Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 51


__ADS_3

**Mengapa kau kembali setelah menoreh perih


Mengapa kau hadir menambah rasa getir


Luka ini belum sembuh, jangan semakin membuat air mataku berlabuh


Biarkan aku sendiri, berteman sepi memeluk hati yang perih


🌹🌹


Happy reading**


Aisyah bersiap akan pergi ke rumah sakit, kini dirinya tinggal di rumah sang ayah. Karena tidak ada lagi tempat yang di tuju selain kembali ke sini. Wanita itu menyambar tas yang tergeletak di atas meja, meraih kunci motor yang tergantung. Segera melangkah dengan tergesa karena takut jika sang ayah akan menunggu lama. Ia pulang karena ingin mandi dan berganti pakaian. Saat ia keluar dan ingin mengunci pintu, dirinya di buat terkejut oleh kehadiran Arzan.


"Mau kemana?" tanya pria itu seraya mengulas senyum. Aisyah menatapnya hampa, wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Rumah sakit." jawabnya singkat setelah jeda beberapa detik. Ia mencoba mengabaikan kehadiran pria yang tak di harapkannya. Mengunci pintu dan bersiap akan pergi tapi di cegah oleh Arzan. Pria itu meraih lengan sang istri, mencoba menahan kepergian wanita itu.


"Tunggu sebentar! Mas kesini sengaja ingin menemui kamu."


Aisyah menatap kesal pada pria yang ada di hadapannya, melirik sebentar lengannya yang di cekal oleh Arzan. Tahu dengan tatapan tak suka dari Aisyah, Arzan segera melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Maaf, mas hanya ingin berbicara dengan kamu." katanya seraya menatap sendu pada Aisyah.


"Mau membicarakan apa lagi, Mas? Semuanya sudah berakhir." ketus Aisyah. Ia memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. Dirinya tidak sanggup jika harus menatap pria yang selama ini bersamanya.


"Apa kamu yakin dengan gugatan cerai itu?"


"Sangat yakin." jawabnya singkat. Terdengar helaan napas berat dari pria yang ada di hadapannya. Tampak pria itu menatap dalam pada manik hitam milik sang istri, mencoba mencari cinta yang mungkin masih terselip di sela kebencian yang tercipta.


"Apa kamu sudah memikirkan semuanya?" tanya Arzan sekali lagi. Aisyah kesal, ia menoleh pada pria yang membuatnya sakit hati.


"Apa bedanya jika aku memikirkan semuanya atau tidak? Apa keadaan akan berubah jika aku tidak mengajukan gugatan cerai? Apakah semua akan baik-baik saja jika kita tidak bercerai?" tanya Aisyah penuh emosi. Kilatan perselingkuhan antara suami dan adik tiri membuatnya sakit hati.


Aisyah hampir saja tersedak karena mendengar ucapan suaminya. Ia tertawa kecil,


"Jangan berbicara tentang cinta di sini. Aku tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta! Jangan membual tentang cinta di sini, Mas! Aku muak! Sangat muak!"


"Sayang, jangan seperti ini. Kita perbaiki Semuanya yah." bujuk Arzan seraya menarik tangan istrinya ke dalam genggamannya. Aisyah buru-buru menarik tangannya, mundur satu langkah demi memberi jarak di antara mereka. Bagaimana pun juga ia harus membangun tembok penghalang di antara mereka. Apalagi sekarang Dita sedang mengandung anak Arzan. Hal itu semakin membuat hubungan mereka mustahil untuk di pertahankan.


"Pulanglah, Mas! Kasihan Dita dan anak dalam kandungannya sedang menunggu kamu. Keputusanku sudah bulat. Aku sangat yakin ingin berpisah dengan kamu. Menikahlah dengan Dita, berikan dia kebahagiaan seperti yang kalian inginkan. Jangan pernah ganggu aku lagi. Jangan pernah menghiraukan aku lagi. Jalan kita sudah berbeda sekarang. Tetaplah berjalan di atas takdir kita masing-masing. Kita jalani semuanya sendiri-sendiri. Maaf, aku harus pergi! sampai bertemu di persidangan!" Aisyah segera berlalu, ia tidak bisa jika harus bersama Arzan lebih lama. Ia takut jika hatinya akan goyah. Sia-sia saja tembok penghalang yang ia bangun dengan susah payah. Tekad untuk bercerai, dan keterpaksaan yang ia bangun untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Mati-matian ia menghibur hatinya yang lara penuh duka serta air mata. Membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang. Belum lagi Aisyah melangkah lebih jauh, Arzan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Menghentikan langkah panjang wanita itu. Ia memejamkan mata, mencoba untuk kuat dan tidak goyah.


