Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 29


__ADS_3

**Meski merasa letih, tak 'kan ku biarkan aku merintih


Meski sulit, tak 'kan pernah aku menjerit


Berusaha sekuat hati untuk mengemas kembali hati yang berserakan


Sekuat hati akan bertahan hingga nanti sampai runtuh benteng pertahanan


🌼🌼


Happy reading**


Arzan membuka pintu kamarnya yang tertutup, baru saja kakinya sampai di dalam kamar ia di kejutkan oleh suara sang istri.


"Sudah selesai?"


Arzan terkejut, ia mencari sumber suara. Mendapati sang istri yang sedang duduk menatapnya dari bibir ranjang.


"Ma-maksudnya?" Pria itu tergagap. Ia menatap Aisyah dengan gugup. Wanita yang sedang menatapnya itu turun dari ranjang, berjalan menghampirinya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Aku hanya bertanya apa sudah selesai, tapi kenapa kamu tampak gugup mas?"


"Ah ... Enggak. Si-siapa yang gugup?" Arzan mencoba menenangkan ritme jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.


"Benarkah?"


"I-iya. Memangnya kamu bertanya apa tadi?"


"Aku hanya bertanya, apakah Mas udah selesai ngobrol sama Dita? Sampai-sampai hampir satu jam aku menunggu di kamar. Airnya sudah aku siapkan dari tadi, tapi mas nggak muncul-muncul."

__ADS_1


"Ah iya, Maaf. Aku hanya menasehati dia karena cemilan yang ia makan berantakan."


Aisyah hanya ber-oh tanpa suara.


"Aku mau mandi dulu, badanku udah lengket."


"Ya, mandilah. Jangan lupa doa'-nya." ucap Aisyah datar. Pria yang ada di hadapannya hanya mengernyitkan dahi tak mengerti. Detik selanjutnya ia memilih untuk mengabaikan istrinya yang tampak misterius. Ia segera memasuki kamar mandi, mengguyur tubuhnya yang terasa lengket. Pergulatan panasnya di sore hari benar-benar menguras tenaganya. Bahkan bau bekas percintaan yang khas masih tercium di sekujur tubuhnya. Ketika sedang membersihkan tubuh bagian atasnya, ia tak sengaja melihat tanda merah yang tercetak jelas di dadanya sehingga membuatnya kesal.


"Sudah aku bilang jangan membuatnya, tapi masih bandel. Jika Aisyah melihatnya, bagaimana?" rutuknya seraya mencoba menggosok pada bagian itu, tapi sia-sia karena tanda merah itu tidak akan hilang selama beberapa hari.


Sementara itu, Aisyah berdiri di depan jendela. Menatap kosong pada pemandangan di luar sana. Jika biasanya ia akan antusias dengan bunga mawar yang bermekaran di bawah sana, tapi tidak dengan sore ini. Langit tampak kemerahan menandakan siang akan berganti malam. Senja mulai menyapa, bulan tampak malu menampakkan diri seutuhnya. Bulir bening tak sengaja berulir begitu saja membasahi wajahnya, tak ada senyum yang tersisa dari bibir itu.


Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, dengan cepat ia mengusap air matanya. Tak ingin terlihat lemah di depan sang suami, sehingga ia harus menutupi apa pun yang ia rasakan sebaik-baiknya.


Aisyah membiarkan suaminya mengenakan pakaian, setelah sekiranya selesai ia baru menghampiri sang suami. Melirik sebentar ke arah tumpukan baju yang tadi di siapkan. Tak tersentuh karena suaminya mengenakan pakaian yang ia pilih sendiri dari lemari. Tanpa banyak komentar ia segera mengambil pakaian itu, meletakkan ke lemari dan menatanya dengan rapi. Setelah selesai, ia meletakkan handuk yang ada di atas ranjang bekas suaminya ke tempatnya. Arzan yang melihat itu pun mengangkat alisnya heran. Keningnya tampak berkerut dalam, karena jika biasanya Aisyah akan mengomel jika melihat handuk bekas berserakan di ranjang. Pakaian yang ia siapkan tidak di kenakan oleh Arzan. Masih terngiang di telinganya Omelan sang istri yang kini tak pernah di dengarnya lagi.


