
Dokter Benny pun memberitahukan kepada orang tua Anaya, kalau Anaya harus segera menjalani cuci darah, karna ginjal Anaya semakin memburuk kondisinya.
"Kak, pinggang Anaya semakin sakit, tapi setiap udah minum air putih sakit pinggang itu hilang," ucap Anaya.
"Sabar ya sayang, besok kaka dan dokter Benny akan melakukan cuci darah untukmu. Biar kondisimu membaik," ucap Fauzi sambil memeluk Anaya.
Anaya pun menangis karna pinggangnya semakin sakit dan sudah gak kuat lagi menahannya.
"Anaya udah gak kuat ka, Anaya menyerah saja," ucap Anaya dengan lirih.
"Kamu harus kuat sayang, pasti bisa," ucap Fauzi.
Fauzi pun berusaha untuk menenangkan Anaya sedangkan ayah menenangkan bunda. Ayah pun masuk ke dalam ruang rawat Anaya.
"Sayang, ayah pulang dulu. Besok pagi ayah kesini lagi. Anaya sama kak Fauzi dulu ya," ucap ayah.
Anaya pun hanya menganggukkan kepala, ayah dan bunda pun pulang. Kondisi Anaya semakin menurun, Fauzi mulai bingung harus bagaimana. Fauzi memberikan kabar pada dokter Benny. Dokter Benny pun datang ke ruang rawat Anaya untuk melihat kondisi Anaya.
"Saya akan lakukan cuci darah malam ini juga, karna kondisi Anaya memburuk," ucap dokter Benny.
"Suster siapkan ruang isolasi untuk melakukan cuci darah," ucap dokter Benny.
Suster Alika dan yang lainnya pun segera berkomunikasi dengan suster yang menjaga ruang isolasi. Semua suster pun bekerja menyiapkan segalanya.
Akhirnya Anaya di bawa ke ruang isolasi khusus untuk cuci darah.
"Kak, Anaya takut," ucap Anaya dengan lirih.
"Kaka di samping Anaya," ucap Fauzi yang tak pernah melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Semua tim sudah memakai pakaian khusus dan Fauzi pun sudah mengganti pakaian khusus, karena Fauzi akan menemani Anaya di dalam.
Sebelum cuci darah, Fauzi memberi kabar ke ayah.
"Yah, kondisi Anaya menurun. Malam ini juga harus cuci darah, doakan untuk Anaya. Kalau ayah mau ke sini, cari aja ruang isolasi khusus cuci darah," isi pesan Fauzi ke ayah.
Fauzi pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, dan memakai pakaian khusus.
"Kita akan berjaga disini mengawasi cuci darah untuk Anaya," ucap dokter Benny.
"Iya pih," ucap Fauzi.
"Tahan ya Nay, mungkin sedikit sakit. Baca istigfar aja dalam hati ya," ucap Fauzi.
Dokter Benny pun memulai menancapkan jarum yang berisi kantung darah dan jarum untuk mengambil darah dari tubuh Anaya.
Anaya pun meringis kesakitan saat jarum masuk dan Anaya menangis. Fauzi pun berusaha menenangkan Anaya. Sekarang Anaya sudah mulai tenangtenang dan Anaya pun sudah bisa tidur.
Ponsel Fauzi pun. bergetar, menandakan ada panggilan telepon.
"Assalamu'alaikum yah," ucap Fauzi.
"Gimana kondisi Anaya?" tanya Ayah.
"Ini baru selesai cuci darah, sekarang lagi menunggu Anaya sadar dan menunggu respon hasil cuci darah," ucap Fauzi.
"Ya udah titip Anaya ya Zi, nanti pagi saja ayah kesana. Soalnya bunda udah tidur, tadi ayah sibuk buka kerjaan. Jadi baru liat ponsel," ucap ayah.
"Iya gak apa - apa yah," ucap Fauzi.
__ADS_1
"Ya udah, kamu juga jaga kesehatan ya anak sulung ayah, Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam yah," ucap Fauzi.
Fauzi pun kembali masuk ke dalam ruang isolasi.
"Zi sebaiknya kita pindahkan saja ke ruang rawat, sambil menunggu hasilnya," ucap dokter Benny.
"Iya pih," ucap Fauzi.
Semua pun mendorong brankar Anaya menuju ruang rawat Anaya. Setelah 5 jam, akhirnya Anaya tersadar.
"Kak," ucap Anaya.
"Iya sayang," ucap Fauzi.
"Kepala Anaya pusing," ucap Anaya.
"Sabar ya sayang, itu efek dari setelah cuci darah," ucap Fauzi.
Anaya pun mencoba untuk memejamkan mata, tapi Anaya merasakan mual di dalam perut Anaya.
"Kak," ucap Anaya.
"Iya sayang," ucap Fauzi.
"Anaya mau muntah," ucap Anaya.
Fauzi pun berlari ke kamar mandi untuk mengambil wadah untuk memudahkan Anaya untuk muntah.
__ADS_1
Anaya pun muntah dan memuntahkan cairan berwarna hitam, itu efek dari cuci darah. Setelah dirasa perut Anaya sudah enak, Anaya memberikan wadah itu pada Fauzi. Fauzi pun membersihkan wadah itu hingga bersih, setelah itu Fauzi memberikan air minum untuk Anaya.