Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 64


__ADS_3

Hari itu juga Dita keluar dari rumah sakit. Ia ingin segera pergi ke rumah Arzan untuk meminta maaf dan meminta ampunan pada pria itu. Dirinya tidak mau bercerai dengan pria itu. Tidak mudah baginya mendapatkan Arzan. Setelah menikah malah ia harus di ceraikan begitu saja? Ia tidak akan terima. Ia harus membuat Arzan kembali padanya.


"Dita, sebaiknya kita pulang ke rumah Bapak mu saja. Apa kamu mau, nanti di usir oleh Arzan dan Ibunya?"


"Dita tidak mau kembali lagi ke rumah jelek itu, Ma! Dita mau pulang ke rumah kak Arzan! Dita yakin kak Arzan akan memaafkan Dita dan membiarkan kita kembali. Nanti Dita akan merayu kak Arzan seperti yang Dita lakukan dulu."


"Tapi, Dit."


"Udahlah, Ma! Kalau mama tidak mau ya sudah! Biar Dita sendirian. Biar Dita yang kembali ke sana dan Mama silahkan tinggal di rumah jelek itu bersama anak tiri mama! Dita tidak Sudi!" Kata Dita sombong dan meninggalkan mamanya. Ia segera menghentikan taksi yang lewat. Mamanya yang semula ragu pun akhirnya ikut dengan anaknya. Ia segera berlari sebelum taksi itu pergi dari sana. Mobil taksi itu membawa mereka pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah Arzan.


Sesampainya di rumah mewah milik Arzan, mereka berdua ingin masuk tapi di cegah oleh security.


"Kenapa saya tidak boleh masuk? Heh satpam sialan! Apa kamu lupa siapa aku? Aku adalah nyonya di rumah ini! Kamu tidak ada hak untuk mencegahku masuk!" teriak Dita tidak terima.


"Maaf mbak Dita, saya hanya menjalankan perintah." kata pria berbadan gemuk itu tegas.


"Siapa yang menyuruhmu? Jangan mengada-ada kamu! Minggir! Saya mau masuk!"


"Maaf, mbak Dita. Perintah ini saya terima langsung dari Den Arzan. Sebaiknya Mbak segera pergi dari sini sebelum saya berbuat kasar."

__ADS_1


"Berani banget kamu mau berbuat kasar! Memangnya kamu siapa?" Dita semakin marah dan berkacak pinggang. Kepalanya terangkat dan menantang security yang berkumis tebal itu.


"Dita, sebaiknya kita pergi sebelum kita benar-benar di bikin malu. Ayo kita pergi. Sepertinya nak Arzan benar-benar marah dan yakin dengan keputusannya." bisik sang Mama dengan takut.


"Tidak ma! Kak Arzan tidak boleh menceraikan aku begitu saja setelah apa yang kami lakukan!"


"Mbak, pergi sekarang juga!" bentak security dengan marah.


"Tidak mau!"


"Pergi!" Security itu segera menarik tubuh Dita dan melemparkannya ke jalanan.


"Sudah, Dit. Jangan bikin malu!" Mama Dita segera menarik anaknya dan membawa anaknya menjauh dari sana. Di sepanjang perjalanan Dita terus berteriak marah sehingga membuat para pengguna jalan menoleh dan melihatnya seperti orang tidak waras.


"Untung Den Arzan segera sadar dan menceraikan mbak Dita. Saya aja kalau di kasih gratis nggak akan mau. Lebih baik Mbak Aisyah kemana-mana." ujarnya seraya menggelengkan kepala sembari memasuki pos.


Dita dan mamanya tiba di rumah Aisyah, tapi rumah itu tampak sepi bagai tidak berpenghuni. Mereka terus mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Tak lama keluar tetangga di sebelah, lalu mengatakan bahwa rumah itu sudah di jual oleh Aisyah demi menutupi hutang peninggalan ayahnya. Mendengar hal itu membuat Dita dan Mamanya mencelos. Mereka baru ingat bahwa hutang itu adalah karena ulah mereka. Pastilah rumah itu di ambil alih oleh lintah darat tempat mereka meminjam uang dengan suku bunga yang sangat tinggi. Keduanya pun pergi dan memutuskan mencari kontrakan terdekat.


"Dita nggak mau di sini! Rumahnya jelek dan sempit!" kata Dita seraya menghentakkan kakinya ke lantai. Ia mengamati rumah kontrakan yang luasnya hanya 4x5 persegi dengan satu kamar.

__ADS_1


"Uang mama hanya cukup menyewa rumah ini. Sudahlah jangan banyak protes daripada kita tidur di jalanan? Apa kamu mau?"


"Aaaa ... Mengapa semuanya jadi seperti ini? Harusnya aku sedang bersenang-senang dengan kak Arzan di rumah mewah itu. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?!" teriaknya frustasi.


"Ini semua karena kamu! Kenapa kamu harus berbohong tentang kehamilan kamu? Jika semuanya bukan karena ulah kamu, hidup kita tidak akan seperti ini!"


"Jadi mama menyalahkan Dita?"


"Lalu mama harus menyalahkan siapa lagi? Kamu saja yang terlalu bodoh tidak bisa bermain dengan rapi!"


"Kenapa mama malah menyalahkan Dita? Mama yang salah karena tidak bisa mendapatkan suami yang kaya raya! Jika mama bisa mendapatkan suami kaya maka kita tidak akan hidup seperti ini, Ma!"


Keduanya terus bertengkar saling menyalahkan. Hingga Dita tidak tahan lagi, ia keluar dan membanting pintu. Saat tengah malam wanita itu baru pulang ke rumah dengan mabuk di antar seorang pria. Besoknya kejadian itu terus berlanjut, Dita selalu pulang tengah malam dengan keadaan mabuk parah dan di antarkan oleh pria berbeda setiap malam sehingga membuat mamanya hampir gila melihat kelakuan Dita yang semakin hari semakin menjadi.


🌹🌹


Seorang wanita memakai rok sebatas lutut bewarna hitam dan kemeja putih berlengan panjang duduk di ruang tunggu. Wanita itu adalah Aisyah, ia sedang menunggu wawancara yang akan di lakukan. Aisyah melamar pekerjaan di perusahaan milik Arman dan ia tidak tahu jika ia mengenal pemilik perusahaan itu. Ketika namanya di panggil, ia segera berdiri. Sebelum memasuki ruangan, wanita itu memperbaiki penampilannya dan menarik napas dalam-dalam demi menghilangkan gugup yang menerjangnya. Setelah sekiranya siap, ia segera mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat Arman duduk di kursi pimpinan. Wawancara itu di lakukan oleh Arman karena ia ingin melihat langsung para pelamar kerja yang akan menjadi sekretarisnya. Melihat wanita yang ia sukai berada di depannya sebagai calon sekertaris, membuat pria itu terdiam. Tanpa berpikir jernih, ia langsung menolak Aisyah tanpa memberikan pertanyaan apapun.


"Maaf, anda tidak bisa di terima di perusahaan ini." katanya seraya menatap manik Aisyah tajam.

__ADS_1


"Apa?!" Aisyah mendelik tak percaya. Ia belum melewati serangkaian pertanyaan yang di lontarkan, tapi pria itu langsung menolaknya begitu saja. Ini semua tidak masuk akal! jeritnya di dalam hati.


__ADS_2