"Sayang, aku mohon cabut gugatan cerai itu. Mas ingin kita memulai semuanya dari awal lagi. Mas tidak akan bisa berpisah dari kamu, sayang." lirih pria itu penuh kesakitan. Ia meletakkan dagunya di bahu sang istri, menghirup bau khas dari wanita itu yang begitu menenangkan. Jujur sesungguhnya dirinya sangat merindukan wanita itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Mas." kata-kata itu keluar dari mulut Aisyah setelah sekian detik hanya diam menikmati moments. Tampak pria yang ada di belakangnya menggeleng, ia tidak akan bisa melepaskan Aisyah begitu saja. Ia ingin membujuk bahkan membawa wanita itu kembali pulang ke rumahnya.


"Lepaskan, Mas. Kita tidak boleh begini. Sebentar lagi kita akan resmi bercerai dan kamu akan menikahi Dita. Tidak sepantasnya aku terlihat berpelukan dengan calon suami dari adik sendiri." Hati Arzan bagai tersentil, bagaimana bisa Aisyah berkata seperti itu setalah semua yang terjadi? Dirinyalah yang tidak tahu diri. Padahal dirinya tahu jika Dita adalah adik tiri, tapi dengan gilanya ia malah menghamili wanita yang seharusnya ia anggap sebagai adik sendiri.


"Maafkan mas, sayang. Tolong pikirkan lagi keputusan mu. Mas tidak ingin bercerai dari kamu dan menikahi Dita. Mas hanya ingin bersama kamu seumur hidup."


"Hentikan, Mas! Jangan egois! Mas harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab! Mas harus menikahi Dita!" Aisyah melepaskan pelukan suaminya. Bergerak menjauh dari sana dan segera menuju sepeda motor matic miliknya yang terparkir di halaman rumah. Arzan berusaha menghentikan wanita itu, tapi dengan cepat Aisyah mencegahnya.


"Kembali lah dan pergi dari sini! Keputusanku akan tetap sama dan tidak akan berubah. Jangan pernah menemuiku dan meminta aku untuk merubah keputusan yang telah aku buat. Aku hanya ingin bercerai dari kamu dan menjalani hidup dengan baik. Pergilah! Kembalilah pada adik ku." ujarnya dengan suara serak sementara Arzan hanya terdiam sembari menatap kepergian Aisyah yang terasa sangat menyakitkan. Wanita itu semakin lama semakin jauh, meninggalkan sang suami dengan pikiran yang kacau.


🌹🌹


Aisyah melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Sesekali jemari tangannya menghapus sudut mata yang basah akan air mata. Ia membelokkan motonya ke taman yang ada di sebelah kiri. Memarkirkan motornya di parkiran yang tersedia. Ia membuka helm, berjalan perlahan menuju danau yang ada di dalam taman. Di danau dalam taman ini cukup sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sesampainya di dekat danau, Aisyah segera menjerit sekencang-kencangnya.


"Dasar pria brengsek! Tidak tahu malu! Bisa-bisanya kamu masih berharap kembali setelah apa yang kamu lakukan! Dasar tidak tahu diri! Tidak punya hati! Aku benci kamu, mas Arzan! Aku benci kamu!" teriaknya tanpa beban. Tak menghiraukan keadaan, ia terus menjerit memaki sang suami yang tega mengkhianati dirinya. Di sini, di tempat ini dirinya sering menumpahkan segala keluh kesah yang melandanya. Hanya di sini ia bisa berteriak bebas tanpa beban.


"Brengsek kalian! Kenapa kalian bisa mengkhianati aku, hah? Kalian benar-benar tidak punya hati!" teriaknya dengan emosi yang meluap-luap. Setelah lelah berteriak, wanita itu terdiam. Ia menetralkan napasnya yang naik turun.


"Udah, teriaknya?" terdengar suara pria dari arah belakang yang membuat Aisyah terkejut bukan main. Tubuhnya berbalik, matanya melotot sempurna menatap pria yang ada di hadapannya. Ia kira hanya dirinya yang berada di tempat itu, tapi ternyata ....


'

__ADS_1


__ADS_2