
**Ketika aku mencoba membangun kembali serpihan kaca yang berserakan, tapi dengan sengaja kau kembali menghancurkan.
Aku sakit, sangat sakit.
Serpihan kaca itu semakin menusuk ke relung hati yang terdalam
Menimbulkan perih yang teramat mencekam
🥀🥀
Happy reading**
Dita pulang dengan berjalan tertatih, sesekali terlihat meringis memegangi pahanya. Aisyah yang tak sengaja melihat kepulangan Dita mengerutkan keningnya dengan heran. Hari masih pagi, sekitar pukul enam. Dengan membawa rasa penasaran, Aisyah berjalan menghampiri adik tirinya.
"Dit, kamu tidur dimana semalam? Kenapa baru pulang? Ohya, kenapa kaki kamu?" tanya Aisyah seraya menghampiri sang adik dan ingin membantunya berjalan.
"Ah, kakak. Semalam aku jatuh dari motor sama temen. Makanya semalam aku nggak pulang. Aku di rawat di rumah sakit," bohongnya.
"Apa?! Kamu jatuh dan di rawat tapi nggak ngomong sama kakak? Kamu ini gimana sih, Dit? Kakak Khawatir sama keadaan kamu." ucap Aisyah panik.
"Maaf kak, Dita cuma nggak mau ngerepotin kakak. Tapi sekarang keadaan aku baik-baik aja kok. Cuma terkilir sedikit."
"Dita ... Kita kan saudara. Sudah seharusnya saling bantu."
"Maaf, kak. Aku juga takut mau pulang tadi malam. Takut sama kejadian di kantor kak Arzan waktu itu."
__ADS_1
"Maafkan kakak, ya. Padahal niat kamu baik karena ingin kami baikan, tapi kakak malah mikir yang aneh-aneh. Pikiran kakak kacau banget waktu itu. Maaf yah,"
"Nggak apa-apa kok, kak. Kakak nggak salah. Semoga setelah ini hubungan kakak dan Kak Arzan baik-baik aja yah." ucap Dita. Di dalam hatinya mengutuk semoga mereka cepat bercerai dan dirinya bisa menggantikan posisi sang kakak sebagai istri dari pria itu.
"Kakak bantu, yah. Kasihan kamu, terlihat sangat kesakitan." Aisyah menawarkan diri karena tidak tega melihat adiknya yang berjalan menahan sakit.
Gimana nggak sakit? Aku dan kak Arzan kan melakukannya semalaman suntuk. Nggak tahu berapa kali kami melakukannya semalam. Sampai-sampai berjalan juga susah. Seandainya kak Aisyah nggak ada, aku udah minta gendong sama kak Arzan. ujarnya dalam hati.
"Nggak perlu, kak. Aku baik-baik aja kok. Aku bisa sendiri." tolak Dita.
"Tapi Dit ...."
"Nggak apa-apa, kak. Mending kakak siapin sarapan aja. Ntar kalau kak Arzan pulang 'kan, bisa langsung makan. Dia pasti kelaperan karena semalaman suntuk lembur. Dia butuh tenaga untuk kerja lagi."
"E-eh ... Anu, kan biasanya kak Arzan nggak pulang. Dia suka lembur di kantor, 'kan kak? Dita cuma nebak aja." ujarnya seraya tersenyum tidak enak.
"Kamu bener, sih. Mas Arzan jarang pulang, dia lebih memilih untuk lembur di kantor dari pada pulang ke rumah."
"Lah iya, itu makanya kakak cepetan siapin sarapan. Kak Arzan pasti pulang pagi ini."
"Kamu bener juga. Tapi beneran kamu bisa sendiri?"
"Bisa kok, kak. Tenang aja, ntar juga sembuh."
"Ya udah kalau gitu, kamu ke kamar ya. Nanti kita sarapan bareng."
__ADS_1
"Siap, kak. Aku ke kamar dulu, ya." gadis itu segera pergi ke kamarnya dengan tertatih. Sesekali dirinya meringis menahan sakit yang berasal dari selangkangannya.
Kak Arzan benar-benar membuat aku repot. Tapi aku suka. Hihihi .... gumamnya dalam hati. Bibirnya tak berhenti tersenyum, semalam adalah pengalaman yang terindah dalam hidupnya. Tak ada penyesalan yang terbit sedikitpun walaupun dirinya telah kehilangan kehormatan sebagai wanita.
