
**Happy reading
🌻🌻**
Arzan tak menghiraukan panggilan dari Dita di kamar mandi. Bahkan pria itu malah memejamkan mata agar segera tertidur. Ia berbaring di ranjang dengan satu tangan di atas kepala. Jauh di relung hatinya ia sangat merindukan sang mantan istri yang dulu selalu menempati tempat tidur yang sama. Kenangan demi kenangan bergulir di dalam ingatannya, membuat benih kerinduan tumbuh semakin subur.
"Kakak kenapa malah tidur, sih? Dita 'kan minta di ambilin handuk." Arzan merasakan guncangan di tubuhnya. Ia terpaksa membuka mata, mendapati adik ipar yang kini telah berganti status menjadi istri. Sungguh aneh memang, bahkan sedikit gila. Tidak. Ini benar-benar sudah gila. Wanita yang awalnya menjadi adik ipar, kini malah menjadi istrinya.
"Kenapa? Bukankah kamu bisa mengambil sendiri?" Pria itu segera duduk menyandarkan tubuhnya yang lelah di kepala ranjang. Menatap enggan pada wanita yang memakai handuk di depannya. Kepalanya tertutup handuk kecil, tampaknya Dita baru saja keramas.
"Ih kakak kok gitu, sih? Apa nggak boleh Dita manja sama sendiri?" protesnya seraya mengerucutkan bibir. Arzan menatapnya semakin enggan, pria itu menatap ke arah lain. Kepalanya terasa pusing karena menghadapi Dita yang terlalu banyak tuntutan. Tidak seperti Aisyah yang lebih dewasa dan mampu mengerti dirinya. Lagi-lagi Aisyah yang ada dalam hidupnya. Sepertinya keputusan Arzan menikahi adik iparnya adalah keputusan yang salah.
"kak, aku tuh lagi ngomong. Kok diem aja?" ia sudah berkacak pinggang.
"Aku capek. Pengen istirahat." jawab Arzan singkat.
"Kok kakak begitu, sih sama Dita? Padahal 'kan ini adalah malam pertama kita!" Dita mengingatkan.
"Sudahlah, lupakan! Lagi pula kita sudah melewati malam pertama beberapa waktu lalu." kata Arzan seraya merebahkan kembali tubuhnya yang lelah. Ia menarik selimut, sengaja menutupnya sampai ke kepala.
__ADS_1
"Itu 'kan beda, kak. Ayo kita lakukan lagi! Jangan tidur!" teriak Dita seraya menarik selimut suaminya. Kesal dengan kelakuan Dita yang kekanak-kanakan, membuat Arzan kesal bukan main. Pria itu segera membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dan duduk kembali, menatap Dita dengan marah.
"Bisa nggak sih kamu ngertiin aku, sebentar aja? Aku juga capek pengen istirahat." kata Arzan dengan kesal.
"Kakak berani bentak aku?" wanita itu melotot sembari berkacak pinggang.
"Siapa yang membentak? aku cuma mau kamu mengerti kondisi aku, Dita." ujar Arzan dengan geram. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Kondisi apa sih kak? Gitu aja capek? Gitu aja mau istirahat. Belum ngapa-ngapain udah capek!"
"Kamu itu maunya apa sih, Dit? Kenapa selalu memancing emosi ku? Harus sabar bagaimana lagi aku menghadapi kamu, hah? Aku capek sama tingkah laku kamu yang terlalu banyak nuntut! Aku harus begini, harus begitu."
Arzan memejamkan mata, ia benar-benar sangat emosi. Kedua tangannya terkepal menahan marah.
"Apa? Kakak mau apa? Mau marah? Atau mau ngamuk? Ya udah marah aja! Ngamuk aja!" tantang Dita seraya berkacak pinggang. Beberapa kali Arzan mencoba untuk menetralkan amarah yang seolah akan meledak, tapi ia mencoba untuk menahannya.
Pria itu turun dari ranjang dan melangkah meninggalkan Dita seorang diri di kamar pengantin mereka.
"Kak, mau kemana? Kakak jangan pergi kemana-mana! Ini malam pertama kita, kak!" teriak Dita tidak terima. Bahkan wanita itu mengejar pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu sampai keluar kamar. Tampak Arzan memasuki ruangan di sebelahnya tepatnya ruang kerjanya. Pria itu menutup pintu dengan kasar, sementara Dita mengikutinya dan menggedor pintu minta di buka kan.
__ADS_1
"Kak, buka pintunya! Jangan seperti ini! Kakak tidak boleh meninggalkan aku di malam pertama kita!" teriaknya marah. Wajahnya telah memerah menahan marah. Saat itu Datang Mama Arzan, ia menatap menantu barunya dengan heran.
"Kamu kenapa teriak-teriak, sih Dit? Arzan mana?" tanya wanita itu sambil celingukan ke sana kemari.
"Di dalam, Ma. Anak Mama itu kenapa sih, udah tahu kita baru menikah. Eh malah tinggal di tidur."
"Mungkin Arzan capek, Nak." sahut Mama Arzan Sembari berbalik.
"Capek apa sih Ma? Begitu aja capek. Apa maksudnya dia ninggalin aku saat malam pertama? Aku benar-benar nggak terima kalau di perlakukan seperti ini." ucap Dita dengan sangat marah.
"Ya kamu sabar dong,"
"Sabar terus. Emangnya aku nggak boleh ngungkapin apa yang ada di dalam hati aku? Jangan lebay, deh ma."
"Astaga! Kamu berani sekali membentak saya?!"
"Kenapa nggak. Suka- suka aku la
lawan tuh ! Mama jangan ikut campur deh. Mendingan mama urus diri?" Dita marah dan segera meninggalkan mertuanya yang sedang mengelus dada.
__ADS_1
"Benar-benar tidak punya sopan santun!" umpat Mama Arzan