Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 47


__ADS_3

Rasa asing mulai menyelinap


Perlahan merayap ke ruang hati yang gelap


Meraung, datang penuh harap


Melebur kecewa yang membuat kalap


🌼🌼


Happy reading


Aisyah menatap ke luar jendela mobil, menatap langit kelam sekelam hatinya saat ini. Wanita itu sibuk dengan segala pikirannya yang memenuhi isi kepala. Haris yang sedang menyetir pun sesekali melihat ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Ingin sekali dirinya mengajak bicara sahabatnya itu, tapi hati kecilnya ragu untuk membuka percakapan. Wanita itu baru saja melewati badai yang memporak-porandakan hati serta hidupnya. Bagaimana mungkin ia bisa dengan cepat melupakan hal yang bisa saja menyebabkan trauma mendalam bagi sahabatnya itu.


"Langsung pulang ke rumah atau ke rumah sakit?"Haris terpaksa bertanya pada Aisyah karena di depan adalah jalan untuk menentukan apakah ia harus berbelok atau terus.


"Ke rumah sakit." jawab Aisyah singkat tanpa minat. Wanita itu tidak menoleh sedikit pun, membuat hati pria yang sedang menyetir itu tak tenang. Pria itu lalu berbelok menuju rumah sakit di mana ayah Aisyah di rawat.


"Nggak mau makan dulu?"


Aisyah menggeleng pelan. Tidak ada rasa lapar ataupun selera makan. Hatinya terasa sangat hampa dengan luka yang menganga. Haris menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Ia sesekali melihat pada sahabatnya yang masih setia menatap ke luar, sepertinya pemandangan di luar sangat menarik di bandingkan di sebelahnya.


"Lagi lihat apa sih? Kayaknya terlalu menarik sehingga tidak mau melihat pria tampan yang ada di samping kamu." Kelakar Haris. Ia tak bisa mengabaikan wanita yang ada di sampingnya. Aisyah menoleh, melepaskan pandangannya dari luar sebentar. Menatap sahabat tengilnya yang sedang mencoba menahan senyum.


"Tidak ada yang menarik," jawab Aisyah singkat.


"Lalu ... kenapa kamu selalu melihat keluar?"


"Ya pengen aja." jawabnya asal. Haris mencoba memutar otak agar bisa menghibur wanita yang ia suka sejak lama itu. Hatinya tak tenang melihat wanita itu bersedih.

__ADS_1


"Udah, lupain aja. Masih banyak pria tampan serta mapan yang bakalan ngantri di belakang. Lagian kamunya cantik ini, pasti banyak yang suka."


Aisyah tersenyum getir, kini ia menoleh pada pria yang ada di balik setir mobil.


"Emangnya mau ambil sembako? Pake ngantri segala." celetuk Aisyah seraya menggeleng pelan.


"Ya beda lah. Kalau ini sembakonya cantik banget. Lebih dari sembako ini mah."


"Ada-ada aja sih kamu. Lagi pula nggak segampang itu juga. Semuanya nggak akan sama."


"Sama kok, sama-sama cowok."


"Ya beda lah."


"Yang bikin beda apa?"


"Cinta,"


"Masih aja cinta sama cowok kayak begitu. Nggak ada bagus-bagusnya dia. Masih aja di belain dan di banggain." Haris bersungut-sungut.


"Kamu nggak tahu sih apa definisi cinta yang sesungguhnya."


"Memangnya apa?"


Aisyah mengangkat kedua bahunya ke atas.


"Entahlah, aku juga bingung." ujarnya yang membuat Haris kesal ingin mencubit wanita itu dengan gemas.


"Ya ampun. Astaga dragon! Dasar aneh!"

__ADS_1


Aisyah hanya tertawa kecil di sela kesedihannya. Meski begitu sudah membuat Haris lega. Setidaknya ia bisa membuat wanita itu melupakan kesedihannya walaupun sebentar.


