
Hari weekend pun tiba, mereka semua pun berlibur di villa milik bunda Hanna. Semua perlengkapan sudah masuk ke dalam mobil, tak lupa obat-obatan dan perlengkapan Anaya pun di bawa.
"Fauzi, Aris, Anaya, Adam, bunda, Nita, Rio, Apa semua udah siap untuk berangkat?" tanya Ayah.
"Siaaaaap," jawab mereka dengan kompak.
"Okay, di mobil yang kecil Rio dan Nita membawa barang-barang. Lalu di mobil yang besar ada ayah, bunda di depan, Aris dan Adam di belakang, Anaya dan Fauzi di tengah," ucap Ayah.
"Okay yah," jawab semua dengan kompak.
"Sebelum berangkat, mari kita berdoa agar diberi kesehatan dan kelancaran dalam perjalanan," ucap Ayah.
Semua pun berdoa dalam hati agar diberi kesehatan dan kelancaran selama liburan.
Semua pun memasuki mobil yang sudah di tentukan, dan berangkat liburan.
Selama perjalanan Adam asik main game sambil ngemil, Aris tetap membaca pelajaran yang akan di ujiankan hari senin, Anaya tiduran di pangkuan Fauzi.
Aris yang melihat itu merasa cemburu lagi.
"Andaikan gak ujian, aku yang menjaga Anaya," gumam Aris dalam hati.
Aris pun merasa cemburu, tapi mau dikata. Aris pun menghiraukan rasa cemburu itu.
Akhirnya stelah perjalanan 3 jam, tibalah di villa milik bunda Hanna. Semua pun turun dari mobil. Anaya di tuntun oleh bunda dan Adam, Aris dan para lelaki lainnya membawa barang bawaan ke dalam.
Sesampainya di dalam villa bunda mulai membuka semua peralatan dapur dan belanjaan karna akan memasak untuk makan siang yang di bantu oleh Nita.
"Ris sudah dong, jangan belajar terus. Sekarang waktunya liburan. Senin pagi tinggal mengulang apa yang udah di pelajari," ucap ayah.
"Okay yah," ucap Aris.
"Sana berkumpul dengan Fauzi, Anaya, dan Adam. Dan kamu jangan cemburu dengan Fauzi, kalian itu kaka terhebat untuk Anaya. Karna saat ini Anaya hanya butuh support dan semangat dan jangan buat Anaya banyak pikiran," ucap ayah.
"Iya yah," ucap Aris.
"Kok ayah tau, kalau aku cemburu sama Fauzi, gumam Aris dalam hati sambil berjalan ke arah Anaya.
Aris pun berjalan untuk berkumpul dan ada niat untuk menanyakan sama Fauzi, karna lupa jadi Aris pun tak menanyakan langsung.
Bunda menghampiri anak-anaknya.
"Semua ayo kita makan, bunda masak Ayam goreng kremes, ayam bakar manis dan ikan bakar nila pedas" ucap Bunda.
Semua pun berjalan ke meja makan untuk menyantap makan siang yang spesial ini, makan siang pun telah selesai.
"Nay, ini obatnya," ucap Fauzi.
"Makasih kak," ucap Anaya.
Anaya pun menuju kamar untuk istirahat, karna merasa ngantuk, dan diikuti oleh Fauzi.
"Met istirahat ya, kaka nunggu di luar. Kalo ada apa-apa teriak aja," ucap Fauzi.
"Iya kak, makasih," ucap Anaya.
Fauzi pun keluar kamar setelah Anaya tidur. Fauzi pun menunggu di luar sambil membawa laptop untuk meneruskan skripsinya.
Aris pun datang menghampiri Fauzi.
"Kak, kok ayah tau masalah aku marah-marah sama Anaya?," tanya Aris.
"Maaf ya Ris, waktu Anaya masuk rumah sakit, dokter tau kalo Anaya lagi banyak pikiran dan ayah tanya apa di rumah ada masalah. Ya aku jelaskan semua sama ayah," ucap Fauzi.
"Terus tanggapan ayah gimana?" tanya Aris.
