Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 26


__ADS_3

Jangan tanyakan bahagiaku, bisa melihat mu tersenyum saja sudah membuatku lebih dari sekedar bahagia.


🌷🌷


Happy reading


Ketika kedua wanita dengan satu profesi itu membicarakan hal mistis, seseorang datang dari arah belakang mengagetkan keduanya.


"Aku di sini ...." lirihnya dengan suara horor. Sontak saja keduanya menjerit histeris, membuat semua pelanggan yang sedang berada di sana terkejut bukan main. Semua mata melihat ke arah mereka.


Pria yang mengagetkan kedua wanita itu meminta maaf pada pengunjung lain dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


"Maaf ...." lirihnya pada semua pengunjung yang merasa terganggu. Detik berikutnya ia mendapatkan pukulan di bahu oleh Desy.


"Dasar pohon pisang, ngagetin aja! Untung jantung aku nggak copot!" wanita itu memegangi dadanya. Ia menatap kesal pada temannya itu.

__ADS_1


"Haris! Kamu itu persis banget kayam hantu. Datang dengan tiba-tiba dan mengagetkan!" Aisyah menimpali. Sementara pria itu hanya tertawa hingga kedua matanya menyipit. Ia berhasil mengerjai kedua sahabatnya. Sebelum duduk di satu kursi kosong yang tersedia, ia mengelap sudut matanya yang berair.


"Abisnya kalian berdua ngobrolnya serius banget. Sampe nggak tahu kalo aku datang."


"Iya nih, si Aisyah. Nakut-nakutin aku tahu nggak. Masak dia bilang si hantu nggak terima kisahnya aku jadiin novel?!"


"Bisa jadi, sih. Karena kamu nggak izin dulu sama yang empunya cerita." Monolog Haris seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi. Ia terlihat sangat lelah. Pria itu mengendurkan dasi yang terpasang rapi di kemeja hitam yang di kenakan.


"Masak harus izin dulu sama si hantu? Gimana caranya? Lagian kalau pun aku lihat nih ya, yang pasti aku udah kabur duluan." Desy mencebik. Dua sahabatnya itu terkadang malah membuatnya pusing dengan analisa mereka yang tidak masuk akal. Di era modern seperti ini mereka masih sangat mempercayai hal mistis seperti itu.


"Kamu juga bisa sharing sama dia, gimana caranya biar nggak di gangguin sama hantu yang ada di cerita kamu. Meski nggak masuk akal, tapi ini beneran loh. Nggak di percaya, tapi semuanya emang beneran ada."


"Bener, sih. Tapi kan sebenarnya kita nggak ngapa-ngapain. Cuma mengangkat kisah misteri di balik kematian dia aja."


"Ya kalau semua itu balik ke kamu, emang kamu mau kisah percintaan yang mengenaskan itu di publish orang? Di jadiin bahan cerita atau apalah itu. Kisah cinta mengenaskan, umur hampir kepala tiga masih jomblo karena kebanyakan milih." ujar Aisyah seraya tertawa.

__ADS_1


"Dih, jahat banget sih?! Mentang-mentang udah nikah. Bisa ngejekin aku." Desy hanya mencebik sementara Haris tertawa kecil.


"Iya loh, mentang-mentang udah nikah bisa seenaknya ngomongin orang jomblo. Tau yang pengantin baru, tapi jangan di kasih cap juga dong si suaminya." sindir Haris seraya melirik ke arah Aisyah. Sementara wanita yang di sindir hanya mengernyitkan dahi karena tak mengerti.


"Maksudnya, kasih cap gimana?" tanya Aisyah bingung.


"Ya di kasih cap, merah-merah di leher. Terus pas pergi kerja, nyiumnya jangan pake napsu banget. Kasihan kan, sama suaminya sampai di ledekin satu kantor gegara lipstik kamu nempel di bibir Arzan." Ledek Haris seraya tersenyum. Sebenarnya hatinya kecewa, ia cemburu dan merasa tidak nyaman ketika mengatakan hal itu.


"Eh, bentar deh. Lipstik? Sejak kapan Aisyah pakai lipstik sampe nempel di bibir Arzan? Setahu aku, warna lipstik Aisyah nggak pernah merah deh. Palingan warna nude, bisa nempel gitu ya?" celetuk Desy dengan heran. Pernyataan Desy membuat Haris menoleh pada wanita yang duduk di kursi sebelahnya. Melihat kedua sahabatnya yang memberikan tatapan penasaran membuat Aisyah menelan ludah kasar. Sebenarnya hatinya pun menjerit, apa maksudnya? Ciuman? Sejak kapan? Sedangkan dirinya dan suaminya bertengkar tadi pagi. Jangankan berciuman, ingin mencium punggung tangan suaminya saja tidak bisa.


"Katakan, hubungan kalian baik-baik aja kan?" todong Desy penuh curiga. Di todong seperti itu membuat Aisyah gugup. Kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan mengintimidasinya.


"A-apa? Ke-kenapa kalian berdua melihatku seperti itu?" Keduanya hanya terdiam seraya menatap Aisyah, menunggu jawaban dari sang sahabat.


"Aisyah, jawab kami dengan jujur. Apa hubungan kalian berdua baik-baik saja? Bagaimana sikap Arzan setelah mengetahui masa lalu kamu?"

__ADS_1


Aisyah terdiam, menatap kedua temannya dengan bingung. Matanya menyiratkan luka yang dalam. Tanpa Aisyah jawab pun keduanya sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri.


__ADS_2