
"**Singgasana itu telah rusak
Pondasi yang merupakan kepercayaan sudah luluh lantak
lalu datang badai yang semakin membuat dada sesak"
🍂🍂🍂
Happy reading**....
"Kak ...." panggil seorang gadis dari belakang Aisyah sehingga membuat wanita yang sedang melamun itu menoleh. Sebelum membalikkan tubuh, ia dengan cepat menghapus jejak air mata yang sempat membasahi wajahnya. Menarik sudut bibir membentuk lengkungan senyum manis seolah tidak terjadi apapun.
Ia berdiri, netranya menangkap wajah ceria milik sang adik tiri. Gadis itu terlihat cantik dengan dress tanpa lengan sebatas lutut. Dengan motif bunga sakura bewarna pink. Ia dan adik tirinya memang sangat berbeda. Jika dirinya berdandan seadanya, berbeda dengan gadis yang sedang berjalan menghampirinya itu. Gadis itu sangat modis, selalu mengutamakan penampilan dan suka memakai baju sexy. Wajahnya cantik di tambah make up yang membuatnya semakin cantik. Wajahnya selalu ceria dan tersenyum renyah.
"Dita ...." lirih istri dari Arzan itu. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan sang adik yang sudah beberapa hari tak di temuinya.
"Hai kak, apa kabar? Aku kangen banget sama kakak." kata gadis itu seraya memeluk kakak tirinya sebentar.
"Kakak baik, kamu gimana?" bohong Aisyah tanpa melunturkan senyumnya sedikit pun.
"Baik dong,"
"Kamu semakin ceria setelah beberapa hari nggak ketemu. Kakak juga kangen banget sama kamu." ucap Aisyah seraya mengelus lengan adiknya.
"Tenang aja. Mulai sekarang kakak nggak akan ngerasain kangen lagi sama Dita."
Aisyah mengernyitkan keningnya, menatap heran pada adiknya. Ia tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Dita.
"Maksudnya gimana?" tanya Aisyah kebingungan.
"Ya mulai saat ini, Dita tinggal di sini ya. Kan kampus Dita dekat dari sini. Cuma beberapa menit doang. Kalo dari rumah kan jauh kak, kadang Dita suka telat karena macet."
__ADS_1
"Apa?" Aisyah terkejut setelah mendengar penuturan adiknya.
"Maksudnya, kamu akan tinggal di sini? di rumah ini?"
Dita mengangguk tanpa dosa.
"Boleh kan kak?"
"Dita, bukannya kakak nggak boleh. Tapi gimana sama kak Arzan? Rumah ini kan punya kak Arzan."
"Kak Arzan pasti boleh. Dia kan orangnya baik, nggak pelit. Lagian rumahnya kan besar, banyak kamar yang kosong juga kan? Sayang banget kalau nggak di isi. Mending Dita yang isi, dari pada hantu yang tidur di sana 'kan?"
Aisyah memejamkan matanya sebentar, ia tak tahu harus berkata apa. Jujur ia tidak enak pada suaminya, terlebih permasalahan yang belum selesai di antara mereka. Ia pun tidak tahu apakah pernikahannya bisa di selamatkan atau tidak. Apalagi tadi malam Arzan bahkan sudah mengatakan cerai padanya.
"Kak, jangan pelit kenapa? Dita ini adik kakak loh."
"Dita, bukan begitu. Kakak cuma nggak enak sama kak Arzan. Kita baru beberapa hari menikah,"
"Tapi Dit ...."
"Kamu ini gimana sih Asiyah? Pelit banget sama adik sendiri. Apa mentang-mentang Dita ini adik tiri, jadi kamu pelit sama dia?" suara mama tirinya pun muncul dari arah belakang, wajahnya sudah merah karena marah. Aisyah menghela napas berat, hatinya menjerit. Apa lagi ini ya Allah?
"Bukan begitu, Bu."
"Apanya yang bukan begitu? Biar Ibu yang bilang nanti sama nak Arzan. Kamu cukup diam jangan banyak berkomentar. Lagian kamu juga numpang di rumah ini."
