She'S Come Back

She'S Come Back
Bab 58


__ADS_3

Semua masih menunggu Anaya sadar, semua tidak berhenti memanjatkan doa untuk Anaya. Fauzi duduk di luar ruang rawat Anaya, karna Fauzi tidak sanggup melihat Anaya yang seperti ini. Ayah melihat Fauzi dan menghampirinya.


"Zi," ucap ayah.


"Iya yah," ucap Fauzi.


"Itu cincin di jari manis Anaya dari Fauzi?" tanya ayah.


"Iya yah, Fauzi udah menyatakan kalau Fauzi sayang dan cinta sama Anaya, sebelum Anaya koma," ucap Fauzi.


"Allhamdulilah, ayah bangga sama kamu. Kamu telah membuat Anaya bahagia di sisa akhir hidupnya," ucap Ayah.


"Iya yah, tapi Fauzi gak sanggup jika harus kehilangan Anaya selamanya," ucap Fauzi.


"Itu resiko yang harus Fauzi terima dan serahkan semua sama Allah ya. Jika Anaya sembuh, maka itu keajaiban dari Allah. Jika Anaya harus kembali ke pangkuan Allah, bukan hanya Fauzi yang kehilangan Anaya. Ayah pun akan kehilangan kekasih setelah istri pertama pergi untuk selamanya," ucap ayah.


Fauzi langsung melihat ke sampingnya dan memeluk ayah.


"Anaya merupakan wanita spesial yang keempat setelah almarhumah ibu pergi, cinta tidak dapat restu dari orang tua suster Alika, mamih Meliana yang selama ini selalu menjaga dan merawat Fauzi, dan kini Anaya," ucap Fauzi.


"Suster Alika yang itu?" tanya ayah sambil menunjuk ke arah salah satu suster.


"Alika itu temen dari sekolah dasar di Harapan bangsa, pas sma berpisah dan kuliah di pertemukan lagi. Akhirnya sempat pacaran dan akan meminta ijin sama orang tuanya Alika, tapi di tolak. Karna Fauzi tidak punya orang tua dan hanya anak angkat dari dokter Benny," ucap Fauzi.


"Ya Allah, sabar ya anak sulungnya ayah. Sekarang sudah tak perlu bersedih lagi, anggaplah ayah ini, seperti ayahmu sendiri," ucap Ayah.


"Makasih yah, walaupun ayah bukan ayah kandungnya Fauzi. Tapi Fauzi merasakan seperti ayah kandung, ayah gak pernah membedakan," ucap Fauzi.


"Iya sama - sama sayang, kita masuk yuuuk. Liat kondisi Anaya," ucap ayah.


Fauzi dan ayah bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke dalam ruang rawat Anaya. Masih belum ada perkembangan dari Anaya.


Fauzi melangkahkan kaki ke arah samping bed Anaya.


"Sayang... bangun, katanya ingin kumpul semua. Ini udah ada ayah, bunda, Ibu Nunung, Aris, Iyan, Dita, Adam, mbak Nita dan Om Rio," ucap Fauzi lalu mengecup kening dan mencium tangan Anaya.


Semua yang melihat Fauzi, langsung menatap dengan sendu. Tiba - tiba jari tangan Anaya bergerak, perlahan Anaya membuka matanya.


"Allhamdulilah," ucap semua yang ada di ruang rawat Anaya.


"A... ayah," ucap Anaya.


"Iya sayang, ayah di sini," ucap ayah.


Fauzi memberitahu pada dokter Benny, kalau Anaya sudah sadar. Dokter Benny pun masuk ke ruang rawat Anaya dan memeriksanya.


"Apa yang Anaya rasakan?" tanya dokter Benny.


"Anaya merasakan dingin dok," ucap Anaya.


Dokter Benny pun hanya bisa menghela nafas, karna hasil tensi darah dan yang lainnya semakin menurun.


"Pa Teguh, apa kita bisa bicara sebentar bersama Fauzi juga," ucap dokter Benny.


Fauzi dan ayah pun mengikuti dokter Benny ke luar ruangan.


"Gimana dok kondisi Anaya?" tanya Teguh.


"Kondisi Anaya semakin menurun pa, detak jantung dan detak nadi nya pun semakin melemah," ucap dokter Benny.


Fauzi dan ayah kaget mendengar penuturan dokter Benny tentang kondisi Anaya.


"Saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin, semuanya kembali lagi sama sangat pencipta yang memiliki kekuatan untuk umatnya," ucap dokter Benny.


Fauzi langsung terjatuh dengan lemas, karna tak sanggup bila harus kehilangan Anaya saat ini. Ayah yang mengerti perasaan Fauzi, ikut merasakan kesedihan. Ayah pun merasa sangat terpukul.


