
Rinai hujan turun membasahi bumi
menghalau kegersangan yang tercipta lama tapi hati ini tetap gersang tak teraliri
kering kerontang bahkan hampir mati
🍁🍁
Happy reading
"Kamu beneran udah punya cowok, dek?" tanya Aisyah tanpa memutuskan pandangannya pada gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu sibuk menatap kakak ipar yang duduk di sebelahnya, dengan gugup ia kembali mengalihkan pandangannya pada sang kakak.
"Emm ... Iya, emangnya kenapa?" tanya Dita.
"Dita, apa kalian sudah melakukan sesuatu terlalu jauh? Tolong, pikirkan masa depan kamu." kata Aisyah menasehati. Gadis yang sedang mengunyah makanan itu menatap kakaknya jengah.
"Halah, jangan sok suci deh kak. Seluruh dunia juga tahu kalau kakak dulunya pacaran gimana. Jangan sok-sok an mau nasehati aku deh. Kakak juga pasti lebih dari ini dulu." ketusnya seraya membanting sendok hingga Aisyah dan Arzan terkejut. Keduanya menoleh pada Dita yang berubah marah karena tidak terima.
"Dek, bisa nggak yang sopan? Kenapa kamu malah marah kakak nasehati?"
"Kakak jangan sok jadi ustadzah! Emangnya kehidupan kakak udah bener? Hidup kakak aja rusak, mau sok-sok an nasehati aku. Aku bisa ngatur hidup aku sendiri. Jangan ikut campur sama kehidupan aku, kak. Kakak nggak berhak sama sekali!"
"Justru karena kakak sudah merasakan semuanya, makanya kakak nasehati kamu. Kakak itu sayang sama kamu, nggak mau kamu terjerumus ke jalan yang salah. Kakak nggak mau kamu ngerasain hal yang sama kayak kakak rasain."
"Halah ... Bulshit! Jangan ceramahin aku. Aku tahu mana yang terbaik untuk hidup aku!" gadis itu segera meninggalkan meja makan dengan marah. Aisyah hanya menghela napas berat, jemarinya dengan lentur memijat kepala yang terasa pening. Arzan yang merasa tidak enak pun segera menghabiskan makanannya dan ikut meninggalkan meja makan tanpa mempedulikan istrinya.
"Mas, sarapan kamu belum abis."
"Aku nggak selera." ujarnya dingin. Ia terus berjalan ke kamar, lalu turun membawa tas kantornya.
"Mas, kamu mau berangkat kerja?"
"Emang kamu pikir aku mau kemana?"
"Ya, aku kira mas nggak kerja karena tadi 'kan mas baru pulang. Apa nggak di rumah aja untuk istirahat?" wanita itu berdiri menghampiri sang suami.
__ADS_1
"Aku males di rumah. Mending aku kerja dari pada di rumah sama kamu."
"Mas, apa aku begitu menjijikan di mata kamu?" tanya Aisyah dengan rasa sakit yang kembali mengiris.
"Iya. Aku jijik banget sama kamu. Aku bahkan nggak bisa tenang dan nggak nyaman lagi di rumah karena kamu."
"Mas ...." Bulir bening itu pun turun tanpa dapat di cegah. Hatinya terasa sakit, sangat sakit. Tanpa mempedulikan sang istri, Arzan terus melangkah meninggalkan Aisyah yang terisak.
"Kenapa semuanya berubah, mas? Dimana kamu yang menatapku hangat? Di mana kamu yang selalu lembut padaku?" lirihnya dengan rasa sakit yang semakin menguasai.
Tak lama setelah kepergian Suaminya, sebuah mobil berhenti di halaman. Aisyah segera menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Tak lama masuk seorang wanita separuh baya dengan pakaian yang modis dan dandanan elit. Wanita itu adalah mertua Aisyah, Ibu kandung dari Suaminya. Melihat mertuanya datang bertandang, Aisyah segera menyambut Ibu mertuanya dengan senyum. Menutupi kepahitan yang ia rasa.
"Mama, Apa kabar? kenapa nggak bilang kalau mau datang?" Aisyah menghampiri wanita itu dan meraih tangannya, mencium punggung tangan wanita itu.
"Mama nggak sengaja lewat, terus mampir. Arzan kemana?" wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.
"Mas Arzan barusan aja pergi ke kantor, Ma."
"Kok siang banget? Biasanya 'kan dia pergi pagi-pagi sekali." tanya mama mertua dengan heran.