🌼🌼


Arzan memasuki kamar dengan hati yang penuh amarah. Kedua tangannya terkepal dengan kuat, kuku jarinya menusuk ke telapak tangan. Pria itu membanting pintu dengan keras setelahnya ia mengunci pintunya dengan rapat dan segera menuju cermin yang ada di samping ranjang. Ia berdiri di depan cermin, memandang wajahnya yang punya cahaya lagi. Detik berikutnya pria itu memukulnya hingga cermin itu hancur. Tak di rasakan lagi bagaimana sakitnya tangan yang terluka. Karena sesungguhnya hatinya jauh lebih sakit dari pada itu. Melihat Aisyah pergi bersama Haris membuatnya cemburu dan terbakar. Ia tidak terima! Ia merasa kalah. Dulu setengah mati ia mengejar cinta Aisyah, tapi saat wanita itu telah menjadi istrinya malah kini wanita itu lepas begitu saja dari dekapannya.


Ini semua juga salahnya sendiri, jika saja ia lebih sabar dan mau menerima sang istri apa adanya mungkin petaka rumah tangga ini tidak akan terjadi. Seandainya saja dirinya tidak tergoda oleh rayuan sang adik tiri, mungkin saja prahara rumah tangga ini tidak akan menimpa mereka.


"Kenapa kamu harus pergi, Aisyah? Kenapa kamu meninggalkan aku?" lirihnya penuh kesakitan yang mencengkram. Entah berapa banyak air mata yang jatuh, entah berapa banyak hatinya terluka. Tapi semua itu tidak bisa mengubah keadaan. Aisyah telah pergi dari rumah, Dita pun sudah mengandung anaknya. Semuanya telah hancur tak bersisa. Tersisa hanya hati yang kosong penuh luka. Kehampaan serta kesedihan yang tak berujung. Yang hanya membawanya dalam lubang penyesalan.


Tok ... Tok ... tok ....


Terdengar suara pintu kamar di ketuk dari luar. Arzan mencoba mengabaikan suara Dita yang memanggilnya.


"Kak, kakak kenapa? Kakak baik-baik aja kan?" tak ada sahutan. Arzan hanya sibuk dengan hati serta perasannya yang kalut.


"Kak, buka pintunya! Biarkan Dita masuk. Lagi pula kenapa kakak harus menguncinya pintu? Bukankah kita sudah sering tidur bersama selama ini? Apalagi sekarang kak Aisyah tidak ada. Kita bisa tidur bersama di dalam kamar, kak." kata Dita dari luar sehingga membuat Arzan sangat muak. Benih kebencian mulai tumbuh di hatinya. Membuatnya tidak ingin melihat ataupun mendengar suara wanita yang telah menghancurkan pernikahannya.


"Pergi kamu dari sini!" bentak Arzan dengan kuat. Dita memegangi dadanya yang terkejutnya karena bentakan pria itu. Tapi dengan cepat ia menguasai diri, mencoba untuk tetap bersikap lembut dengan sang calon suami.


"Kak, jangan seperti ini. Biarkan aku masuk dan menemani kakak. Aku sangat khawatir." Dita tak menyerah, ia terus berusaha untuk membujuk sang kakak ipar.


"Pergi dari sini sekarang juga!" Arzan kembali mengusir adik iparnya.


"Kak, ku mohon jangan begini. Ayo, buka pintunya! Dita ingin masuk,"


"Pergi kau ******! Jangan ganggu aku lagi!" bentak Arzan dengan kuat. Mendengar apa yang dikatakan oleh Arzan membuat hati Dita sakit. Ia tak menyangka jika Arzan akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu.


"Kak, kenapa kamu tega sekali mengatakan hal itu?" matanya telah berembun, siap menurunkan air mata.

__ADS_1


"Pergi se-ka-rang ju-ga!"teriak Arzan sekali lagi. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, ia hanya menginginkan Aisyah untuk menemaninya. Dirinya tidak membutuhkan Dita ataupun siapa pun. Dita pun terpaksa pergi dengan hati yang terluka parah. Dirinya tak terima di perlakukan buruk oleh Arzan. Sembari membawa luka di dada, diam-diam ia kembali membuat rencana yang akan membuat Arzan kembali takluk dalam pelukannya. Ia tidak akan tinggal diam jika di perlakukan tidak Baik.


"Kamu harus kembali takluk padaku, kak. Lihat saja nanti!" ujarnya seraya berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2