"Ya Allah, jika engkau ingin mengambil Anaya saat ini, Uzi ikhlas," ucap Fauzi dengan lirih.

__ADS_1


"Sabar Zi, yang tau masalah ini cuman kita berdua. Gimana sama yang di dalam sana? mereka pasti sangat terpukul. Kita harus tegar menerima semua ini sayang," ucap Ayah.


Fauzi pun berpikir sejenak dan langsung menghapus air mata yang sudah terlanjur turun dari matanya, Fauzi pun bangkit dan memeluk sang ayah.


"Papih yakin kamu bisa kuat menerima semua ini," ucap dokter Benny.


Fauzi pun hanya bisa menganggukkan kepala dengan mata menatap ke arah dokter Benny.


"Kamu harus kuat, biar yang di dalam sana juga kuat. Meskipun berat untuk di terima," ucap dokter Benny.


Tanpa mereka sadari bunda dan Aris mendengar semua obrolan itu, mereka berdua menghampiri mereka bertiga yang sedang mengobrol.


"Yah... apa benar nyawa Anaya gak bisa di selamatkan lagi?" tanya bunda.


Ayah, dokter Benny dan Fauzi yang mendengar pertanyaan bunda, langsung menatap bunda.


"Kita semua serahkan aja sama Tuhan, kalau di pertahankan terus, kasian kondisi Anaya yang akan terus menerus menahan sakit," ucap dokter Benny.


Bunda langsung memeluk ayah dan Aris memeluk Fauzi, semua pun jadi ikut menangis.


"Kalian harus kuat, kalian udah tau kondisi Anaya seperti apa. Tapi lihat lah yang di dalam sana, tidak tau dengan kondisi Anaya," ucap dokter Benny.


"Mungkin bagi Rio, Rio tau apa yang akan terjadi. Karna Rio bisa melihat apa yang akan terjadi, saat di ICU pun Rio berbicara lewat batin dengan arwah Anaya," ucap ayah.


Rio pun keluar dari ruang rawat Anaya dengan wajah yang pucat, mungkin batin Rio bekerja untuk berusaha mencari apa yang akan terjadi.


"Yah," ucap Rio.


"Iya Rio, ada apa?" tanya ayah.


"Batin Anaya mengatakan, kalau Anaya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Anaya sudah ingin bertemu dan pulang bersama ibunya ke surga," ucap Rio.


Semua yang mendengar ucapan Rio, langsung menangis dalam diam.


"Ya udah, sebaiknya kalian masuk ke dalam, berikan Anaya kebahagiaan untuk terakhir kalinya, sebelum Tuhan mengambil Anaya dari kalian semua," ucap Dokter Benny.


"Ayah, bunda, Ka Fauzi, Ka Aris, Ka Iyan, Mbak Nita, Om Rio,Ibu Nunung, Dita dan Adam... Anaya mau minta maaf. Maaf apabila selama ini Anaya ada salah baik di sengaja atau gak di sengaja. Maafin Anaya ya, Anaya takut gak sempat minta maaf sama kalian semua. Anaya sayang banget sama kalian semua," ucap Anaya.


Semua yang mendengar ucapan Anaya langsung meneteskan air mata, Dita langsung memeluk Anaya.


"Anaya sahabat Dita, kamu gak ada salah apa - apa sama Dita. Sebelum Anaya minta maaf, Dita udah maafin segala kesalahan Anaya. Yang penting sekarang Anaya harus berjuang untuk sembuh ya," ucap Dita yang melepaskan pelukkan dan mengecup kening Anaya.


Kini giliran Aris yang mendekat ke arah Anaya dan memeluk Anaya.


"Adek gak ada salah, justru kaka yang ada salah sama adek. Yang terpenting adek sehat lagi dan sembuh ya, katanya mau sekolah di bonceng pake motor gede. Motornya udah ada di rumah dek," ucap Aris dengan parau yang berusaha untuk tidak menangis di depan Anaya.


Aris melepaskan pelukkan dari Anaya, kini Adam yang sudah banjir dengan air mata.


"Kak, sehat lagi ya. Nanti siapa yang bantuin adek kerjain sekolah dan siapa yang akan bela Adam kalau lagi berantem sama ka Aris. Adam sayang banget sama kaka," ucap Adam sambil mengecup kening dan pipi Anaya.


Anaya sudah banjir dengan air mata, kini giliran Ibu Nunung.


"Anaya murid kesayangan ibu, sehat lagi ya sayang. Nanti kalau udah sehat, kita main ke Garut," ucap Ibu Nunung.