"Iya, ma. Tadi pagi-pagi sekali mas Arzan baru pulang, dia cuma mandi dan sarapan terus pergi lagi."
Aisyah menatap mertuanya bingung.
"Kamu itu jadi istri yang bener, dong. Harusnya kamu itu bisa bikin suami betah di rumah. Biasanya Arzan itu paling betah di rumah. Dia nggak gila kerja! Dia pasti nggak betah di rumah karena kamu nggak bisa jadi istri yang baik untuk dia."
Aisyah hanya menunduk, mengutuk dirinya yang memang benar tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Arzan. Bahkan Arzan sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman berada di rumah karena dirinya.
"Lagian ya, saya lihat penampilan kamu itu nggak enak banget di lihat. Pakai baju biasa aja, nggak dandan sama sekali. Gimana suami betah di rumah? Yang ada dia malah mencari perempuan lain di luaran sana."
Deg ....
Ucapan Mama Arzan sangat menusuk hatinya. Mengapa harus berucap begitu?
Wanita itu berjalan ke meja makan, melihat sisa sarapan yang ada di meja.
__ADS_1
"Kamu cuma masak nasi goreng?" tanya wanita itu seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh meja makan.
"Iya, Ma."
"Kamu itu gimana sih? Apa kamu nggak bisa bikin sarapan yang kreatif? Yang bisa bikin anak saya berselera makan. Setiap hari bikin nasi goreng terus."
"Maaf, Ma."
"Kamu harus bisa jadi istri yang kreatif. Bikin dong suami betah di rumah. Ini nih, dari awal mama tuh nggak suka sama kamu. Tapi Arzan ngotot mau nikahin kamu. Coba aja dia mau di jodohkan dengan anak teman saya. Pasti kehidupan anak saya akan terjamin dan lebih terurus. Nggak bener kamu jadi istri." Sekuat hati Aisyah menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Ia menahan bulir bening yang mendesak ingin keluar. Tak berselang lama Dita turun, ia langsung menghampiri Aisyah dan mertuanya.
"Hai Tante. Apa kabar? Kapan Dateng?" gadis itu bersikap ramah. Ia bahkan memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.
"Hai sayang. Kabar Tante kurang baik, gimana sama kamu?" balas mama Arzan dengan senyum sumringah.
"Kenapa nggak baik, Tan? Dita selalu baik kok."
"Ini nih, punya menantu nggak becus ngurusin suami. Sampai-sampai suaminya nggak betah di rumah." sindir wanita itu seraya melirik sinis pada menantunya. Aisyah menghela napas yang terasa sangat sesak memenuhi rongga dada. Bibirnya terus beristighfar demi meredam emosi dan sakit hati yang terus merongrongnya.
Dita tersenyum sangat puas, dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kemalangan kakak tirinya yang tidak bisa di terima baik oleh suami maupun Ibu mertuanya.
"Kita duduk dulu, Tan. Kita ngobrol di sana aja yuk." ajak Dita seraya mengajak wanita yang ada di sampingnya ke ruang tamu.
"Kamu baik sekali, sih. Padahal menantu Tante aja nggak nawarin duduk dari tadi. Ah seandainya saja kamu yang jadi menantu Tante, pasti Arzan akan bahagia banget. Tante juga pasti bahagia banget punya menantu sebaik dan pengertian seperti kamu."
"Kalau gitu, jadiin Dita menantu Tante aja." mendengar hal itu Aisyah mendelik tak percaya. Sementara mertuanya hanya tertawa renyah
"Ah kamu bisa aja bercandanya. Gimana bisa, 'kan Arzan udah menikah sama kakak kamu."
"Bisa aja dong, Tan. Apa sih yang nggak bisa."
"Lucu ya kamu, selain cantik dan baik kamu juga lucu. Paket lengkap banget. Pasti nanti pria yang menjadi suami kamu beruntung banget."
"Ah Tante bisa aja."
"Ih kita ini cocok ya ngobrolnya. Seneng deh bisa ketemu kamu."
__ADS_1
"Dita juga seneng banget bisa ketemu dan ngobrol sama Tante."
Keduanya terlibat obrolan panjang yang hanya membuat Aisyah sakit hati. Ia pun segera pamit ke dapur untuk membuatkan minuman dan mengambil cemilan. Setibanya di dapur, ia termenung. Kenapa hidupnya sangat mengenaskan? Luka datang bertubi-tubi, menghantam hatinya yang rapuh.