"Ya ayah kaget, dan tapi ayah udah tau pasti akan kaya gini. Makanya ayah gak marah sama Aris, tapi mencoba menasehati kamu," ucap Fauzi.
"Ya aku tau, aku salah. Tapi aku janji gak akan kaya gitu lagi sama Anaya," ucap Aris.
"Gak usah berjanji, buktikan saja kalo kamu emang kaka yang baik untuk Anaya," ucap Fauzi.
"Makasih ya kak, udah mau nasehatin aku. Maaf juga kalo aku sempet marah dan cemburu sama kaka," ucap Aris.
"Iya gak apa-apa, kaka ngerti kok. Udah belajar lagi, kalo ada pelajaran yang gak bisa, jangan sungkan untuk nanya," ucap Fauzi.
"Iya kak, makasih," ucap Aris.
Aris pun tenang setelah menanyakan sama Fauzi perihal masalah itu. Ayah yang sedari tadi memperhatikan mereka mengobrol pun sedikit tau dan tenang.
Ketika Aris dan Fauzi dengan kesibukannya masing-masing, tiba-tiba terdengar Anaya berteriak.
"Kak Fauzi," Teriak Anaya.
Fauzi yang kaget mendengar pun, langsunt berlari ke kamar untuk melihat kondisi Anaya yang di ikuti oleh Aris.
"Ada apa Nay?" tanya Fauzi.
" Gak ada apa-apa kak, aku cuman merasakan sepi aja," ucap Anaya.
"Ya udah kaka dan Aris disini, jadi jangan takut ya," ucap Fauzi.
Anaya pun melihat jendela dan melamun.
"Andaikan kalian saudara kandung ku, pasti aku bahagia. Walaupun kalian bukan saudara kandung, tapi kalian sangat baik," gumam Anaya dalam hati.
Aris dan Fauzi melihat Anaya sedang melamun.
"Hayo kok melamun sih dek, mikir apa sih? mikirin kaka ya?" goda Aris.
"Ge-er siapa juga yang mikirin ka Aris, aku lagi mikirin kalau aku gak sembuh dan aku gak selamat, Orang-orang yang aku sayang sedih gak ya," ucap Anaya.
Aris dan Fauzi kaget dengan ucapan Anaya.
"Dek kok ngomong gitu? kaka gak suka ya, kalo adek ngomong gitu," ucap Aris.
__ADS_1
"Tapi emang kenyataannya kaya gitu, buktinya sampe sekarang adek minum obat aja terus. Kalau telat minum obat atau lupa minum obat, adek pusing. Jadi buat apa adek minum obat dan kalo hasilnya adek akan meninggal," ucap Anaya.
"Tapi gak gitu juga dek, yang penting adek udah berusaha untuk berobat. Masalah sembuh atau tidak itu urusan Allah. Kaka gak suka, kalo adek bicara kaya gitu," ucap Aris dengan nada sedikit tinggi dan berjalan keluar kamar Anaya.
Fauzi yang kaget dengan ucapan Anaya hanya bisa menghela nafas panjang, karna rata-rata pasien meningitis akan selalu berpikiran seperti itu. Fauzi pun kaget dengan ucapan Aris yang lalu meninggalkan kamar Anaya.
"Kenapa sih harus di bahas lagi? kan kaka udah bilang, pasrahkan semua ini sama Allah. Kita gak tau sembuh atau tidak, hanya Allah yang tau jawabannya. Sekarang liat Aris jadi marah lagi, adek gak kasian sama ka Aris? Senin dia mau ujian, tapi adek bikin ka Aris jadi marah dan sedih," ucap Fauzi.
Anaya pun menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dan menangis, karna sadar dengan ucapannya itu.
"Anaya harus gimana kak?" tanya Anaya.
"Ya adek minta maaf, karna gak bermaksud seperti itu. Tapi lain kali gak usah bahas masalah ini, biarkan masalah ini jd urusan Allah," ucap Fauzi.
Anaya pun merenung atas kesalahannya yang di buat oleh Anaya.
"Ka, anter ke kamar ka Aris. Adek mau minta maaf," ucap Anaya.
