Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 20


__ADS_3

Hati ini merintih sakit,


Meraung menahan perih yang terus menggigit


Tak terbilang betapa sakit, hingga hati ini ingin sekali menjerit


🌹🌹


Happy reading


Aisyah berdiri di atas balkon kamar, menatap langit kelam tanpa bintang. Pikirannya menerawang entah kemana. Beberapa waktu lalu masih terdengar tawa dari lantai bawah. Tawa kebahagiaan ketiga orang yang sedang bercengkrama setelah makan malam. Aisyah sengaja tidak bergabung demi hatinya baik-baik saja. Percuma ada di sana tapi tidak di anggap. Begitu pikirnya. Sudah satu jam ia berdiri di sana, di temani hembusan angin malam yang menusuk kulitnya. Semakin malam semakin dingin, tapi ia mencoba mengabaikan. Dinginnya angin malam tidak sedingin sikap dari suami dan mertuanya.


Ia mengusap bulir bening yang gak sengaja turun, entah berapa banyak air mata yang turun semenjak malam pertama itu. Malam pertama yang seharusnya bahagia, malah berubah menjadi petaka yang tiada ujungnya. Jujur sebenarnya ia lelah, ia mencoba bertahan dan memperbaiki hubungannya dengan sang suami. Tapi semakin hari hubungan keduanya semakin terasa renggang dan mencekam. Malam ini ia sengaja mengenakan dress minim bewarna merah maroon, sangat kontras di tubuhnya yang tinggi dan putih. Pakaian itu sangat minim, sangat menggugah napsu bagi pria yang melihatnya. Ia ingin merayu suaminya agar mau menyentuhnya. Ia tidak bisa jika terus-menerus begini, ia harus bertindak.

__ADS_1


Ia harus menyelematkan pernikahannya yang hampir karam.


Setelah sekian lama menunggu, ia mendengar pintu kamar yang di buka. Langkah kaki suaminya terdengar jelas. Tubuhnya berbalik, menyuguhkan senyum manis pada suaminya yang datang. Aisyah melangkah ke arah suaminya yang tertegun, menatap istrinya yang begitu menawan. Surai hitam itu terurai bebas menyentuh punggung, wajah cantik Aisyah mengenakan make up tipis, natural menambah kecantikan wanita itu. Arzan menelan ludah kasar, naluri prianya bangkit melihat penampilan istrinya.


"Mas, kenapa lama sekali?" tanya Aisyah lembut.


"Eh, iya. Tadi Mama masih mau ngobrol."


"Oh, gitu. Kamu mau tidur?" tanya Aisyah dengan jemari yang sengaja menyentuh wajah suaminya. Semula jemari lentiknya menyentuh alis tebal sang suami, lalu turun ke hidung lalu ke bibir. Jujur ia merindukan bibir itu.


"Apa yang kamu lakukan, Aisyah?" tanya Arzan seraya menetralkan napasnya.


"Aku hanya ingin menunaikan kewajiban ku sebagai istri, mas."

__ADS_1


"Tapi ..."


Belum lagi pria itu menyelesaikan ucapannya, bibirnya telah di bungkam dengan paksa oleh Aisyah. Arzan mendelik mendapatkan serangan yang tiba-tiba dari sang istri. Hingga Aisyah mendorongnya ke ranjang, ia hanya pasrah. Tapi ketika wanita itu kembali menenggelamkan bibirnya ke bibir Aisyah, Arzan mendorong tubuh istrinya hingga ke belakang. Hal itu membuat Aisyah terkejut bukan main.


"Mas, kenapa?" tanya Aisyah. Sorot matanya terlihat sangat terluka karena mendapatkan penolakan dari sang suami.


"Jangan menyentuhku! Bukankah susah aku bilang bahwa kau menjijikan? Aku jijik di sentuh kamu, Aisyah! Aku jijik membayangkan berapa banyak yang telah menikmati tubuhmu!"


Deg ....


Jantung Aisyah bagai berhenti bekerja. Bulir bening itu kembali terjatuh dengan deras.


"Mas, tidak bisa kah kamu menerima masa laluku? Harus dengan apa agar kamu mau memaafkan aku, mas?" wanita itu tergugu.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, Aisyah. Aku tidak bisa. Aku jijik."


Wanita itu memegangi dadanya yang sesak. Tanpa mengucapkan satu kata pun Arzan turun dari ranjang, melangkah pergi meninggalkan istrinya yang sedang terisak. Ia menuju ruang kerjanya, dan memutuskan untuk tidur lagi di sana malam ini.


__ADS_2