Baru saja Aisyah akan melangkah ke dapur, ia mendengar suara mobil Arzan. Tak lama pria yang telah resmi menjadi suaminya itu masuk dengan pakaian yang kusut dan berantakan.
"Mas, kamu udah pulang?" Aisyah berjalan menyambut suaminya dengan senyum ceria. Benar kata Dita, suaminya pulang pagi ini. Wanita itu meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan pria itu dengan khidmat.
"Aku senang kamu pulang, mas. Aku bikinin nasi goreng kesukaan kamu, yah." kata Aisyah tanpa melunturkan senyumnya meski pria yang ada di hadapannya ini terlihat begitu dingin.
"Terserah." katanya. Sikap dingin suaminya sedikit banyak mempengaruhi hatinya, tapi ia mencoba menepis semuanya dan berpikir positif.
"Mas pasti capek banget udah kerja semalaman, mas mandi dulu yah. Terus kita sarapan bareng. Ohya, mas. Aku minta maaf masalah kemarin. Nggak seharusnya aku berpikiran yang nggak-nggak tentang kalian. Harusnya aku banyak berterima kasih pada Dita karena sudah berusaha memperbaiki hubungan kita. Maafin aku, ya mas." ucap Aisyah dengan tulus. Terlepas siapapun yang salah, seorang istri sebaiknya meminta maaf terlebih dahulu pada suaminya.
Deg ...
Arzan menatap istrinya dengan nanar. Ritme jantungnya tak beraturan, berdetak lebih cepat dari biasanya. Pergulatan panas semalam masih terekam jelas di ingatannya. Bahkan ia masih bisa merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bau khas dari pergumulan itu, rasa di setiap jengkal tubuh Dita pun ia masih bisa mengingat dengan jelas. Percintaan terlarang yang tak seharusnya terjadi. Hubungan haram yang seharusnya tak pernah ada di antara mereka. Hati kecilnya merasa bersalah, tapi ia mengingat apa yang di ucapkan oleh Dita semalam. Setelah percintaan pertama, Arzan merasa bersalah dan merasa apa yang mereka lakukan adalah salah. Tapi gadis itu dengan tatapan sayu berusaha membuat Arzan merasa tak bersalah dan merasa semua yang mereka lakukan adalah benar.
"Kak, kita nggak salah. Apa yang kita lakukan ini nggak salah. Kak Aisyah yang memulai semuanya, ia udah nggak jujur sama kakak. Kakak berhak mendapatkan gadis yang masih perawan. Kakak berhak mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya. Dan aku, bisa memberikan semua yang nggak kakak dapatkan dari kak Aisyah. Aku akan selalu siap setiap kakak ingin. Aku akan membuat kakak menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini." bisiknya dengan sangat sensual sehingga membuat gairah itu kembali tersulut. Hingga dirinya dan Dita kembali mereguk manisnya hubungan terlarang itu. Ia tidak dapat menghitung berapa kali mereka melakukannya. Yang ia tahu, ia hanya mengejar kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Bersama Dita, ia bisa menjadi pria seutuhnya. Ia sangat senang karena menjadi orang yang pertama kali mengambil keperawanan gadis itu. Ia merasa beruntung karena bisa merasakan gadis yang masih perawan.
"Mas, kenapa bengong? Mas ngantuk?" tanya Aisyah.
"Hah, nggak. Aku mau mandi," kata Arzan segera berlalu. Meninggalkan istrinya yang bingung di penuhi tanda tanya. Meninggalkan perih yang terus merambat, sekuat hati ia tekan perasaan sakit itu. Tak ingin kembali lemah, ia segera menuju dapur untuk memasak nasi goreng kesukaan suaminya. Berharap sisa-sisa cinta itu masih tersisa di relung hati suaminya. Berharap bisa kembali memperbaiki rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk.
"Semoga rumah tangga kita baik-baik saja, mas. Semoga aku bisa merengkuh cinta mu kembali. Aku yakin, di dalam hati kamu masih mencintaiku. Kamu hanya kecewa, suatu saat nanti kamu pasti mengerti dan mau menerima semuanya." lirihnya seraya tersenyum penuh harap.
__ADS_1