
**Bak tertimpa tangga, derita datang tanpa memberi aba-aba
Menghantam keras tubuhku yang lelah
Menerjang ku tanpa bertanya apa-apa
πΌπΌ
Happy reading**
Aisyah baru sampai di rumah sakit ketika hari mulai petang. Dengan sedikit basah ia segera memasuki kamar rawat sang Ayah. Pria yang terbaring itu terlihat tidur sehingga membuat Aisyah tersenyum. Wanita itu menghampiri sang Ayah berniat untuk membangunkannya. Ia menghampiri sang Ayah, menyentuh perlahan tubuhnya yang diam.
__ADS_1
"Pak, Aisyah sudah sampai." ujarnya lembut seraya mengusap lengan pria itu tapi tak ada respon dari Ayahnya sehingga membuat Aisyah panik bukan main. Beberapa kali ia mencoba kembali untuk membangunkan sang Ayah, tapi tetap saja pria itu tidak mau bangun. Hingga akhirnya Aisyah segera memanggil dokter, ia sudah menangis. Tak tahu harus bagaimana lagi. Ia kebingungan sendirian tanpa ada yang bisa menenangkan.
Aisyah melihat tim dokter sibuk memeriksa keadaan sang Ayah, mencoba mencari penyebab mengapa ayahnya bisa begini.
"Maaf mbak, sebaiknya anda menunggu di luar saja. Kita berusaha untuk memeriksa keadaan Ayah anda." kata sang suster yang menggiring Aisyah keluar ruangan.
Aisyah menggeleng, ia tidak ingin keluar dan meninggalkan ayahnya seorang diri.
"Tidak , sus. Saya ingin melihat keadaan Ayah saya." teriaknya histeris. Ia mencoba menerobos masuk, tapi suster tetap tidak mengizinkan.
"Tadi Bapak baik-baik aja, kenapa setelah aku kembali keadaan Bapak begini? Ada apa dengan Bapak sebenarnya?" ujarnya seraya terus mondar mandir.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... Bapak kenapa? Selamatkan Bapak ya Tuhan. Ku mohon ...." lirihnya penuh kesedihan yang mendalam. Rasa takut semakin menyeruak, menerobos masuk memporak-porandakan hatinya. Ia takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bayangan buruk segera melintas, membuat dirinya semakin khawatir dan tak bisa berpikir jernih. Tak lama pintu ruang rawat terbuka, seorang dokter di ikuti suster keluar dengan wajah tidak baik-baik saja. Tampak murung dengan penuh penyesalan. Aisyah yang melihat itu pun segera berlari menghampiri, menanyakan keadaan sang Ayah.
"Dokter, bagaimana keadaan Bapak saya? Bapak saya kenapa, dok? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Aisyah menggebu. Ia memberondong dokter itu dengan pertanyaannya. Sang dokter tampak kebingungan dan saling pandang dengan suster yang mendampinginya. Dokter itu menghela napas sebelum mengatakan sesuatu pada wanita yang terlihat sangat panik itu.
"Maafkan kami, mbak. Kami tidak bisa menyelamatkan Ayah anda." lirihnya penuh penyesalan sehingga membuat Aisyah terdiam tak percaya. Ia menatap remeh pada dokter yang sedang menatapnya penuh sesal.
"Jangan bercanda, dok. Anda pasti sedang bercanda, kan?" kata Aisyah seraya tertawa getir.
"Maaf, mbak. Saya tidak bercanda. Waktu kematian Ayah anda pukul 18.25 WIB. Maaf, kami sudah melakukan sebaik mungkin tapi Allah berkehendak lain." Bak di sambar petir di siang hari, Aisyah mematung tak percaya. Ia mencoba mencari kekuatan untuk bergantung, tapi nyatanya tidak ada. Rasa tak percaya dan terkejut menghantamnya secara bersamaan.
"Dokter pasti bohong, 'kan?" tanya Aisyah masih tak percaya. Sementara sang dokter hanya diam tanpa kata. Ia sudah terbiasa menghadapi reaksi seperti ini dari keluarga korban, sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam.
__ADS_1
"Tadi Bapak baik-baik saja ketika saya tinggalkan. Tadi Bapak masih sehat, dok. Kenapa sekarang ... Kenapa sekarang Bapak pergi dengan tiba-tiba?" teriaknya histeris penuh kesakitan. Ia mencengkram jas dokter itu dengan kuat. Di saat bersamaan datang Desy dan Haris, keduanya tampak bingung dengan keadaan rumit yang terjadi.
"Kalian bohong, 'kan? Kalian pasti bohong!" tuding Aisyah tidak terima. Ia menjerit histeris dan Desy serta Haris mencoba menenangkan. Keduanya sempat tak percaya setelah dokter menjelaskan. Ketika akan menghampiri sang Ayah, tubuh Aisyah yang lemah ambruk luruh ke lantai yang dingin. Asiyah pingsan!