Fauzi pun membantu Anaya turun dari tempat tidur dan berjalan untuk ke kamar Aris. Setiba di kamar Aris.
Tok tok tok
"Ka Aris," ucap Anaya.
"Udah sana pergi kamu, gak usah ganggu aku lagi," teriak Aris yang menangis.
"Aku mau minta maaf," ucap Anaya dengan suara parau.
"Sana pergi gak usah ganggu aku lagi," teriak Aris.
Anaya yang ingin berusaha masuk kamar Aris, tapi pintunya di kunci. Ayah dan bunda yang sedang di kamar mendengar suara teriakan Aris.
"Ada apa ya bun? Kok Aris teriak-teriak kaya gitu," tanya Ayah.
Bunda pun tanpa menjawab pertanyaan ayah, langsung keluar kamar dan mencari sumber suara itu. Bunda melihat Anaya dan Fauzi di depan kamar Aris.
"Ada apa Zi?" tanya bunda.
Fauzi dan Anaya bingung harus menjawab apa, lalu ayah datang.
"Ada apa ini?" tanya Ayah.
Tak ada yang menjawab satu pun, ayah pun bingung ada apa ini.
"Zi, ceritakan," ucap Ayah.
"Tadi pas Aris dan Fauzi di kamar Anaya, Anaya bilang kalo Anaya gak sembuh, apakah orang-orang yang sayang Anaya akan sedih," ucap Fauzi.
Ayah pun bersikap biasa aja, karna ayah udah tau kalo hal seperti ini akan terjadi.
"Lalu kenapa ada di depan kamar Aris?" tanya ayah.
"Anaya mau minta maaf sama Aris, tapi Aris gak mau buka pintunya," ucap Fauzi.
Anaya yang masih memeluk Fauzi dengan menangis, Fauzi berusaha untuk menenangkan Anaya.
Bunda dan Fauzi pun membawa Anaya untuk turun ke bawah.
Tok tok tok.
"Ris ini ayah, buka pintunya," ucap ayah.
Tak ada suara dari dalam kamar Aris, ayah pun paham dengan situasi seperti ini.
"Ya udah kalo kamu gak mau buka pintu ini, ayah tunggu kamu di bawah," ucap ayah sambil. meninggalkan kamar Aris.
Ayah pun berjalan ke bawah untuk melihat kondisi Anaya.
"Nak, biarkan semua ini jadi keputusan Allah, yang penting Anaya udah berusaha untuk sembuh. Jadi jangan bahas masalah ini lagi ya," ucap Ayah.
"Anaya cape yah, harus minum obat, harus banyak istirahat, gak boleh sekolah. Anaya bosan kaya gini yah. Anaya mau sekolah dan gak mau minum obat lagi," ucap Anaya.
Ayah, bunda dan Fauzi menghela nafas yang panjang. Sangat tau gimana perasaan Anaya saat ini.
"Dari semua pasien penderita meningitis, jarang yang sembuh. Kemungkinan kecil untuk sembuh, kalo pun sembuh itu kuasa Allah yang memberikannya," gumam Fauzi dalam hati.
"Ayah tau kalo Anaya bosan seperti ini, tapi kalo Anaya gak minum obat, Anaya akan sakit dan akan diem di rumah sakit dengan waktu yang lama," ucap ayah sambil memeluk sang anak.
"Ya udah kalo gitu, Anaya gak mau minum obat lagi dan gak usah sembuh aja. Lagian Anaya udah tau, kalo penderita meningitis jarang ada yang sembuh, dan pasti akan meninggal. Biar Anaya meninggal aja, biar semua gak usah ngurusin Anaya," ucap Anaya.
"Astafirullah nak, jangan bilang gitu. Gak baik nak. Umur hanya Allah yang tau," ucap bunda sambil menghela nafas panjang.
Ayah dan Fauzi gak banyak bicara, karna tau kondisi Anaya kaya gini dan pasti akan terjadi.
Aris yang turun mendengar semua itu, emosinya kembali naik lagi.
