
Hari ini hari terakhir untuk Anaya UN, setelah itu akan ada waktu libur 1 bulan menunggu kelulusan.
"Kak, akhirnya hari ini terakhir UN dan hari terakhir masuk sekolah," ucap Anaya.
"Iya dek, ya udah sekarang fokus dulu sama rumus ya, biar bisa nilai 100 di Ijazah," ucap Fauzi sambil terkekeh.
"Kak, ini Anaya bukan Einstein," ucap Anaya sambil terkekeh.
Keduanya pun tertawa dan tibalah di dalam kelas.
"Anayaaa," teriak Dita yang berbeda ruangan.
"Ditaaaa," teriak Anaya yang 2 hari tidak berjumpa.
"Semangat ya Matematikanya, kan kamu Einsten," ucap Dita.
"Iiih aku gak sepintar Einstein, nilai aja kadang masih di bawah 90," ucap Anaya.
"Iya deh iya, habis ini kamu mau masuk ke mana?," tanya Dita.
"Mungkin masuk ke sini lagi gak tau home schooling," ucap Anaya yang sudah lelah dengan pelajaran.
"Iya deh, kalo yang udah pinter pasti milih home schooling," ucap Dita sambil terkekeh.
"Bukan gitu Ditaaaaaaa," teriak Anaya yang lalu cemberut.
"Iya iya...Aku ngerti Anaya Einstein," ucap Dita. sambil terkekeh.
"Ditaaaaaa," teriak Anaya
Akhirnya mereka bertiga tertawa, tanpa mereka sedari tadi Ibu Nunung memperhatikan mereka.
"Ibu bahagia liat Anaya bisa teratawa bahagia lagi. Sehat selalu ya nak," gumam Ibu Nunung yang melihat Anaya.
"Nay, nanti pulang sekolah, aku ikut ke rumah ya," ucap Dita.
"Boleh Dit, tapi bayar 10ribu," ucap Anaya yang bercanda.
"Kaya naik taksi aja harus bayar," ucap Dita.
"Iya bayar 10ribu yang di ganti dengan kamu bikinin martabak mie. Aku kangen martabak mie buatanm," ucap Anaya.
"Oh gitu, okay deh. Nanti aku buatin martabak mie. Ya udah aku masuk kelas sebelah dulu ya," ucap Dita.
__ADS_1
"Okay Dita cantik yang melebihi Syahrini," ucap Anaya lalu tertawa.
Dita yang mendengar Anaya bisa bercanda lagi, udah bahagia banget. Karna selama ini Anaya sudah tak pernah bercanda lagi.
"Nay, aku rindu dengar kamu tertawa. Dan hari ini, aku mendengar suara tawamu. Semoga kamu selalu bahagia ya," gumam Dita dalam hati.
"Ya udah, kaka nunggu di dekat ruang guru ya," ucap Fauzi.
"Iya kak," ucap Anaya.
"Semangat Einstein," ucap Fauzi sambil terkekeh.
Anaya pun hanya bisa tersenyum mendengar candaan sang kaka.
.
.
.
Keesokan harinya Anaya terbangun dengan tubuh yang terasa lemas, lelah dan punduk terasa berat.
"Ka Fauzi, badan Anaya tidak enak," ucap Anaya.
"Apa yang Anaya rasakan?" tanya Fauzi.
"Ya udah, bentar kaka bilang sama ayah dulu," ucap Fauzi.
Fauzi pun keluar kamar mencari sang ayah.
"Yah, kondisi Anaya drop lagi. Anaya merasakan lemas, pusing dan punduk terasa berat," ucap Fauzi.
"Ya udah kamu siapkan Anaya, kita bawa ke rumah sakit sekarang," ucap ayah.
Fauzi pun berjalan ke kamar Anaya dan menyiapkan Anaya.
"Bun, sepertinya Anaya harus di bawa ke rumah sakit. Kondisi Anaya drop lagi. Tadi Fauzi bilang kalau kondisi Anaya menurun," ucap ayah.
"Astagfirullah, iya yah. Semoga Anaya masih dalam lindungan Allah SWT," ucap bunda.
"Iya bun, ayah pergi dulu ya," ucap ayah.
Ayah pun bergegas membantu Fauzi untuk membawa Anaya dari kamar ke mobil. Kondisi Anaya sangat lemah, untuk bangun pun tidak bisa. Fauzi pun menggendong Anaya dan ayah membawa bantal dan perlengkapan Anaya.
__ADS_1
Bunda yang melihat kondisi Anaya saat ini, hanya bisa menangis.
"Nak semoga kamu masih mampu untuk bertahan melewati semua ini," gumam bunda dalam hati.
Rio sudah siap untuk mengantar tuannya ke rumah sakit, ayah masuk duluan ke dalam mobil lalu Fauzi memasukkan Anaya, dan kini Fauzi masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju ke rumah sakit dan tiba di rumah sakit, Fauzi berlari ke dalam rumah sakit untuk meminta brankar.
Anaya pun di naikkan ke atas brankar dan di bawa ke dalam IGD, dokter Benny pun udah siap di dalam IGD.
"Ayah tunggu dulu disini, biar Fauzi ke dalam," ucap Fauzi.
Ayah pun hanya bisa mengangguk dan berdoa dalam hati.
"Ya Allah panjangkanlah usia anakku dan sehatkan kembali anakku," gumam ayah dalam doa.
Dokter Benny, suster dan Fauzi pun memeriksa kondisi Anaya.
"Zi, sepertinya virus ini berubah menjadi jamur. Kita harus CT-Scan," ucap Dokter Benny.
"Iya om, Fauzi bilang dulu sama ayah," ucap Fauzi.
Fauzi pun bingung harus berkata apa sama ayah, Fauzi dengan langkah gontai keluar dari ruang IGD.
"Ayah," ucap Fauzi.
"Ada apa nak?," tanya ayah.
"Anaya harus CT-Scan, takutnya virus itu berubah menjadi jamur di selaputnya Anaya," ucap Fauzi dengan lirih.
"Lakukan yang terbaik untuk Anaya," ucap Ayah sambil memeluk Fauzi.
"Maafkan Uzi yah. Uzi gagal menyembuhkan Anaya," ucap Fauzi dengan lirih.
"Tidak nak, jangan menyalahkan dirimu. Ini sudah takdir dari Allah," ucap Ayah.
"Baik yah, Uzi kembali ke dalam untuk memberikan yang maksimal untuk Anaya," ucap Fauzi.
Ayah pun melepaskan pelukkannya dan kembali duduk. Fauzi pun kembali masuk ke dalam ruangan IGD.
"Om, kata ayah lakukan yang terbaik untuk Anaya," ucap Fauzi.
"Tenangkan dirimu nak, Anaya dan keluarganya masih butuh Fauzi untuk di samping Anaya. Kamu sudah melakukan dengan baik dan semaksimal mungkin. Sekarang kembalikan lagi sama Tuhan yang punya segalanya," ucap Dokter Benny sambil memeluk anak didiknya itu.
__ADS_1
Fauzi pun mendekati Anaya, yang saat ini Anaya sedang tertidur karna pengaruh obat penenang.
Brankar Anaya pun di bawa keluar dari IGD, ayah yang melihat itu hanya bisa menangis. Fauzi pun mencoba berjalan di samping ayah untuk menenangkan sang ayah.