untuk adik tirinya? Hatinya terluka, ia menganggap bahwa sang ayah lebih menyayangi sang adik tiri.
"Apa Bapak begitu menyayangi Dita sehingga meminta Aisyah melepaskan Mas Arzan?" bulir bening itu turun dengan mulus. Betapa menyakitkan baginya mendapat luka yang begitu perih dari ayahnya sendiri. Ia menatap ayahnya tak percaya. Pak Wisnu segera berucap dengan terburu-buru.
"Tidak, Nak. Jangan salah paham dulu,"
"Lalu? Apa yang Bapak maksud? Bapak lebih setuju jika mereka bersama? Apakah harus kembali mengalah seperti sebelumnya?" wanita itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan sang ayah.
"Dari kecil aku harus mengalah karena dia selalu merebut mainan Aisyah! Apapun yang Aisyah punya, Dita juga selalu menginginkannya. Bahkan sampai dewasa pun, dia juga menginginkan Suami Aisyah. Setelah ia merebut kasih sayang Bapak, sekarang dia juga merebut cinta Mas Arzan! Apa Aisyah begitu tidak pantas untuk bahagia? Apakah kebahagiaan Aisyah memang pantas untuk Dita? Kenapa Pak? Kenapa dunia begitu tidak adil? Kenapa Aisyah di takdirkan mengalah pada Dita? Apakah Aisyah memang seharusnya tidak lahir ke dunia ini? Mengapa Dunia begitu kejam pada Aisyah? Apa salah Aisyah, Pak?" jerit Aisyah dengan suara serak. Dadanya terasa sesak, hatinya begitu pilu mendapatkan kekejaman dunia yang tidak ada habisnya. Jika dulu ia selalu mengalah pada adiknya, apakah sekarang ia juga harus mengalah?
"Maafkan Bapak, Nak. Maaf karena Bapak sudah membuat hidup kamu sulit. Maafkan Bapak," lirih pria itu penuh sesal. Aisyah berdiri, ego dari kesakitan yang menderanya membuatnya semakin terluka.
"Jika memang itu mau Bapak, baiklah. Aisyah akan mengurus perceraian kami dan merelakan Mas Arzan untuk anak kesayangan Bapak! Silahkan ambil semua apa yang Aisyah punya. Berikan semuanya pada Dita! Setelah itu, Aisyah akan pergi jauh." ujarnya seraya berdiri.
"Bukan begitu, Nak. Tolong dengar penjelasan Bapak. Ini semua bukan karena rasa sayang Bapak pada adikmu. Tapi karena Dita ...."
"Kenapa Pak? Karena bapak tidak tega melihatnya menangis, kan? Karena Bapak tidak suka melihatnya bersedih, kan? Kenapa Pak? Kenapa Bapak selalu mementingkan kebahagiaan Dita di atas segalanya? Bahkan Bapak dengan tega menukar kebahagiaan Aisyah anak kandung Bapak demi Dita yang notabenenya adalah anak tiri Bapak!"
"Silahkan ambil, Pak. Jika Dita meminta nyawa Aisyah pun akan Aisyah berikan sekarang juga. Asalkan kalian semua bahagia!" teriaknya dengan keras. Ia lelah, ia benar-benar sudah lelah dengan semua drama keluarga yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Aisyah, Dita hamil." lirih sang Ayah dengan derai air mata yang deras turun. Bagai tersambar petir, Aisyah terkejut bukan main. Bahkan kakinya bagai tidak memijak bumi. Ia hampir saja roboh jika Desy tidak segera menangkap tubuhnya.
"Maafkan Bapak. Untuk terakhir kalinya, relakan Arzan untuk Dita." mohon sang Ayah dengan hati penuh luka.