
Fauzi berjalan membawa pesanan untuk Anaya sarapan dan membawa makanan itu ke dalam ruang rawat.
"Mau sarapan sekarang?" tanya Fauzi.
"Iya kak, Anaya lapar. Seingat Anaya, terakhir makan kemarin siang," ucap Anaya.
"Iya terakhir kamu makan kemarin, nih buat sarapannya," ucap Fauzi.
"Ini buat Anaya semua?" tanya Anaya.
"Kalau perutnya muat, ya abisin aja," ucap Fauzi sambil terkekeh.
Anaya pun mengambil makanan dari kantong plastik dan menyimpan di meja kecil, Anaya mengambil nasi, ayam, sup ayam dan kentang goreng, milo dan puding coklat.
"Yakin abis?" tanya Fauzi sambil tersenyum.
"Kalau gak abis, kan ada ka Fauzi yang siap abisin," ucap Anaya.
"Okay deh, ya udah met makan putri kecil ku yang cantik," ucap Fauzi.
Anaya langsung menundukkan kepala karna malu dengan ucapan Fauzi, Anaya pun dengan lahap sarapan pagi.
Fauzi pun senang melihat Anaya makan dengan lahap.
"Semoga selalu lahap setiap makan ya sayangku," gumam Fauzi dalam hati.
Akhirnya perut Anaya kenyang dan menyisakan nasi setengah, ayam 1, milo setengah gelas.
"Kak udah ah, kenyang," ucap Anaya.
"Tanggung Nay dikit lagi," ucap Fauzi.
"Udah kenyang, dan ini sisa dan tulangnya buat kakak aja," ucap Anaya.
"Tulang buat kaka?" tanya Fauzi dengan wajah sedih.
"Iya buat kaka," ucap Anaya sambil terkekeh.
"Emang kaka temennya Miko," ucap Fauzi yang sambil cemberut.
Anaya pun tertawa dengan bahagia dan Fauzi pura - pura cemberut.
"Senangnya hati melihat tawamu yang lepas, semoga masih bisa lama lagi. Ku melihat tawamu yang indah itu," gumam Fauzi dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Saat semua sedang berkumpul dokter Benny masuk.
"Permisi semuanya, waah Anaya lagi di tengok ya," ucap Dokter Benny.
"Iya dok, lagi pada nengok Anaya. Soalnya Anaya masih di kasih kesempatan buat hidup sama Tuhan," ucap Anaya.
Dokter Benny dan semuanya langsung menatap Anaya dan menghela nafas panjang.
"Iya Tuhan masih sayang sama Anaya, jadi masih ngasih Anaya kesempatan," ucap dokter Benny.
"Padahal kalau gak ngasih kesempatan juga, Anaya udah ikhlas buat pergi untuk selamanya," ucap Anaya.
"Jangan bilang gitu, tandanya Tuhan masih ingin Anaya umur panjang," ucap Dokter Benny.
"Buat apa umur panjang, kalau Anaya masih sakit seperti ini," ucap Anaya.
Tanpa sepengetahuan Anaya ada Aris, bunda, Dita yang keluar ruang rawat Anaya. Karena sedih mendengar ucapan Anaya.
"Anaya kesayangan Ibu, jangan bilang kaya gitu ya. Allah masih ingin Anaya hidup dan sekolah hingga ke pendidikan yang tinggi, jadi jangan mendahului takdir ya," ucap Ibu Nunung.
"Bu, kalau boleh jujur. Anaya lebih milih gak selamat bu, Anaya udah cape kaya gini terus bu," ucap Anaya.
"Ibu tau, kalau Anaya udah lelah. Tapi lihatlah banyak orang yang sakit, yang udah gak bisa apa - apa tapi masih semangat buat hidup. Tapi kenapa Anaya udah gak semangat buat hidup?" tanya ibu Nunung.
Ibu Nunung langsung menangis dan memeluk Anaya, semua yang mendengar perdebatan Anaya dengan Ibu Nunung pun merasa sedih.
"Anaya, Ibu sayang sekali sama Anaya. Ibu mau Anaya bisa sehat lagi dan hidup selamanya, kalau pun kondisi Anaya seperti ini. Terimalah dengan lapang dada, Allah lagi menguji kesabaran Anaya. Jadi Anaya jangan pernah berbicara kalau Anaya ingin mati, biarlah penyakit Anaya serahkan sama Allah, siapa tau Anaya bisa sembuh. Kalau pun gak sembuh biarlah Allah yang menentukan kapan Anaya mati. Lihatlah ayah, bunda, Fauzi dan orang - orang yang selalu sayang sama Anaya dan yang selalu kasih Anaya untuk semangat hidup. Apakah Anaya ingin sedih melihat mereka sedih karna kehilangan Anaya," ucap Ibu Nunung.
Anaya pun langsung tertunduk dan menangis mendengar ucapan ibu Nunung.
"Maafkan Anaya," ucap Anaya.