"Mas, kalo selesai mandi itu handuknya jangan berserakan dong. Kan jadi basah seprey-nya." Aisyah terus mengomel sembari meletakkan handuk bekas pakai suaminya. Ketika melihat suaminya tidak memakai pakaian yang ia siapkan, ia juga akan tampak kesal dan mengomel.


"Sayang, baju itu terlalu panjang. Aku gerah jika mengenakannya." Arzan beralasan.


Jika sudah di peluk seperti itu, Aisyah akan luluh dan berhenti mengomel. Senyumnya akan terbit menggantikan kekesalannya. Tapi itu semua sudah tidak ada lagi. Tidak ada istrinya yang mengomel hanya karena handuk yang lupa ia letakkan setelah mandi. Tidak ada lagi Omelan hanya karena ia tak memakai pakaian yang sudah di siapkan. Istrinya sudah berubah, lebih banyak diam dan tak secerewet saat baru menikah. Senyum ceria itu tak ada lagi, hanya senyum pahit yang terpaksa. Dan sebenarnya pria itu merindukan Omelan Aisyah dan senyum ceria itu. Apakah ia sudah sangat menyakiti hati sang istri? Apakah sikapnya benar-benar sudah melukainya? Rasa bersalah kini memenuhi hatinya.


"Kamu mau makan sekarang?" tanya Aisyah.


"Nanti aja, aku masih capek."


"Ya jelas capek, 'kan abis pulang kerja malah ada kerjaan tambahan." sindir wanita itu seraya menutup jendela kamar. Arzan kembali mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Biar aku pijit, ya?" Aisyah mencoba menawarkan diri.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku hanya perlu tiduran sebentar."


"Jelas tidak perlu, karena sudah di pijit tadi 'kan?"


"Maksud kamu apa Aisyah? Aku capek dan kamu berbicara nggak jelas juntrungannya."


"Istirahatlah, aku akan menyiapkan makan malam." katanya seraya berlalu.


"Apa sih maksud dia? Kenapa dia berbicara seolah menyindir?" rutuknya saat tubuh istrinya sudah menghilang di balik pintu.


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan rasa lelah yang menyerang.


Sementara itu Aisyah tidak langsung ke bawah untuk menyiapkan makan malam. Ia pergi ke kamar Dita yang berada di ujung lantai, mengetuk pintu kamar dan terdengar suara Dita yang menyuruh masuk. Aisyah masuk dan mendapati sang adik yang sedang berbaring di atas ranjang. Gadis itu melihat kakaknya dengan malas.


"Kakak? Ngapain kesini?"


"Kamu nggak mandi?"


"Nanti aja, aku lagi capek. Keringetan, nunggu keringatnya hilang." ujarnya dengan cuek tanpa mengubah posisi. Ia hanya mengenakan tang-top dan celana pendek sebatas paha.


"Capek ngapain?"


"Abis olahraga." jawab Dita sekenanya.


"Oh, keliatannya olahraga yang kamu lakukan sore ini sangat menyenangkan?"


"Apa sih, kak? Kakak ngapain kesini? Mending Kakak siapkan makan malam. Aku laper!" sergah gadis itu seraya beranjak duduk. Ia merasa terganggu atas kedatangannya. Benar- bebas merusak mood-nya.


"Kenapa nggak bantuin kakak di dapur?"

__ADS_1


"Ya males, lah kak. Nanti tangan aku lecet, percuma dong perawatan kuku aku yang mahal. Kakak aja sana, kan udah tugas kakak di dapur." ia segera menginjakkan kakinya ke lantai, melangkah dengan malas ke kamar mandi.


Aisyah menarik napas berat, melihat kepergian adiknya dengan mata yang nanar.


__ADS_2