
Wahai hati, teruslah kuat dan jangan mudah menyerah
Genggam erat-erat rasa yang tak lagi bisa di redam
Rasa yang ingin meledak karena terlalu lama terpendam
Rasa sakit yang terus menusuk terlalu dalam hingga diam-diam membuatku tenggelam
🌹🌹
Happy reading
Aisyah dan Mbok Sumi sibuk menyiapkan makan malam, keduanya menata hasil masakan di atas meja. Ada banyak jenis makanan yang terhidang. Ibu mertuanya belum pulang karena ingin menginap malam ini di rumah Arzan, anaknya. Setelah hidangan makan malam selesai di tata rapi, Aisyah meninggalkan Mbok Sumi untuk memanggil suami, Ibu mertua serta adik tirinya yang sedang bercengkrama di ruang tv.
__ADS_1
Aisyah terpaku, langkah kakinya terhenti ketika melihat ketiganya tertawa lebar tanpa beban. Terlihat bahagia layaknya sang Ibu sedang bersama anak dan menantunya. Sikap Ibu mertuanya dengan Dita sangatlah berbeda, jika bersama adiknya Ibu mertuanya akan tertawa tidak jika sedang bersamanya. Wanita separuh baya itu akan selalu marah dan tidak suka. Suasana akan menjadi canggung dan tidak enak.
Aisyah menghela napas sejenak, menyiapkan hati agar lebih kuat. Mengumpulkan sisa-sisa senyum yang sebenarnya sudah hilang terkikis perih. Memasang wajah terbaik, mengulas senyum yang akan di suguhkan kepada suami dan mertuanya.
Ia melangkah menuju ruang tv menghampiri ketiganya. Tawa ketiganya langsung terhenti setelah melihat kedatangan Aisyah.
"Mas Arzan, Mama, Dita. Makan malamnya sudah siap, ayo kita makan." ajak Aisyah dengan senyum yang ia suguhkan.
"Oh, udah selesai ya. Ayok Arzan, Dita! Kita makan. Mama udah laper banget." Ibu mertuanya berdiri di ikuti oleh Arzan dan Dita.
"Iya nih, istri kamu lama banget masaknya. Cuma bantuin Si mbok aja lama. Harusnya dia yang masak semuanya." wanita itu melirik sinis pada menantunya.
"Ma, udah dong. 'Kan Aisyah udah bantuin. Lagian nanti dia juga bisa masak kok. Sekarang sambil belajar dulu."
__ADS_1
"Kamu ini! Masih aja belain menantu nggak bisa apa-apa ini. Harusnya kamu bisa lebih tegas sama dia. Biar nggak ngelunjak."
"Udah ma, kita makan sekarang ya." Arzan mencoba menenangkan mamanya.
"Ya udah, ayok." wanita itu menggandeng Dita dan Arzan di sisi kiri kanannya. Melihat hal itu Aisyah hanya terdiam dan merasa iri. Bukankah seharusnya dirinya yang ada di sana?
Sementara Dita dan Arzan juga ikut melirik wanita yang berdiri di hadapan mereka. Aisyah tersenyum kecut, sekecut nasibnya yang tak beruntung.
Ketiganya berjalan melewati Aisyah tanpa merasa berdosa. Kecuali Arzan yang merasa bersalah. Meski bagaimana pun, ia masih merasa tidak tega dengan segala perlakuan sang mama pada istrinya.
"Aisyah, ayo kita makan." ajaknya.
Mendengar hal itu, membuat Aisyah tersenyum pedih. Suaminya masih mengingatnya dan mengajaknya makan bersama. Hampir saja bulir bening itu turun jika ia tidak menahannya.
__ADS_1
"Ya udah sih, nanti juga dia nyusul." kata Ibu Arzan. Ia pun mengajak anaknya dan Dita pergi ke ruang makan. Aisyah hanya berjalan dengan pelan di belakang, hatinya cukup senang karena masih ada kepedulian di hati suaminya.
Makan malam itu seperti yang di bayangkan Aisyah sebelumnya. Ketiganya hanya bercengkrama tanpa melibatkan Aisyah yang notabenenya adalah istri sah dari Arzan. Ia bagai tak terlihat, hanya sekedar bayangan yang tak di pedulikan. Hati Aisyah terasa sangat sakit. Ingin rasanya ia lari dan pergi saja dari sana. Di abaikan begitu saja dan tak di anggap.