"Kalo gak mau sembuh ya udah buang aja obat-obatnya, dan kaka pastikan kalo kamu gak akan pernah kaka anggap sebagai adik kaka lagi," ucap Aris dengan ketus sambil berjalan keluar Villa.
Semua yang mendengar ucapan Aris pun kaget, dan bingung harus bagaimana. Adam yang mendengar semua itu pun menjadi ikut marah sama Anaya.
"Kaka jahat, kaka gak tau gimana adek berdoa setiap udah solat, untuk minta buat sembuhin kaka. Tapi kaka kaya gini," ucap Adam sambil menangis dan memeluk Nita.
Ayah semakin bingung harus bagaimana dalam menyikapi masalah ini.
"Ya udah kalo Anaya udah gak mau nurutin perintah ka Fauzi, sekarang juga ka Fauzi pulang ke Bandung sendiri," ucap Fauzi sambil mengedipkan mata ke arah ayah untuk memberikan kode, Pura-pura marah.
"Anaya cape dengan semua ini, Anaya udah gak mau minum obat lagi," ucap Anaya.
"Ya udah gimana baiknya Anaya aja, Anaya yang rasain sendiri. Bukan ayah, bunda, Aris, Fauzi, Adam, mba Nita yang sakit kok," ucap ayah.
Ayah sengaja seperti itu, karna Anaya punya watak yang keras. Semakin di kerasin akan semakin keras, jadi ayah membiarkan Anaya untuk berpikir sendiri.
Fauzi yang berpura-pura untuk pergi pun berpamitan pada ayah dan bunda.
"Ayah dan bunda, Fauzi pamit pulang duluan ke Bandung. Buat apa Fauzi disini, pasien Fauzi nya juga gak mau sembuh," ucap Fauzi.
__ADS_1
"Iya nak, hati-hati di jalan ya," ucap Ayah.
"Sekarang terserah Anaya mau minum obat atau gak, mau sembuh atau gak. Anaya sendiri yang merasakan gimana sakitnya. Ayah dan bunda gak aka memaksa Anaya lagi," ucap ayah.
Anaya pun pergi ke kamar meninggalkan ayah dan bunda. Anaya terdiam dengan sikap yang udah di perbuatnya.
.
.
.
.
.
Fauzi menghampiri Aris yang duduk di bukit.
"Kok kaka di sini, ngapain bawa tas?," tanya Aris.
"Pura-pura pergi, biar Anaya berpikir. Karna Anaya memiliki watak yang keras, jd biarkan dia berpikir aja dulu," ucap Fauzi.
"Aris harus gimana ka, biar Anaya gak berpikir seperti itu?," tanya Aris.
"Susah Ris, itu semua hanya Anaya yang tau jawabannya. Soalnya banyak pasien penderita Meningitis itu berakhir meninggal, yang sembuh jarang sekali. Jadi wajar kalo Anaya berpikir seperti itu. Semoga aja dia sadar dengan apa yang kita lakukan saat ini," ucap Fauzi.
"Amin kak," ucap Aris.
"Adam aja ngambek, setelah tau Anaya bilang gitu," ucap Fauzi.
Aris dan Fauzi pun melamun dengan pikirannya masing-masing dengan tiduran di hamparan rerumputan yang luas.
.
.
.
.
.
Bunda tidak tau harus berbuat seperti apa, hanya bisa menenangkan suami dan anak bungsu nya yang terlihat kecewa dengan sikap Anaya.
Nita pun terlihat bingung dengan apa yang terjadi saat ini dan sikap Anaya yang seperti itu.
Anaya yang di kamar pun masih dengan pendiriannya yang keras.
"Pokoknya Anaya udah gak mau minum obat dan Anaya pasti kuat," racau Anaya.
"Bu, Anaya ingin ikut aja sama ibu. Anaya cape harus minum obat. Penyakit ini tuh susah untuk sembuhnya, buktinya Olga Syahputra dan Glenn Fredly yang sakit meningitis aja meninggal, udah mencoba berobat pun tetap meninggal. Jadi buat apa Anaya minum obat, kalo pada akhirnya Anaya meninggal juga," racau Anaya.
