She'S Come Back

She'S Come Back
Bab 10 - Pengobatan Mamihnya Alika


__ADS_3

Papahnya Alika pergi ke rumah sakit Borromeus untuk menanyakan rujukan dokter ahli saraf, ternyata mendapatkan rujukan dokter Benny Hadiatma.


Tok tok tok


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster.


"Saya sudah janjian dengan dokter Benny, apa dokter sudah datang?" tanya papahnya Alika.


"Sebentar lagi akan datang, silahkan di tunggu dulu," ucap suster.


Papahnya Alika pun menunggu di ruang tunggu yang disediakan dekat ruangan dokter Benny. Tak lama kemudian dokter Benny sudah datang dan suster mempersilahkan untuk masuk.


"Silahkan masuk pa, dokter sudah datang," ucap suster.


"Oh iya, terima kasih," ucap papahnya Alika.


Papahnya Alika pun masuk ke dalam dan bertemu dengan dokter Benny.


"Selamat sore dok, perkenalkan saya Soni," ucap papahnya Alika.


"Oh iya pa Soni, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Benny.


"Begini dok, istri saya saat ini terkena kanker otak. Hasil pemeriksaan di Surabaya, menyatakan sakit kanker dan dapat rujukan dokter Benny dari rekan saya di Surabaya," ucap papahnya Alika.


"Lebih baik istrinya dibawa kesini, biar saya bisa melihat keadaannya dan bisa pengecekan ulang," ucap dokter Benny.


"Baik dok, mungkin besok saya akan datang kesini bersama istri saya," ucap papahnya Alika.


"Baik besok, kita agendakan jam 3 sore dan ini kartu nama saya," ucap dokter Benny.


"Baik dok, terima kasih. Saya pamit dulu, besok saya kesini lagi bersama istri saya," ucap papahnya Alika.


Papahnya Alika yang bernama Soni pun telah keluar dari ruangannya.


"Rasa - rasanya seperti pernah bertemu dengan orang yang tadi, tapi dimana ya!" gumam dokter Benny dalam hati.


Sore ini dokter Benny membuka praktek, banyak pasien yang mengantri untuk pemeriksaan atau konsultasi bersama dokter Benny.


4 jam sudah dokter Benny membuka praktek, kini waktunya pulang ke rumah untuk makan malam bersama istri dan anak - anaknya.


Setiba di rumah, langsung mandi dan mengecek Fauzi sedang apa.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Fauzi.


"Papih nak!" ucap papih.


"Masuk aja pih, gak di kunci," ucap Fauzi.


"Lagi apa nak?" tanya papih.


"Habis belajar, sekarang main games bentar," ucap Fauzi.


"Kita turun untuk makan malam yuuu, mamih udah nunggu di bawah," ucap papih.


Fauzi mematikan ponselnya dan turun ke bawah untuk makan malam bersama.


"Eh anak mamih yang ganteng! udah belajarnya?" tanya mamih.


"Udah mih, tadi sempat main games bentar," ucap Fauzi.

__ADS_1


"Ya udah kita makan dulu," ucap mamih.


Mereka hanya makan malam bertiga saja, karna Alfred dan Felisya sudah mulai jarang pulang. Mereka sudah memiliki apartment sendiri.


Makan malam pun terasa hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu di atas piring. Akhirnya makan malam pun telah selesai, lalu mamih mengeluarkan jus mangga kesukaan Fauzi.


"Makasih mih," ucap Fauzi.


"Sama-sama sayang," ucap mamih.


Fauzi membawa jus mangga itu ke ruang TV dan Fauzi duduk di sofa, bagi siapa aja yang duduk di sofa itu pasti bawaannya mengantuk.


Fauzi tak ingin berlama-lama di sofa itu, Fauzi segera menghabiskan jus mangganya. Lalu Fauzi naik ke atas dan segera untuk tidur, karena hari sudah semakin malam.


.


.


.


Alarm suara adzan sudah berbunyi, Fauzi segera bangun dari tidur yang nyenyak itu. Fauzi bergegas untuk mandi dan mengambil air wudhu untuk solat.


Fauzi sudah siap untuk turun dan segera berangkat sekolah.


"Pagi mih," ucap Fauzi.


"Pagi sayang, ini bekal untuk makan siang. Sekarang sarapan dulu," ucap mamih.


Fauzi pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang mamih, setelah sarapan Fauzi berangkat sekolah diantar oleh supir.


Fauzi sudah tiba di sekolah, di gerbang sudah ada Lukas dan Alika yang menunggu kedatangan Fauzi.


"Pagi nak!" ucap pa Andi.


"Hai kawan-kawan, nunggu siapa?" tanya Fauzi.


"Nunggu kamu," ucap Lukas dan Alika.


"Kita ke kelas yuuu, bentar lagi bel masuk," ucap Fauzi.


Kini Fauzi masuk ke dalam kelas bersama dua sahabatnya, Fauzi termasuk anak yang baik. Mau bergaul dengan siapa aja, tanpa melihat temannya miskin atau kaya.


Akhirnya jam pelajaran pun telah selesai, semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah. Supir pribadi yang menjemput Fauzi telah menunggunya, Fauzi pun pamit pada Alika dan Lukas.


