
**Aku tertatih,
Meniti harapan yang tak pasti
Menyusuri lorong gelap hati ini
Berharap cahaya akan hadir menanti
πΌπΌ
Happy reading**
Sampai siang hari Arzan tak juga pulang. Aisyah sudah tidak tahu harus bagaimana, pikirannya buntu. Ia sangat yakin suaminya begini karena dirinya. Dirinya yang menyebabkan suaminya tidak pulang malam ini. Ia memutuskan untuk melihat suaminya di kantor. Bagaimana pun juga ia tidak bisa membiarkan semuanya tenggelam dalam kesalahpahaman yang nantinya akan memperburuk masalah yang ada. Aisyah bukan wanita seperti yang di tuduhkan oleh Arzan. Jika suaminya merasa cemburu karena dirinya terlihat sedang bersama pria lain, maka ia akan dengan sangat senang hati untuk menjaga jarak dari pria. Jika suaminya meminta untuk menjauhi teman prianya, maka ia akan melakukannya yang penting suaminya tidak marah lagi padanya. Sungguh, ia merasa sangat tidak tenang jika suaminya pergi dalam keadaan marah.
Aisyah pergi di naik taksi online, sesampainya di kantor ia langsung menuju ruangan suaminya. Tapi baru saja sampai di depan ruangan sekretarisnya, ia di cegah oleh wanita yang bekerja dengan suaminya itu.
"Maaf, Bu. Pak Arzan sedang ada tamu." wanita memakai blazer hitam itu tersenyum ramah. Aisyah pun membalas tersenyum dan menghampiri,
"Oh, maaf saya tidak tahu. Apakah tamunya sangat penting?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak begitu penting, Bu. Karena tidak menyangkut pekerjaan."
Aisyah mengernyitkan keningnya, menatap wanita itu dengan heran.
"Siapa tamunya? Pria atau wanita?" tanya Aisyah curiga.
"Wanita, Bu. Sepertinya teman Bapak."
"Sudah lama?"
"Sekitar satu jam yang lalu."
"Oh, baiklah terima kasih." Setelah berbasa-basi, Aisyah segera melangkah menuju ruangan suaminya. Ia penasaran, tamu wanita mana yang menemui suaminya di jam kantor selama satu jam lebih. Rasa curiga, penasaran dan was-was seketika memenuhi relung jiwanya. Sekretaris itu dengan cepat mencoba untuk menahan Aisyah yang hendak menerobos masuk.
"Saya ini istrinya, kenapa tidak boleh masuk? Lagi pula tamunya bukan tamu penting yang membahas pekerjaan, 'kan?" wanita yang berdiri di hadapannya itu terdiam. Ia bingung harus bagaimana.
"Saya mau masuk." Aisyah segera membuka handel pintu itu, matanya terbelalak ketika mendapati suaminya sedang bersama adik tirinya di dalam ruangan yang sama. Mengobrol dengan bebas di selingi tawa, tak ada wajah penuh amarah yang tercetak di wajah suaminya. Pria itu terlihat sangat rileks dengan senyum yang masih tersisa. Wajah itu berubah kembali ketika melihat Aisyah yang berdiri di ambang pintu, terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Aisyah? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Arzan seraya berdiri. Dita pun juga ikut berdiri, menatap heran pada sang kakak yang menatapnya dengan marah.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Ibu ini menorobos masuk. Padahal sudah saya minta untuk menunggu."cicit Sekretaris itu seraya menunduk. Arzan mengangguk dan dengan gestur menyuruh wanita itu pergi, ia hanya menggunakan jari. Wanita itu pun mengerti dan segera meninggalkan ruangan atasannya.
"Mas, kenapa Dita ada di sini?" tanya Aisyah menatap tak suka pada adiknya. Arzan melirik Dita yang masih terkejut.
"Dita hanya mengunjungiku untuk menghiburku. Ia sangat cemas karena aku tidak pulang semalaman."
"Apa? Apa maksudnya?" tanya Aisyah tak mengerti. Mengapa ia repot-repot datang ke kantor hanya karena kakak iparnya tidak pulang semalaman? Apakah ada adik ipar yang sebegitu pedulinya hingga datang ke kantor untuk menghibur sang kakak ipar? Apakah semua ini adalah tindakan yang wajar? Bahkan inisiatif nya lebih tinggi dari sang kakak yang notabenenya adalah istri dari pria yang di datanginya.
"Kenapa? Bukankah dia sangat perhatian? Dia rela jauh-jauh ke sini hanya karena mengkhawatirkan aku? Tidak seperti kamu! Malah membiarkan suami pergi dan tidak pulang semalaman. Oh, aku rasa kamu malah senang karena bisa bersama selingkuhan kamu semalaman, 'kan?"
"Astaghfirullah, Mas. Kenapa pikiran kamu itu selalu kotor mengenai aku, mas?"
"Sudahlah, Aisyah. Jangan sok suci lagi kamu. Dari sebelum menikah kamu suka Gonta ganti pria, kan? Bahkan kamu sering menginap bersama teman pria kamu itu."
Aisyah menatap marah pada suaminya. Hatinya terasa sangat sakit di tuduh hal yang tidak-tidak oleh suaminya sendiri. Begitu rendahnya ia di mata sang suami.
"Ya Allah, Mas. Fitnah apa yang kamu lontarkan? Seburuk-buruknya aku, aku nggak pernah begitu Mas. Kenapa aku selalu hina di mata kamu, Mas? Hanya karena satu kesalahan, kamu membuat aku begitu rendah di mata kamu mas. Pernah nggak kamu memikirkan perasaan aku? Dan sekarang, kenapa kalian bisa bersama di ruangan kerja kamu mas? Apa yang kalian lakukan?"
"Kak, kakak jangan salah paham. Maaf jika kehadiran aku membuat kakak tidak suka. Dita nggak akan ke sini lagi, kak. Ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir Dita kesini." wajah gadis itu tampak memelas, dengan sedikit menunduk menunjukkan penyesalan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Sebaiknya begitu, Dit. Kamu harus tahu batasan antara kakak ipar dan adik ipar."
"Aisyah! Apa maksud kamu? Dita kesini untuk membujuk aku pulang! Dia kasihan dengan kamu! Dia melakukan semua ini untuk kamu dan sekarang kamu mencurigai adik kamu sendiri? Dimana otak kamu, hah?" Aisyah terkejut. Ia bahkan tak percaya jika suaminya tega membentaknya hanya karena membela sang adik ipar. Matanya mulai memanas, bulir bening itu semakin banyak menggenang, berusaha menerobos dinding pertahanan. Hatinya sangat sakit mendapati perlakuan berbeda. Jika suaminya bisa bersikap lembut pada sang adik ipar, kenapa pria itu begitu kasar padanya? Terlihat kebencian dan rasa jijik yang di tunjukkan pria itu padanya. Apa benar tak ada lagi harapan yang tersisa untuknya? Apa benar semuanya hanya akan menjadi sia-sia? Apakah ia harus berhenti berjuang dan meninggalkan semuanya? Hatinya sakit, sangat sakit.