Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 13


__ADS_3

Cinta ini akan tetap ada meski tak kau anggap ada.


Hati ini akan terus menanti, meski rasamu hampir mati.


🌺🌺


happy reading


"Dari mana kamu?!" Aisyah hampir melompat ketika memasuki kamar. Ia melihat suaminya yang menatapnya dengan marah. Sorot mata itu menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang di kenakan pagi hari. Kedua kancingnya terbuka, dengan lengan yang di gulung sebatas siku. Penampilan pria itu cukup berantakan dengan amarah yang tercetak jelas di wajahnya.


"M-mas Arzan. Ka-kamu udah pulang?" Aisyah tergagap. Ia menatap takut pada suaminya. Tak pernah sebelumnya ia melihat Arzan seperti sekarang ini. Ia memegangi dadanya karena kaget.


"Kenapa? Kamu terkejut mendapati aku udah di rumah?"


"Bukan begitu, mas. Biasanya mas pulang sudah larut malam." cicit Aisyah sembari berdiri diam di tempatnya. Wanita itu masih memegangi dadanya karena terkejut.


"Oh, jadi karena aku pulang larut malam kamu bisa seenaknya pergi dengan selingkuhan kamu itu?" tuduh Arzan sehingga membuat Aisyah terkejut bukan main.


"Selingkuh? Maksud kamu apa mas?" tanya Aisyah tak mengerti.


"Jangan berlagak suci di depanku, Aisyah? Mungkin kemarin kamu bisa menipuku dengan sikap munafik yang kamu tunjukkan! Tapi sekarang tidak lagi! Aku sudah tahu kebusukan kamu! Kamu itu tidak lebih dari seorang wanita murahan!" maki Arzan. Setetes bulir bening jatuh ke pipi Aisyah, sungguh sakit hatinya mendapatkan hinaan yang begitu menyakitkan dari sang suami.


"Tega sekali kamu berkata seperti itu, Mas."


"Kenapa aku harus tidak tega kepada kamu, hah? Wanita murahan seperti kamu memang pantas mendapatkannya!"

__ADS_1


"Cukup, Mas! Jangan menghinaku seperti itu. Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, Mas. Siapa yang selingkuh? Dan kenapa kamu selalu mengatakan aku ini murahan? Sakit, Mas. Perkataan kamu itu sangat menyakiti hati aku!"


"Memangnya aku nggak sakit, hah? Melihat kamu bersama pria lain. Oh, apa karena aku tidak mau menyentuh kamu sehingga kamu mencari sentuhan dari pria lain?!"


"Cukup, mas! Aku tidak serendah itu! Kenapa kamu selalu memandang rendah padaku, Mas!"


"Karena kamu memang murahan! Kamu memang wanita rendahan! Aku saja jijik menyentuhmu. Entah berapa banyak pria yang menikmati tubuh kamu."


Asiyah memejamkan mata. Perkataan suaminya sangatlah menyakitkan.


"Bahkan sekarang setelah menikah, kamu berani berselingkuh dengan pria lain."


"Siapa yang selingkuh, Mas? Aku tidak selingkuh!"


"Lalu, kalau tidak selingkuh apa namanya? Jalan berdua bersama Haris, tertawa bersama tanpa beban!"


"Jangan berkilah! Mana ada maling yang ngaku."


"Aku dan Haris memang tidak ada hubungan apapun, Mas. Jangan berpikiran yang tidak-tidak!"


"Terserah! Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan! Kalau dasarnya murah, ya murah aja. Keseringan di obral, jadi kalau nggak di obral berasa ada yang kurang."


Aisyah meremas dadanya yang terasa amat sakit.


"Astaghfirullah, Mas. Begitu rendahnya aku di mata kamu mas? Aku tidak serendah itu!"

__ADS_1


"Kalau bukan wanita murahan, tidak rendahan kenapa kamu sudah tidak perawan? Harusnya kamu bisa menjaga semua itu, Aisyah!"


Asiyah hanya tergugu, lidahnya kelu. Tak tahu apa yang harus di jelaskan lagi. Ia memang salah, ia sangat salah di masa lalu. Apakah wanita dengan masa lalu buruk sepertinya ,tak berhak mendapatkan kebahagiaan?


"Harusnya kamu mengatakan bahwa kamu itu sudah rusak sejak awal."


"Bahkan aku sangat jijik melihatmu." Pria itu menarik jaket kulit yang tergantung.


"Mas, mau kemana?" tanya Aisyah di sela Isak tangisnya.


"Bukan urusan kamu!" jawab Pria itu seraya keluar kamar. Bulir bening itu turun dengan derasnya. Belum lagi permasalahan kemarin selesai, muncul lagi permasalahan lain. Aisyah tak mengerti mengapa pikiran suaminya sangat dangkal.


🌺🌺


Malam ini Aisyah menunggu Arzan pulang sampai larut malam. Berkali-kali ia melihat pintu utama berharap suaminya datang dari sana. Tapi pintu itu tetap tidak terbuka hingga jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aisyah menghela napas berat, ia bingung kemana suaminya malam ini. Ia ingin menjelaskan semuanya, ia ingin meminta maaf pada suaminya. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara mereka. Aisyah tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut dan semakin rumit. Wanita itu terus menunggu hingga ketiduran di depan televisi. Ia terbangun ketika Mbok Sumi membangunkannya.


"Nyonya," panggilnya lembut. Aisyah yang tidur asal-asalan pun dengan cepat terbangun. Ia membuka matanya, menemukan wajah keriput mbok Sumi yang tengah tersenyum padanya.


"Ah ... Mbok. Kenapa? Mas Arzan sudah pulang, ya?" tanya Aisyah seraya mengangkat kepalanya. Ia lekas berdiri seraya mencari keberadaan suaminya yang tak ia temukan di mana pun.


"Maaf, nyonya. Anu, tuan belum pulang." jawab Mbok Sumi tidak enak. Aisyah menghela napas kecewa. Menatap pintu utama dengan harapan yang hampir habis.


"Saya membangunkan nyonya untuk sholat subuh. Lagi pula, saya kasihan melihat nyonya tidur di sini. Di luar dingin nyonya. Lebih baik nyonya menunggu tuan di kamar saja. Atau mungkin... Tuan tidak pulang." ujarnya tidak enak.


"Ya mbok, terima kasih ya. Aisyah mau Sholat subuh dulu." Tak lupa ia menepiskan senyum pada Mbok Sumi. Mengelus sebentar pundak wanita itu sebelum meninggalkan ruang tv.

__ADS_1


Menyeret kakinya yang lemah, lagi-lagi hatinya merasa kecewa. Bahkan malam ini suaminya tidak mau pulang ke rumah. Ia segera mandi dan menjalan ibadah sholat subuh, mencurahkan segala isi hatinya pada sang pencipta. Karena hanya pada-Nya lah Aisyah bisa bercerita sepuasnya. Meminta pertolongan dan petunjuk atas apa yang terjadi pada rumah tangganya. Ia tergugu di atas sajadah yang terhampar, berserah diri dengan linangan air mata yang menyesakkan.


__ADS_2