Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 42


__ADS_3

Segenggam luka yang ku bawa


Mencengkram kuat perih yang menyiksa


Semua cinta telah sirna


Berbalut sepi di sertakan luka


🌷🌷


Happy reading


"Mengapa anda melakukan semua ini pada menantu anda sendiri? Apa yang menyebabkan anda berbuat seenaknya hingga melukai anak saya!" teriak histeris wanita yang menjadi besan pak Wisnu. Wajah cantik yang di poles make up itu sudah basah oleh air mata. Dirinya tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Pak Wisnu terhadap Arzan.


"Saya melakukan semua ini karena dirinya sendiri. Saya tidak mungkin melakukan sesuatu jika tidak ada penyebabnya. Tanyakan sendiri pada anak anda!" ujar Pak Wisnu menatap tajam pada besannya.


"Bagaimana saya bisa bertanya pada anak saya sementara keadaannya terluka parah yang di sebabkan oleh anda! Anda yang sudah membuat anak saya seperti ini!" Wanita itu benar-benar tidak terima. Pria itu mencoba untuk tenang, menguasai emosi yang sejak tadi mengendalikan dirinya.


"Apakah anda melihat keadaan Dita dan Anak anda? sekiranya anda bisa menebak apa yang telah terjadi pada keduanya. Apakah yang mereka lakukan itu pantas atau tidak, anda bisa menilai sendiri?"


Ibu mertua Aisyah menatap anaknya yang sedang terbaring lemah dengan tubuh bagian atas terbuka, kancing celana yang tidak tertutup sempurna bahkan nyaris tidak berada di tempatnya lagi. Matanya beralih pada Dita, adik dari menantunya itu tidak jauh berbeda dengan anaknya. Wanita itu hanya mengenakan bra serta ****** *****, di bagian leher serta dadanya penuh bercak merah. Tanpa di jelaskan pun semua orang akan tahu apa yang terjadi. Wanita itu menggeleng, anaknya tidak mungkin seperti ini. Ia memang lebih menyukai Dita dari pada Aisyah, tapi ia tidak menyangka jika anaknya malah bermain api dengan adik iparnya sendiri. Semua ini akan menjadi aib dan sangat memalukan. Serta akan mencoreng nama baik keluarga besarnya. Jika sampai ayahnya mengetahui hal ini, ia tidak akan sanggup membayangkan betapa marahnya beliau.


"Semua ini tidak benar, bukan?" tanya wanita itu pada Dita yang tidak berhenti menangis di sebelah Arzan.


"Jawab Dita! Apa benar jika kalian berdua telah melakukan hal terlarang itu?!" tanya Mama Arzan dengan menahan marah.


"Ka-kami saling mencintai, Tante. A-aku sangat mencintai kak Arzan." ujarnya dengan tangis yang semakin menjadi. Bagai di pukul oleh palu, kepala Mama Arzan terasa sangat sakit. Ia memegangi kepalanya dengan sebelah tangannya. Tubuhnya bergetar, lemas terasa tak bertulang. Jika berita ini sampai terdengar oleh kakek Arzan, maka tamatlah riwayat anaknya.

__ADS_1


"A-apa yang kalian lakukan? Kenapa? Ke-kenapa bisa seperti ini?" tubuhnya tak bisa lagi berdiri tegak, ia berpegangan pada tembok yang ada di sebelahnya. Wanita itu tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi.


"Bagaimana? Apakah anda akan tetap menyalahkan saya dengan apa yang telah saya lakukan? Bahkan jika saya membunuh anak anda pun tidak masalah. Dia memang pantas mati dan tidak pantas lagi untuk hidup!" ucap Ayah Aisyah dengan marah. Ia menatap menantunya dengan geram. Mama Arzan menoleh, menatap tidak suka pada besannya.


"Jangan berbuat semena-mena! Anda tidak berhak menghakimi orang lain! Saya juga tidak akan tinggal diam! Saya akan melaporkan anda ke pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan! Saya tidak terima!"


Ayah Aisyah tersenyum kecut,


"Silahkan! Saya tidak takut! Dan tolong anda katakan pada anak anda, bahwa dia harus menceraikan Aisyah! Dan tinggalkan Dita!" mendengar hal itu, Dita mendelik. Ia menggeleng dengan cepat.


"Apa maksud Bapak? Kami saling mencintai! Suruh saja mereka bercerai dan jangan menyuruh kak Arzan meninggalkan Dita!" jeritnya.


"Apa yang kamu harapkan dari pria brengsek ini, hah? Dia saja tega mengkhianati istrinya, apalagi kamu? Ayo kita pulang ke rumah! Pakai pakaian kamu dengan benar dan segera tinggalkan rumah terkutuk ini!"