Anaya pun merebahkan tubuh nya di atas kasur dan akhirnya Anaya tertidur setelah berbicara sendiri.
Tanpa Anaya sadari, Ayah yang di balik pintu kamar Anaya, mendengar semua keluh kesah Anaya.
Ayah yang keluar villa untuk mencari Aris dan Fauzi, ternyata mereka tertidur di hamparan rerumputan luas yang tak jauh dari villa nya..
"Aris, Fauzi," ucap Ayah.
Fauzi dan Aris yang sedang melamun dengan pikirannya masing-masing kaget mendengar suara ayah memanggil.
"Ayah," jawab mereka berdua.
"Tadi ayah mendengar kalau Anaya tau kalo penyakitnya ini tak bisa di sembuhkan. Ayah bingung harus bagaimana," ucap ayah.
"Fauzi juga bingung yah, harus bagaimana. Sedangkan Aris, lusa udah ujian," ucap Fauzi.
"Ayah juga bingung nak harus bagaimana, apa ayah ijinkan saja dia sekolah, dengan di antar dan di tunggu oleh Fauzi," ucap ayah.
"Kalo itu baik dan bisa membuat Anaya untuk semangat dalam menjalani penyembuhan, kenapa gak di coba aja," ucap Fauzi.
"Okay, ayah akan bicara dulu dengan dokter Benny. Kalau diijinkan, ayah akan mengobrol lagi dengan pihak sekolah," ucap ayah.
"Iya gitu aja yah, biar Anaya senang. Aris sedih kalau harus kaya gini," ucap Aris.
" Ya udah kita masuk, kalian diam di sini mau jadi gosong," ucap Ayah sambil berjalan ke arah villa.
Aris dan Fauzi pun saling pandang lalu melihat ke atas, ternyata panas. Mereka pun berlari mengejar sang ayah.
Setelah tiba di dalam villa, ayah mengambil ponselnya untuk menelepon dokter Benny dan disetujui asalkan Fauzi tetap berada di dekat Anaya.
Bunda dan Nita sedang menyiapkan makan malam, Ayah sedang menonton TV sambil menemani Adam, dua jagoan sedang tidur di atas sofa.
Makan malam pun sudah siap di meja, bunda memanggil semua untuk ke meja makan. Tak lupa bunda menghampiri kamar Anaya untuk makan malam.
Semua pun telah duduk dan siap untuk makan, tak ada satu kata yang terucap, makan pun telah selesai.
"Untuk semua duduk dulu, jangan ada yang meninggalkan meja makan. Ayah mau memberikan informasi, untuk Anaya kamu boleh sekolah, asalkan Fauzi ikut denganmu tapi dengan syarat harus mau minum obat lagi, kalau gak mau minum obat, sekolah pun gak boleh," ucap ayah.
Anaya pun berpikir dulu, sebenarnya udah lelah harus minum obat, tapi ya udahlah demi bisa sekolah lagi. Anaya akan turutin kemauan ayah. Dan obat-obatnya bisa pura-pura aku minum, padahal gak aku minum.
"Baik yah, Anaya akan turutin kemauan ayah. Makasih ya yah, udah ijinin Anaya sekolah lagi," ucap Anaya.
"Sekarang Anaya harus minta maaf sama Aris, Adam dan Fauzi atas ucapan yang tadi sore," ucap ayah.
"Buat Adam, ka Aris dan Ka Fauzi, aku minta maaf ya. terutama maaf banget buat ka Aris, Anaya tau salah, maaf ya kak," ucap Anaya.
"Kaka juga minta maaf ya udah bentak kamu tadi," ucap Aris.
"Kaka juga minta maaf ya," ucap Fauzi.
Semua pun terlihat bahagia, tapi tidak dengan Anaya.
"Aku akan tetap tidak akan pernah minum obat itu, tapi aku akan pura-pura meminum obat itu," gumam Anaya dalam hati.
__ADS_1
"Sudah sekarang waktunya tidur, karna besok kita akan pulang," ucap Ayah.
Semua pun satu per satu pergi meninggalkan meja makan.