"Anaya gak perlu minta maaf, tapi buatlah semangat Anaya untuk hidup sebagai kata maaf untuk Anaya. Biarlah jalan dan takdir Allah yang menentukan hidup matinya seseorang, yang penting Anaya gak pernah berhenti berdoa untuk meminta kesembuhan, panjang umur dan di ambil segala penyakit yang ada di dalam tubuh Anaya," ucap Ibu Nunung.
Anaya pun hanya bisa menganggukkan kepala, yang tadi keluar ruangan pun kembali masuk ke dalam.
"Nay, jangan pernah lagi bilang gitu ya. Dita sedih kalau Anaya gak ada," ucap Dita.
"Dek, kaka ingin pulang pergi sekolah bareng, walaupun kita beda sekolah," ucap Aris.
"Anak kesayangan bunda, harus tetep semangat ya. Bunda sayang banget sama Anaya," ucap Bunda.
"Putri kecil yang cantik, jangan pernah bilang gitu lagi ya. Kaka gak tau gimana rasanya kalau harus kehilangan putri kecil cantiknya kaka," ucap Fauzi.
"Ayah akan selalu ada untuk Anaya dan ayah akan kabulkan apa yang Anaya mau," ucap Ayah.
__ADS_1
"Sayang, anggaplah Ibu sebagai ibumu juga. Ibu sudah tau kamu dari kecil, apa lagi kamu bersahabat dengan Dita dari dulu," ucap Ibu Caca.
"Walaupun Ibu akan jauh dari Anaya, tapi doa Ibu akan selalu ada untuk Anaya," ucap Ibu Nunung.
"Kaka jangan pergi ya, jangan tinggalin Adam sendiri, Adam akan sedih kalau ka Anaya gak ada lagi di sisi Adam. Gak apa - apa kaka sakit, yang penting Adam masih bisa liat kaka di rumah," ucap Adam
"Lihatlah Nay, berapa banyak yang menyayangimu, apa Anaya tega melihat mereka sedih dengan ucapan Anaya seperti itu? Serahkanlah semua penyakit Anaya sama Tuhan ya," ucap Dokter Benny.
"Semuanya maafin Anaya ya, kalau ucapan Anaya membuat kalian sedih. Anaya akan serahkan semua penyakit Anaya sama allah dan umur juga biar Allah yang menentukan sampai kapan Anaya bertaha," ucap Anaya.
"Ya sudah, saya pamit keluar dulu ya. Buat Anaya jangan banyak pikiran bebaskan semua dari pikiran Anaya," ucap dokter benny.
Tanpa terasa waktu sudah semakin sore, Ibu Nunung pun pamit karna suaminya sudah menjemput.
"Semuanya, saya ijin pamit ya. Maaf bila selama ini saya ada salah dalam perbuatan dan ucapan. Buat Anaya, Dita, Iyan, dan Aris semoga masuk ke sekolah yang kalian mau. Untuk Fauzi, Ibu titip Anaya sama kamu, dan semoga kuliah kamu juga segera beres hingga menjadi dokter spesialis syara," ucap ibu Nunung.
"Aamiin bu, ibu di sana baik - baik ya. Kami pasti akan rindu sama ibu," ucap murid - murid kesayangan Ibu Nunung.
Ibu Nunung pun pamit dan Fauzi mengantarkan Ibu Nunung hingga bertemu dengan suaminya.
"Zi kalau ada apa - apa, kabarin bunda ya," ucap ibu Nunung.
"Iya bunda, ati - ati di jalan ya bun," ucap Fauzi.
Ibu Nunung pun telah kembali ke Garut dan Fauzi kembali ke ruang rawat Anaya. Kini keluarga Iyan pun pamit pulang.
"Nay, aku pulang dulu ya. Kalau ada apa - apa kabarin lewat ka Iyan aja ya," ucap Dita.
"Iya Ta, makasih ya udah nyempetin buat nengok," ucap Anaya.
Keluarga Iyan pun pulang, kini tinggal Anaya, Fauzi, ayah, bunda, Aris dan Adam.
"Zi, gak apa - apa kan kamu disini dulu, ayah anter bunda, Aris dan Adam pulang dulu," ucap ayah.
"Gak apa - apa yah, lagian biar Anaya istirahat juga. Kalau banyak yang juga bukannya istirahat nanti," ucap Fauzi.
"Ya udah, nanti ayah balik lagi ke sini ya," ucap ayah.
"Nay, bunda dan yang lain pulang dulu ya," ucap bunda.
"Iya bunda, ati - ati di jalan. Dadah semua," ucap Anaya.
"Dadah," ucap Semua.
Ayah dan keluarga pun berjalan pulang, kini giliran suster untuk memeriksa kondisi Anaya dan memberikan obat lewat cairan infusan.
Tak butuh lama, Anaya tertidur dan Fauzi masih setia menjaga disamping Anaya.
__ADS_1