
**Wahai hati ....
Tak perlu lagi banyak berharap
karena hanya menimbulkan rasa sakit
Tak perlu lagi menaruh cinta karena hanya akan membuatmu kecewa
🌹🌹
Happy reading**
Aisyah menatap pria yang baru keluar dari balik pohon, berdiri sambil menguap tak jauh dari tempatnya. Pria itu mengenakan kaos oblong bewarna putih dengan celana pendek sebatas lutut. Rambutnya tampak sedikit acak-acakan, tampak menguap beberapa kali seraya menggaruk kepalanya dan terlihat sangat mengantuk.
"Ka-kamu si-siapa?" tanya Aisyah tergagap. Ia menatap pria itu dengan waspada. Terlebih lagi pria dengan jambang dan kumis tipis itu berjalan semakin dekat dengannya.
"Aku?" pria itu menunjuk dirinya sendiri dan di balas anggukan oleh Aisyah. Pria itu tertawa kecil, membuatnya semakin terlihat tampan dengan lesung pipi yang ada di kanan kiri pipinya. Bahkan Aisyah sempat terpana menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya sore itu. Wanita itu buru-buru tersadar karna takut akan terpesona jika terus menatapnya.
"Bukan siapa-siapa, cuma gembel yang kebetulan beristirahat di bawah pohon itu. Dan kau ...." ia menunjuk Aisyah, menatap wanita itu dengan tatapan menakutkan sehingga Aisyah mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
"A-apa? Ke-kenapa aku?" tanya Aisyah dengan takut.
"Kau mengganggu tidur ku! Padahal aku baru saja terlelap, tapi kau malah datang teriak-teriak seperti orang gila." gerutu pria itu kesal. Aisyah mendesis,
"Hais ... tega sekali dia mengatai aku orang gila! Bukannya dia yang seperti orang gila? Lihat saja tampilannya, benar-benar mirip dengan orang gila!" ia menatap kesal pada pria yang kini juga menatapnya.
"Aku mendengarnya! Jangan mengumpat ku seperti itu! Lagi pula mana ada orang gila setampan ini." sontak saja ucapan pria itu membuat Aisyah tergelak.
"Astaga! Kau narsis sekali!"
"Apanya yang narsis? Seluruh dunia juga tahu kalau aku memang tampan. Jangan mencoba membantah, karena semua itu memang kenyataan!"
"Astaga!" Pria itu mendesah.
"Mengapa kau keluar dari balik pohon itu? Apa kamu hantu penjaga pohon?" tanya Aisyah heran. Pasalnya tadi ketika dirinya datang sebelum berteriak, ia sudah memastikan bahwa tidak ada siapapun di sana. Wajar saja jika dia terkejut ketika pria itu tiba-tiba keluar dari balik pohon besar itu.
"Apa? Sekarang kau mengatai aku hantu?" pria itu menatap Aisyah dengan tak percaya. Aisyah mengangguk ragu, menatap waspada pada pria asing yang ada di hadapannya.
"Kau benar-benar perempuan aneh! Setelah mengatai aku orang gila, sekarang mengatai aku hantu!" pria itu bersungut-sungut.
__ADS_1
"Ya karena kamu tiba-tiba saja keluar dari sana! Mengagetkan saja!"
"Kau yang mengagetkan orang! Tiba-tiba teriak seperti orang gila. Mengganggu ketenangan orang lain. Kau benar-benar mengacaukan suasana sore yang tenang."
"Kau juga mengganggu teriakan ku! Kau mengganggu curhatan ku pada alam. Kau merusak moments curhat ku!" Aisyah mendelik, balik menyalahkan pria itu seraya berkacak pinggang.
"Astaga! Rupanya dia yang gila. Mana ada manusia yang curhat dengan alam? Apa kau kehabisan manusia sehingga harus curhat dengan alam? teriak-teriak tidak jelas membuat polusi suara. Kau benar-benar perempuan aneh!"
"Kau berani mengatai aku perempuan aneh? Wah kau cari ribut!"
"Kau yang duluan mencari ribut! teriak tidak jelas dan mengganggu tidur orang saja!"
"Arrghh ... Terserah! Kepala ku tambah pusing. Lebih baik aku pergi saja dari pada berdebat dengan orang gila seperti mu!" Aisyah berbalik, ia beranjak pergi meninggalkan pria asing itu.
"Astaga! Dasar perempuan aneh!" umpat pria itu kesal.
"Dasar pria gila!" Balas Aisyah seraya menengok sebentar ke belakang lalu kembali melanjutkan langkahnya, menjauh dan segera keluar dari taman.
"Ya Tuhan. Mimpi apa aku tadi malam? Bisa-bisanya aku bertemu perempuan aneh. Tapi kalau di lihat-lihat, cantik dan manis juga." ujarnya seraya tersenyum. Tapi detik selanjutnya ia membantah ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Astaga! Bisa-bisanya aku memuji wanita aneh itu!"