Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 48


__ADS_3

ringan rasa yang kian menjauh, membuat hati merasa semakin kosong


Tak terelak rasa sepi


Sunyi kian menggerogoti, melebur sebabkan hati terasa mati


🍂🍂


Happy reading


Aisyah dan Haris memasuki gedung rumah sakit, berjalan beriringan menuju ruang rawat Ayah Aisyah. Wanita itu menyayangkan sikap Ibunya yang seolah tak peduli dengan suaminya. Kemarin siang Ibu tirinya hanya menjenguk seperti orang asing. Setelah beberapa menit melihat keadaan suaminya, ia keluar dan mencari makan hingga malam tiba wanita yang merupakan istri dari sang ayah pun tidak ada. Aisyah dan Haris berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang panjang. Hingga sampai di ruang rawat sang ayah, Aisyah mengajak Haris untuk masuk.


"Assalamualaikum, Pak. Gimana keadaan Bapak sekarang?" sapa Aisyah dengan nada ceria. Ia tidak ingin tampak sedih dan mengenaskan di depan sang Ayah. Wanita itu mengambil kursi yang ada di sudut ruangan, ia duduk di atas kursi sementara Haris harus berdiri di samping ranjang rumah sakit.

__ADS_1


Ayah Aisyah tersenyum, menatap dua orang yang datang secara bergantian.


"Waalaikumsalam, Bapak baik. Bahkan sangat baik. Mungkin besok kita bisa pulang." jawab Pria setengah baya itu. Meski merasa lebih baik, tapi tubuhnya masih merasa sangat lemah.


"Bapak jangan cepat pulang dulu. Bapak harus benar-benar sembuh, baru boleh pulang."


"Ah, lihatlah anak ini. Dia selalu mencegah ku untuk pulang dan memaksaku tidur si sini. Apakah mungkin ia jatuh cinta pada dokter di sini?" Ayahnya berkelakar.


"Jika tidak mau dengan dokter, bagaimana jika dengan Nak Haris? Bapak yakin Nak Haris adalah pria yang biak." sang Ayah mengerling pada pria yang berdiri di samping ranjangnya. di katakan seperti itu membuat Haris salah tingkah. Pria itu berusaha untuk baik-baik saja dan menutupi kegugupannya di depan Aisyah dan ayahnya.


"Mana mau Aisyah sama saya, Pak? Kalau Aisyah mau, sudah lama kami menikah." sahut Haris seraya tertawa canggung. Mendengar hal itu, Aisyah menimpali.


"Sampai kapan pun kita nggak bakalan jadi sepasang kekasih ataupun sepasang suami istri! Sahabat ya tetap sahabat, nggak akan jadi cinta!" ujarnya seraya tertawa kecil.

__ADS_1


"Bisa aja, Aisyah. Kenapa tidak?" Ayahnya tersenyum melihat anaknya.


"Aisyah anggap Haris cuma sahabat, Pak. Selamanya akan begitu. Aisyah tidak mau merusak persahabatan kami dengan rasa cinta yang akan mengacaukan segalanya." ujar wanita biru serius. Ia memang tidak pernah mempunyai perasaan lebih pada pria itu. Diam-diam Haris harus menelan kekecewaan yang hadir menyelinap ke dalam hatinya. Ia merasa kecewa dan kembali patah hati setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir wanita cantik di depannya itu.


Mencoba tersenyum canggung dan terpaksa agar tidak semakin mengacaukan suasana.


"Maafkan Bapak, Nak Haris. Bapak tidak bisa memaksa Aisyah untuk memberimu kesempatan." bisiknya pada Haris yang langsung di sambut gelak tawa oleh pria itu.


"Hahaha ... Bapak ini ada-ada saja. Mana mungkin Aisyah mau sama saya, Pak? Saya tidak masuk dalam kriteria calon suaminya."


"Apa sih kalian? Kenapa berbicara yang tidak-tidak? Jangan kan memikirkan suami, bahkan rasanya aku trauma untuk mempunyai suami." lirihnya. Kesedihan yang beberapa menit lalu terlupakan kini kembali lagi dalam ingatan. Menghampiri, mengoyak hati serta pikiran dengan brutal. Menyesakkan dan membuat jantung seolah berhenti karena sakit yang terus mendesak membuat wanita itu ingin menangis menahan sesak.


"Eh, jangan begitu. Tidak semua pria itu sama. Kamu harus menemukan cinta sejati kamu. Yang bisa menjaga kamu kelak saat Bapak tidak ada. Jangan cepat meng-klaim bahwa kamu trauma. Itu tidak baik," nasehat sang Ayah membuat Aisyah ingin menangis sejadi-jadinya. Ia sangat berharap pada pernikahannya bersama Arzan. Tapi takdir seolah tak berpihak padanya, menarik paksa cinta yang seharusnya membahagiakan. Bahagia berubah dengan cepat berganti derita. Cinta berubah menjadi benci dan air mata. Haris menatap sendu pada wanita yang sudut matanya kembali berair. Sungguh hatinya terasa sangat sakit melihat Aisyah tersakiti seperti ibu. Ingin rasanya ia kembali ke rumah Arzan dan menghajar pria itu sampai babak belur.

__ADS_1


__ADS_2