
Hari pun semakin sore, Tiba-tiba ada bunyi bel. Dokter Benny Hadiatma yang sedang di ruang TV, segera berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
"Mau cari siapa?" tanya dokter Benny.
"Saya mau ketemu Fauzi," ucap Guntur.
"Dari siapa?" tanya dokter Benny.
"Saya Guntur temannya Fauzi," ucap Guntur.
Dokter Benny teringat dengan teman Fauzi yang sombong untuk mengajak bersaing dalam belajar.
"Oh kamu Guntur yang mengajak anak saya untuk bersaing," ucap Dokter Benny.
"Iya tuan, saya Guntur yang mengajak bersaing dan mengancamnya. Saya kesini mau minta maaf, karna saya disuruh oleh seseorang untuk berbuat seperti ini," ucap Fauzi.
"Silakan masuk dan duduk, saya akan panggilkan Fauzi," ucap dokter Benny.
"Baik tuan, terima kasih," ucap Guntur.
Dokter Benny pun meninggalkan Guntur untuuntuk memanggilkan Fauzi yang sedang tidur.
Dokter Benny langsung masuk ke kamar Fauzi dan membangunkan Fauzi.
"Nak bangun, di bawah ada temanmu," ucap papih.
"Siapa pih?" tanya Fauzi.
"Turun sajalah, papih tunggu di ruang tamu ya," ucap papih sambil keluar kamar.
Fauzi pun segera ke kamar mandi dan lekas itu turun ke bawah, untuk menemui tamu yang mencarinya.
"Kamu! ada apa?" tanya Fauzi.
"Saya kesini mau minta maaf, saya sudah salah mengajak kamu bersaing dan mengancammu. Tapi saya begini, karna saya di perintahkan oleh seseorang. Bila saya tidak mau mengikuti permintaannya, maka taruhannya ibu saya yang akan di berhentikan pengobatan di rumah sakit Borromeus," ucap Guntur.
"Siapa yang sudah menyuruhmu?" tanya dokter Benny.
"Dia adalah mamihnya Alika Putri," ucap Guntur.
Dokter Benny dan Fauzi saling pandang, tak menyangka. Bisa sejahat itu dan sudah memerintahkan orang, sehingga mengorbankan nyawa orang.
"Ibumu sakit apa?" tanya Dokter Benny.
"Ibu sakit diabetes," ucap Guntur.
"Apa mamihnya Alika sudah tau, kalau kamu mau kesini?" tanya Dokter Benny.
__ADS_1
"Dia marah besar, ketika saya akan membongkar masalah ini pada tuan dan Fauzi. Hingga pembiayaan rumah sakit di berhentikan.
" Dasar wanita jahat," ucap Dokter Benny.
Tiba-tiba ponsel berdering, dengan muncul nama mamih Alika.
"Angkat teleponnya, lalu loudspeaker. Saya akan merekam semua," ucap Dokter Benny.
Guntur pun mengangkat telepon sesuai perintah dokter Benny.
"Dasar anak gak tau diri, udah saya biayai sekolah dan biayai ibumu di rumah sakit. Sekarang kamu berkhianat pada saya, mulai detik ini juga saya akan berhenti membiayai pengobatan ibumu dan silahkan kamu cari uang sendiri. Dasar anak gak tau diri!" ucap mamihnya Alika.
Guntur langsung menangis, karna bingung harus mencari yang kemana. Sedangkan ibunya masih di rumah sakit.
"Siapa nama ibumu? di gedung apa? no kamar berapa? biaya ibumu akan saya tanggung semua," ucap Dokter Benny.
"Nama ibu saya ibu Siti Aisyah, gedung Maria dan kamar kelas 3.Terima kasih tuan, maafkan saya, karna saya udah jahat sama Fauzi," ucap Guntur.
Fauzi kaget mendengar nama ibunya Guntur, karna namanya sama dengan almarhum ibunya.
"Saya dan Fauzi sudah memaafkan semua kesalahanmu. Nanti kamu bisa bekerja disini sebagai asisten rumah tangga, rumahmu di mana?" tanya dokter Benny.
"Saya tidak punya rumah setelah kejadian ini, karna mamihnya Alika sudah memberhentikan biaya kehidupan, biaya rumah sakit, dan biaya kontrakan per bulan," ucap Guntur.