"Tidak, Pak. Dita tidak bisa meninggalkan kak Arzan! Dita dan kak Arzan harus menikah!"


"Jangan membantah!"


Bagai di sambar petir di siang hari, semua yang ada di sana melotot sempurna.


"A-apa katamu? A-anak? Ka-kamu hamil?" tanya Pak Wisnu kaget. Dita hanya mengangguk lemah sembari menunduk sementara Arzan sudah tidak sadarkan diri dari tadi.


"Astaghfirullah ya Allah, cobaan apa ini?" keluh Pak Wisnu memijit pelipisnya yang tak berhenti berdenyut sedari tadi.


"Kamu hamil?" tanya Mama Arzan pada Dita. Dita Kembali mengangguk dengan raut wajah yang sedih.


"Iya, Tante. Makanya tolong, jangan suruh Kak Arzan menjauhi Dita. Dita sedang mengandung anaknya." ia memohon.

__ADS_1


"Kalian benar-benar ...." Pak Wisnu memegangi dada kirinya yang tiba-tiba terasa sakit, membuatnya susah bernapas apalagi meneruskan kata-katanya. Hingga detik berikutnya tubuhnya jatuh ke lantai. Pria itu jatuh pingsan tak sadarkan diri.


🌷🌷


Aisyah berlarian di koridor rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat panik dengan air mata yang berderai membasahi wajahnya. Di belakangnya ada Desy, yang setia menemaninya. Ketika sampai di ruangan tempat ayahnya di rawat, ia melihat adik tirinya bersama dengan Sang Ibu tiri berada di luar ruangan. Mereka menatap serempak pada Aisyah yang datang, menatap penuh kebencian dan ejekan. Ibu tirinya berdiri, menghampiri Aisyah.


"Oh, saya pikir sudah tidak peduli lagi dengan Bapak kamu! Masih berani datang kesini setelah menyebabkan Bapak masuk rumah sakit?" wanita itu menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Menatap pongah pada anak tirinya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf, Bu. Saya ingin menemui Bapak." ujarnya seraya menatap pintu ruangan yang tertutup.


"Mau ngapain? Mau mencabut nyawa Bapak kamu?"


"Saya mohon, berikan saya jalan. Saya ke sini bukan mau cari ribut. Saya hanya ingin menemui Bapak!" Aisyah segera menerobos, mengabaikan teriakan penuh makian dari sang Ibu tiri di ikuti oleh Desy.


"Benar-benar kurang ajar anak itu! Awas aja dia!"


"Udahlah, Bu. Jangan marah-marah terus. Mendingan Ibu sekarang siapin baju buat aku nikah sama kak Arzan. Mimpi Ibu punya menantu kaya bakal terwujud sebentar lagi." celetuk Dita seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu benar! Kamu memang pinter. Tapi Ibu masih nggak habis pikir, bisa-bisanya kamu malah main tempat terbuka." wanita itu kembali duduk di sebelah anaknya.


"Ya kak Arzan udah nggak tahan, mau gimana lagi? Lagian, Aku harus berterima kasih sama Ibu. Karena berkat obat yang Ibu berikan, rencanaku berhasil! Dan sebentar lagi kak Arzan akan menceraikan Kak Aisyah dan sebentar lagi dia akan menikahi Dita!"


"Jangan ragukan Ibu kamu ini. Masalah seperti itu, kecil! Ibu udah sangat berpengalaman! Jam terbang Ibu itu udah tinggi banget. Asal kamu mau menuruti kata Ibu, maka kamu aman!"


"Ibu benar. Nggak sia-sia aku merebut suami kakak aku sendiri. Tapi aku belum tenang jika mereka belum resmi bercerai dan kak Arzan belum menikahi aku. Kak Arzan sangat mencintai kak Aisyah. Aku takut jika Kak Arzan akan menolak untuk bercerai dan menikah denganku."


"Udahlah, percaya sama Ibu! Akan Ibu pastikan mereka akan bercerai dan Arzan akan menikahi kamu! Percayakan semuanya pada Ibu." wanita itu menepuk dada, wajahnya sangat sombong.

__ADS_1


"Iya, Iya. Dita percaya sama Ibu. Karena sejauh ini rencana Ibu selalu berhasil. Terima kasih, ya Bu. Sudah membantu Dita untuk mendapatkan Kak Arzan." Dita memeluk Ibunya.


"Sama-sama sayang. Semuanya akan Ibu lakukan demi kebahagiaan kamu." wanita itu mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Keduanya tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2