"Alika... aku duluan ya," ucap Lukas.


"Ati-ati di jalan," ucap Alika.


Alika masih menunggu jemputan, akhirnya sang papih sudah menjemputnya. Ternyata menjemput Alika bukan hanya papih tapi ada mamihnya, karena hari ini ada pertemuan dengan dokter Benny.


"Tumben mamih ikut jemput?" tanya Alika.


"Iya mamih sekalian mau ke rumah sakit untuk berobat nak," ucap Mamih.


"Ya mih," ucap Alika.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit Borromeus dan menunggu kedatangan dokter Benny.


Alika dan mamih tidak mengetahui jika dokter yang dinantikan itu seorang ayah dari Fauzi.


"Pih... nama dokternya siapa?" tanya Alika.

__ADS_1


"Dokter Benny Hadiatma," ucap papih.


Alika kaget mendengar nama dokter yang disebutkan oleh papih nya.


"Aduh gawat ini, kalau mamih tau kalau dokter yang dinantikannya merupakan ayah angkat dari Fauzi. Pasti mamih akan mengamuk ini!" gumam Alika dalam hati.


Flashback On


Ibu Lili merupakan seorang ibu dari Alika putri, Ibu Lili tidak menyukai sama Fauzi karna Fauzi hanyalah anak dari seorang asisten rumah tangga di keluarga dokter Benny.


Ibu Lili merasa tidak pantas, apabila anaknya bermain dengan Fauzi. Fauzi seorang anak miskin yang derajatnya tidak sama dengan ibu Lili, maka dari itu Alika dilarang bergaul dengan Fauzi.


Berbeda dengan bapak Soni yang merupakan seorang ayah dari Alika, pa Soni tidak pernah mempermasalahkan jika Alika bermain dengan siapapun. Justru pa Soni senang bila Alika bergaul dengan Fauzi, karna Alika menjadi semangat belajarnya.


Flashback Off


"Kenapa diam?" tanya papih.


"Tidak apa-apa pih, hanya saja Alika takut pih," ucap Alika.


"Takut apa?" tanya papih.


"Dokter Benny itu papih angkatnya Fauzi," ucap Alika.


Papihnya Alika pun kaget dengan pernyataan jika dokter Benny itu merupakan sosok ayah angkat dari Fauzi.


"Ya sudahlah kalau mamih nanti mengamuk dan tidak mau diobati oleh dokter Benny, papih akan menyuruh mamih buat berobat sendiri aja," ucap Papih.


"Iya pih! Alika setuju dengan rencana papih," ucap Alika.


Akhirnya dokter Benny pun telah tiba dan keluarga pa Soni dipersilahkan masuk, akhirnya pemeriksaan pun telah selesai.


Mamih Lili sudah menahan amarah sedari tadi, Alika sudah melihat raut wajah mamih nya yang menahan emosi.


"Pokoknya mamih tidak mau berobat, bila dokternya itu ayah angkat dari si anak miskin itu," ucap mamih.


"Ya sudah kalau mamih tidak mau, mamih berobat aja sendiri dan cari dokter sendiri! papih tidak akan mau mengurus dan tidak akan mau tau tentang penyakit mamih," ucap papih.


"Terus saya harus minta tolong sama siapa?" tanya mamih.


"Pikir aja sendiri! emangnya kamu pikir mencari dokter ahli saraf yang bagus itu mudah. Bila mudah, cari aja sendiri," ucap Papih.


"Sejago apa sih itu dokter?" tanya mamih.


"Dokter Benny itu dokter senior ahli saraf di Jawa Barat dan dokter terbaik di Borromeus," ucap papih.


"Jika mamih tetap tidak mau menerima dokter pilihan papih, Alika minta tinggal di apartment. Alika tidak ingin serumah dengan mamih yang selalu memandang orang miskin itu tidak sederajat dengan mamih," ucap Alika.


"Lihat anak kesayangan kamu, brani menentangku dan berani melawanku!" ucap mamih.


"Mih... Alika cape, kalau harus mengikuti semua keinginan mamih. Mamih tidak pernah belajar dari teman-teman mamih, harta kita tidak sebanding dengan teman-teman mamih! Kenapa sih berteman harus diliat dari kekayaan? kalau mamih seperti itu terus, Alika akan minta untuk tinggal di apartment atau tinggal di rumah eyang," ucap Alika.


"Jika mamih tetap dengan keinginan mamih, papih akan ikut dengan Alika," ucap papih.


Ibu Lili bingung dengan semua ucapan anak dan suaminya, karna selama ini ibu Lili menggantungkan hidupnya dari suaminya. Ibu Lili merupakan sosok yang lupa akan dari mana asalnya.


Ibu Lili seperti kacang yang lupa kulitnya, ibu Lili dulunya hanyalah seorang anak dari keluarga miskin. Lalu menikah dengan seorang pria kaya raya, kini hidupnya berlimpah mewah atas kekayaan suaminya.


"Baiklah... mamih akan ikut pilihan papi! asalkan kalian gak pindah ke apartment," ucap mamih.


Alika dan papih pun ikut senang mendengar ucapan sang mamih, tapi mereka harus tetap waspada. Karna suatu saat mamih nya bisa seenaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2