Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 33


__ADS_3

Ku ulas senyum meski hati sesak menahan perih


Kan ku tunjukkan bahwa aku kuat


Kan ku nikmati meski luka terus merambat


🍁🍁


Happy reading


Arzan memasuki kamarnya dan mendapati sang istri yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kaki serta paha yang terbuka saling bertumpu. Mengulas senyum terbaik dengan tampilan yang sangat menggoda keimanannya. Gaun tidur yang tipis, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh Aisyah yang tidak mengenakan pakaian dalam. Wajah wanita itu yang biasanya natural tanpa make up, kini tampak lebih cantik dengan dandanan sederhana yang tidak berlebihan. Arzan susah payah meneguk ludah, matanya melotot sempurna melihat penampilan sang istri yang beda dari biasanya. Terlihat sangat cantik dan ... Begitu menggoda. Membuat sisi kejantanannya di bawah sana menjulang.


"A-Aisyah, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Arzan tergagap. Kakinya seolah terpaku di lantai, tubuhnya membeku dengan lidah yang kelu. Wanita itu mengabaikan pertanyaan sang suami, ia menginjakkan kaki jenjangnya ke lantai yang dingin. Melangkah dengan perlahan ke arah sang suami yang hampir saja meneteskan air liur. Mata Arzan mendelik sempurna kala wanita itu menghampirinya dengan gaya yang seksi. Gaun itu sangat tipis, membentuk sempurna tubuh seksi Aisyah. Senyum manis tak juga luntur dari bibir wanita itu. Berjalan menatap Suaminya tanpa putus, kini jemari lentik wanita itu sudah berada di wajah Arzan.


"Mas, aku rindu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku?" tanya Aisyah dengan menggerakkan jari telunjuknya di dada bidang sang suami. Mendapat hal semacam itu membuat Arzan semakin tak tahan untuk menahan gelombang hasrat yang semakin menggulung. Kenapa malam ini istrinya terlihat sangat menggoda?


"A-Aisyah, jangan seperti ini." desah Arzan dengan napas berat tanpa memutuskan pandangannya pada wajah cantik sang istri.


"Mas, aku hanya rindu. Apa salah jika aku merindukan suami ku sendiri?" .

__ADS_1


Arzan menggeleng dengan cepat.


"Aisyah, aku tidak bisa." sekelebat bayangan tentang masa lalu sang istri membuat Arzan menarik diri, ia mundur ke belakang. Aisyah tak menyerah, ia akan berusaha membuat Arzan terkesan dan tidak dapat menolaknya malam ini. Karena ia berpikir, apa yang di dapatkan Arzan pada Dita? Cinta? tentu saja tidak! Ia sudah mendengar sendiri bahwa suaminya masih sangat mencintainya. Jika di pikirkan lagi, ia berselingkuh dengan Dita hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Aisyah terus berusaha merayu suaminya, ia ingin memperbaiki rumah tangganya yang sedikit lagi akan kandas. Ia hanya berpikir bahwa menikah cukup satu kali seumur hidupnya. Maka dari itu ia akan berusaha dan selalu berupaya untuk menyelamatkan pernikahannya.


"A-Aisyah, tolong hentikan!" cegah Arzan ketika wanita itu mendekatkan wajahnya.


"Tapi kenapa, Mas?" tanya Aisyah dengan tatapan penuh luka.


"Kamu masih bertanya kenapa?"


Aisyah hanya bisa terdiam menatap suaminya dengan dalam.


Tubuh Aisyah membeku, hatinya terasa sangat sakit dengan pengakuan suaminya. Ini adalah penolakan kesekian kalinya dari sang suami.


"Apa aku tidak bisa menjadi istri seutuhnya untuk kamu, Mas? Kamu bilang sangat mencintai ku, tapi kenapa kamu tidak bisa menerimaku? Aku bukan wanita murahan yang bisa dengan seenaknya mengobral tubuhku untuk semua pria mas. Dia adalah orang pertama yang mengambil kesucianku. Dia yang berjanji akan menikahi ku dan dia juga yang telah meninggalkan aku untuk menikah dengan wanita lain. Setelah dia meninggalkan aku, tidak pernah sekalipun aku melakukan hal terlarang itu, Mas. Tapi dengan teganya kamu membayangkan bahwa banyak pria yang menyentuh tubuhku? Semurahan itu aku di mata kamu, Mas?" Aisyah menatap nanar pada suaminya. Tak terhitung lagi berapa air mata yang jatuh di wajahnya. Hatinya sakit, terlalu sakit.