"Sudah... mulai sekarang kamu bisa tinggal disini, masih ada sisa kamar di belakang. Tidak apa-apakan nak?" tanya papih pada Fauzi.
"Iya pih tidak apa-apa, nanti barang-barang disana biar di pindahkan ke kamar Fauzi," ucap Fauzi.
"Iya nak, biaya rumah sakit ibumu biar saya yang tanggung. Nanti ibumu biar pulang kemari," ucap Dokter Benny.
"Sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan banyak kata maaf dan kata terima kasih," ucap Guntur.
"Sama-sama nak, biar per bulan saya gaji kamu sama dengan yang lain sebesar 1,5juta per bulan," ucap dokter Benny.
Guntur merasa bahagia, karna masih ada orang yang baik.
"Tuan, Fauzi... saya pamit dulu mau ke rumah sakit," ucap Guntur.
"Tunggu nak, karna saya juga mau ke rumah sakit untuk bertugas. Mari kita bareng saja ke rumah sakit," ucap dokter Benny.
"Terima kasih tua sebelumnya, maaf merepotkan," ucap Guntur.
"Fauzi mau ikut?" tanya papih.
"Enggak pih, Fauzi memindahkan barang-barang," ucap Fauzi.
"Ya sudah kamu bereskan semua, biar nanti Guntur bisa tinggal di kamar itu," ucap Fauzi.
__ADS_1
"Kamu tunggu bentar ya, saya ganti baju dulu," ucap dokter Benny.
"Baik tuan," ucap Guntur
Dokter Benny pun pamit untuk ke kamar, mamih yang mendengar semuanya merasakan sedih dan emosi, karna kelakuan mamihnya Alika.
"Fauzi, saya minta maaf," ucap Guntur.
"Sudah santai aja, saya tidak marah kok. Nanti kamu bisa tinggal disini dan jadi asisten rumah tangga yang baik ya," ucap Fauzi sambil merangkul Guntur.
"Alika akan kuliah di Bandung loh," ucap Guntur.
"Kok kamu tau?" tanya Fauzi.
"Alika sudah sering curhat tentang kamu, Alika dan papihnya sangat baik. Berbeda sekali dengan mamihnya!" ucap Guntur.
"Aku kenal Alika dari kelas 1Sd," ucap Fauzi.
"Waaah lama sekali, saya kenal Alika semenjak Alika sekolah SMP di Bandung. Ibu bekerja di rumah orang tuanya Alika," ucap Guntur.
"Alika sering cerita apa aja?" tanya Fauzi.
"Alika sering nanya kabar kamu, nanya ada cewe yang deketin kamu gak, nanya kamu punya pacar gak," ucap Guntur.
"Yang benar?" tanya Fauzi.
Guntur memberikan chat saat komunikasi dengan Alika, Fauzi merasa bahagia. Ternyata ada yang diam-diam mengagumi dan cemburu.
"Alika cocok sama kamu, tapi sabar menghadapi mamihnya ya," ucap Guntur.
"Aku sih belum pernah ketemu langsung, Alika tidak pernah mengijinkan saya untuk bertemu dengan mamihnya," ucap Fauzi.
"Aku sih kenyang di marahi sama mamihnya Alika, kalau saya tidak bisa mengerjakan apa yang dia minta," ucap Guntur.
Dokter Benny melihat mereka berdua sudah berteman, dan sudah saling memaafkan.
"Mari Guntur, kita ke rumah sakit. Untuk mengurus biaya ibumu," ucap Dokter Benny.
"Fauzi, saya pamit ke rumah sakit dulu. Besok saya kesini lagi," ucap Guntur.
"Papih, Guntur... ati-ati di jalan ya," ucap Fauzi.
"Papih berangkat dulu ya nak," ucap papih sambil mengecup kening Fauzi.
"Mih...papih berangkat dulu ya," ucap papih.
"Nyonya saya pamit dulu," ucap Guntur sambil menyalami dan mencium tangan.
__ADS_1
"Papih, Guntur ati-ati di jalan ya," ucap mamih.
Guntur dan dokter Benny pun berangkat ke rumah sakit, dokter Benny akan membiayai pengobatan ibunya Guntur untuk beberapa hari ke depan, hingga bisa pulang.