Aisyah berusaha menguatkan hatinya, hatinya sudah kacau kini semakin kacau di tambah oleh dua perempuan yang berdiri di depannya.
"Terserah kalian aja."
"Iyalah. Terserah kami. Udah dapat orang kaya harusnya kamu juga ajak adik kamu hidup enak. Lagian kalau dari rumah 'kan jarak kampusnya sangat jauh. Kalau dari sini 'kan lebih dekat. Jangan pelit-pelit kamu!"
__ADS_1
Aisyah hanya mengelus dadanya. Jika ia masih dengan karakter yang sama seperti beberapa tahun lalu, mungkin adik dan mama tirinya sudah habis di hajar.
"Ibu dan Dita mau minum apa?" tanya Aisyah beramah tamah. Ia tetap memaksakan senyum demi menutupi kekesalan hatinya.
"Nah gitu, dong. Ada tamu itu di bikinin minum, di suguhin makanan yang enak-enak. Dari tadi juga berdiri aja, nggak di ajak masuk."
"Ayo kita masuk, nanti Aisyah minta bawain minum dan kue sama mbok Sumi."
"Ya udah ayok." Wanita yang merupakan Ibu tirinya itu berjalan mendahului untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Aisyah berjalan di belakang bersama Dita.
"Maaf ya kak, Dita malah ngerepotin. Kakak nggak keberatan 'kan kalau Dita tinggal di sini?"
Dita hanya menggelengkan kepalanya.
"Kakak emang baik banget. Tapi kakak nggak takut 'kan kalau Dita ngerebut Kak Arzan? Secara Dita kan lebih cantik dari kak Aisyah." ucap gadis itu dengan tawa. Sontak saja hal itu membuat Aisyah menghentikan langkahnya dan menoleh pada gadis yang tengah tertawa riang di sebelahnya.
Melihat wajah tak mengenakkan dari Kaka tirinya, membuat gadis itu semakin tergelak.
"Astaga. Dita hanya bercanda, kak. Lagian mana mau kak Arzan sama Dita. Dia kan cintanya sama kakak. Walaupun Kakak nggak secantik Dita, tapi pasti dia akan setia kok sama kakak. Tenang aja," gadis itu berkata sangat ringan, seringan kapas tanpa mempedulikan perasaan wanita yang telah dah menjadi istri Sah dari pria yang baru saja di bicarakannya. Sementara Aisyah hanya diam, menekan dalam-dalam perasaan sakit yang mencuat. Sedikit banyaknya perkataan adik tirinya juga menyinggung serta memercikkan luka di hatinya.
"Ohya kak, gimana malam pertama kalian? Pasti sangat berkesan, 'kan? Kak Arzan perkasa nggak? Kalau di lihat-lihat nih ya, Kak Arzan pasti jago di ranjang. Lihat aja bentuk tubuhnya yang atletis banget. Uhh ... idaman semua wanita."
"Astaghfirullah, Dita. Apa yang kamu bicarakan?"
Aisyah tak habis pikir dengan ucapan frontal Dita. Pasalnya ucapannya itu tak layak di ucapkan oleh sang adik ipar dan wanita yang belum menikah.
"Ish kakak mah kaku banget sih. Lagian Dita udah paham kok yang begituan. Cuma belum praktek aja. Nggak kayak kakak yang udah praktek duluan sebelum menikah. Eh iya, gimana reaksi kak Arzan setelah tahu kakak nggak perawan? Semuanya aman 'kan?" tanya gadis itu tanpa dosa.
Aisyah semakin mengencangkan istighfarnya dalam hati. Ucapan Dita benar-benar telah melukai hatinya. Ia pun berani mengusik masalah yang sangat pribadi dalam rumah tangganya.
"Stop, Dit. Kamu sudah sangat keterlaluan!" bentak Aisyah dengan menahan amarah yang sejak tadi di tahannya.
__ADS_1