"Dan di sebut apa wanita yang menyerahkan diri kepada suami orang? Sudah jelas bahwa pria itu sudah beristri, tapi dengan suka rela ia menyerahkan diri pada pria beristri? Yang murahan di sini siapa, Mas? Aku atau dia?" teriak Aisyah tak terkendali. Sekian lama dirinya menahan rasa sakit yang terus menyerangnya. Kilasan kejadian mesra keduanya selalu memenuhi isi kepala, menusuk hatinya dengan sangat sakit. Jika dengan wanita lain suaminya bisa begitu bernapsu, tapi kenapa dengan istrinya pria ini malah jijik?


"Sesuci apa kamu, Mas? Apa kamu begitu suci sehingga kamu bisa menghakimi apa yang aku lakukan di masa lalu? Sekarang apa bedanya kamu sama aku? Dulu aku melakukannya ketika masih remaja, belum milik siapa-siapa dan masih labil. Dan setelahnya aku menyesal dan berubah serta menjaga diri sampai menikah untuk suamiku. Tapi kamu, kamu malah berselingkuh padahal kamu tahu kamu itu milik aku, Mas! Coba tanya sama hati kamu Mas. Siapa di sini yang menjijikkan? Aku atau kamu?!"

__ADS_1


"Tanya hati kamu, Mas!" Aisyah menunjuk dada kiri suaminya dengan wajah penuh air mata. Arzan hanya terdiam menatap istrinya, hatinya terasa hampa. Ia merasa menjadi manusia paling jahat di dunia. Ia sadar, jika dirinya lah yang menjijikkan. Tubuhnya mematung dan tak bergerak, sementara Aisyah berlalu menuju lemari. Memakai celana panjang dan jaket miliknya. Ia meraih ponsel dan tas kecil yang berada di atas nakas. Melewati suaminya begitu saja, ia pergi membawa hati yang babak belur penuh luka. Meninggalkan suaminya yang belum sadar akan kesalahannya.


Setelah Aisyah sampai di bawah, Arzan baru tersadar. Ia segera mengejar wanita itu sebelum terlambat.


"Aisyah, kamu kau kemana?" teriak Arzan dari atas. Ia melihat wanita itu akan sampai di depan pintu. Aisyah tidak menoleh sedikit pun, mengabaikan teriakan Arzan yang terlihat panik. Sungguh dirinya tidak siap jika harus kehilangan sang istri. Mendengar teriakan Arzan, Mbok Sumi dan Dita keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.


"Aisyah, tolong jangan pergi!" pria itu bergerak menuruni anak tangga untuk mengejar Aisyah, tapi belum sampai pintu Dita sudah menghalanginya.


"Biarin dia pergi, Kak. Bukankah itu bagus? Ini kesempatan kita untuk bersama. Aku nggak perlu susah payah untuk mengusir dia!"


"Apa hak kamu mau mengusir Aisyah? Dia itu istri aku, dan dia adalah kakak kamu!"


"Kakak itu milik aku! Meski aku bukan istri sah kak Arzan, tapi hubungan kita lebih dari suami istri. Bukankah setiap malam aku yang kakak tiduri? Jadi kenapa kakak malah membela dia dan mencegah dia pergi? Biarkan dia pergi dan kita menikah! Kita akan hidup bahagia, kak. Aku akan membuat kakak bahagia!" teriak Dita dengan menggebu-gebu. Arzan menatap tak percaya pada adik iparnya. Ia sudah salah langkah, Arzan benar-benar sudah terjebak oleh bujuk rayu wanita itu. Dan kini, ia baru menyadari jika Dita bukan wanita baik-baik. Wanita ini bahkan tega mengkhianati kakaknya yang sudah begitu baik padanya. Dan dirinya malah terperangkap begitu saja oleh jebakan wanita ini. Ia merasa begitu menjijikkan.


"Minggir!" Arzan menggeser tubuh Dita yang menghalanginya Sehingga membuat wanita itu mendelik tak percaya.


"Kakak mau kemana? Jangan pergi kemana pun! Aku nggak rela kakak pergi buat ngejar dia!" teriak Dita histeris. Tapi Arzan tak mempedulikan teriakan wanita itu. Ia mencari istrinya di halaman rumah, tapi ia tidak mendapati istrinya di manapun. Hal itu membuatnya panik. Ia tidak mau kehilangan Aisyah!


Dengan cepat, ia segera menuju garasi. Menaiki mobilnya dan memacu dengan kecepatan tinggi. Dita yang mencoba menghalanginya hampir saja tertabrak jika wanita itu tidak mengelak. Arzan benar-benar kacau, ia segera membelah jalanan dengan tergesa sebelum semuanya terlambat.

__ADS_1


__ADS_2