Ayah, bunda dan Fauzi sedang menahan untuk tidak menangis di depan Anaya, akhirnya Rio dan Nita pun memeluk Anaya.


Ayah dan bunda mendekati Anaya secara bersama.


"Anaya anak kesayangan ayah dan bunda, sehat lagi ya sayang. Nanti kalau sehat, kita ke Villa Puncak lagi. Kita bakar - bakaran lagi, kita jalan - jalan lagi," ucap Ayah dan bunda.


Ayah dan bunda bergantian memeluk Anaya dan mengecup kening Anaya. Fauzi masih terdiam tanpa bicara.


"Kak... Anaya pengen peluk," ucap Anaya sambil. merentangkan kedua tangannya.


Fauzi pun melangkahkan kaki menuju samping bed Anaya dan duduk di samping Anaya. Anya memeluk Fauzi dengan erat.


"Kak... makasih ya buat selama ini, udah jagain Anaya selama 24 jam. Kak maafin Anaya ya, kalau selama ini Anaya udah bikin kaka susah, Makasih juga buat kasih sayang dan cinta yang kaka kasih untuk Anaya. Kalau Anaya nanti pergi, di galery HP kaka ada sebuah video yang Anaya buat untuk Miko, nanti liatin sama Miko ya kak," ucap Anaya.

__ADS_1


"Kaka udah ikhlas untuk merawat Anaya dan kaka tulus sayang dan cinta sama Anaya. Anaya jangan bilang kalau udah gak kuat, Anaya harus kuat melawan semua ini," ucap Fauzi


"Anaya udah gak kuat kak, Anaya nyerah kak. Kak salamin buat ka Alika ya, kak peluk Anaya, Anaya dingin banget kak," ucap Anaya.


Fauzi merasakan tubuh Anaya semakin dingin, Fauzi membaringkan tubuh Anaya.


"Yah, bunda dan semua ikhlasin Anaya buat pergi ya. Anaya udah mulai dingin," ucap Fauzi dengan lirih.


Semua yang mendengar permintaan Fauzi langsung menangis. Fauzi melafalkan syahadat dan di ikuti oleh Anaya, dan Anaya menghembuskan nafas yang terakhir kalinya.


Semuanya berteriak histeris setelah pernyataan dokter Benny, bahwa Anaya sudah pergi untuk selamanya.


Setelah dinyatakan Anaya sudah meninggal, dokter mengurus segala pemulangan Anaya ke rumah.


Ayah segera mengabari pada pihak rt, bahwa Anaya Aninditia telah meninggal dunia. Iyan segera memberitahu pada ibunya, kalau Anaya sudah meninggal.


.


.


.


.


.


Fauzi, Aris, Dita ikut di dalam mobil jenazah, untuk membawa Anaya ke rumah. Untuk di semayamkan di rumah, karna hari sudah malam, jenazah Anaya akan dikebumikan di TPU yang di mana menjadi tempat peristirahatan terakhir ibunya dan akan di kubur di sebelah makam ibu Yuni.


Mobil ambulance yang membawa Anaya telah tiba di rumah duka, Fauzi mengangkat jenazah Anaya terakhir kalinya.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya, jenazah Anaya di mandikan, pake kain kafan dan segera di kubur. Akhirnya jenazah Anaya di kubur.


Semua pelayat yang terdiri dari teman - temannya Anaya, keluarga dan lainnya menghantarkan Anaya hingga tempat Anaya tinggal.


Satu per satu pergi dari makam, Fauzi sangat terpukul sekali dengan kepergian orang yang sangat di cintai.


"Zi, kita pulang," ucap Ayah.


"Ayah duluan aja, Uzi masih mau disini," ucap Fauzi.


"Ya udah jangan lama - lama ya," ucap Ayah.


Fauzi hanya bisa menganggukkan kepala.


"Nay, sekarang kamu udah gak sakit lagi dan udah sehat. Jangan pernah lupain kaka ya. Kaka akan menyanyikan sedikit lagu untuk Anaya," ucap Fauzi.


"Ternyata belum siap aku


kehilangan dirimu,


belum sanggup untuk jauh darimu


yang masih selalu ada dalam hatiku"


Setelah menyanyikan 1 bait lagu, Fauzi masih merasakan sedih yang teramat dalam, sehingga air matanya tak berhenti menangis.


"Nay... tidurlah dengan tenang, salam buat ibu. Nanti datang ke dalam mimpi kaka ya sayang. Kaka pulang dulu ya, Assalamu'alaikum calon istriku," ucap Fauzi.

__ADS_1


Fauzi pun beranjak pergi dari tempat istirahat Anaya terakhir.


__ADS_2