
Fauzi membenarkan posisi tidur Anaya.
"Sepertinya tidurnya sudah nyenyak sekali, mungkin aku bisa telepon ayah sekarang," gumam Fauzi dalam hati.
"Assalamu'alaikum yah," ucap Fauzi.
"Walaikumsalam Zi, gimana?" tanya Ayah.
"Tadi Anaya video call sama Dita, terus bahas masalah sekolah. Anaya inginnya home schooling," ucap Fauzi.
"Wah bisa pas, ya udah ayah mau cari guru buat home schooling buat Anaya," ucap ayah.
"Fauzi punya kenalan yah, dosen di kampus punya istri. Nah istrinya biasa ngajar home schooling. Nanti Fauzi tanya dulu ya yah," ucap Fauzi.
"Okay Zi, segera kabarin ayah," ucap ayah.
"Okay yah," ucap Fauzi.
"Anaya mana?" tanya ayah.
"Anaya udah makan nasi uduk, lele goreng, bebek goreng dan kol goreng. Sekarang lagi mimpi indah yah," ucap Fauzi.
"Waduh banyak juga ya makannya. Ya ampun ayah lupa kasih kamu uang buat Anaya makan," ucap ayah.
"Tenang aja yah, Fauzi masih ada tabungan," ucap Fauzi.
"Makasih ya nak, nanti ayah transfer uang buat Fauzi," ucap ayah.
"Iya makasih yah," ucap Fauzi.
"Iya sama - sama, ya udah met istirahat ya. Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam yah," ucap Fauzi.
Telepon pun dimatikan dan Fauzi melihat Anaya yang sangat nyenyak tidurnya.
"Kaka akan selalu ada buat Anaya dan kaka tidak akan pernah berpaling ke yang lain, sebelum semuanya berakhir," ucap Fauzi.
Fauzi pun membelai kepala dan mengecup kening Anaya, Fauzi menyadari sedari tadi Alika melihat itu semua dari luar.
"Andaikan, mamih tidak melarang hubungan aku dengan Fauzi. Mungkin aku akan bahagia, tapi aku melihat Fauzi bisa bahagia tanpa aku. Tapi aku tak bahagia tanpa kamu," gumam Alika dalam hati.
Alika pun pergi dari ruang rawat Anaya, seketika Fauzi melihat ke arah pintu. Ternyata Alika sudah tidak ada.
"Maafkan aku Alika, kita memang tidak di takdirkan bersama. Semoga kelak, kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari aku," gumam Fauzi dalam hati.
Fauzi pun mengambil bantal dan meletakkan di samping kepala Anaya, Fauzi menatap wajah Anaya yang begitu cantik dan menggenggam tangan Anaya. Tanpa terasa Fauzi pun ikut tertidur.
Alarm dari ponsel Fauzi pun berbunyi dan menandakan sudah jam 3 pagi, Fauzi pun langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Solat Tahajud dan solat Hajat menjadi kegiatan rutin yang Fauzi jalani dari kecil hingga saat ini.
Adzan subuh dari ponsel Fauzi pun berkumandang, Fauzi melanjutkan solat subuh. Setelah solat subuh, Fauzi membangunkan Anaya untuk solat subuh.
"Nay bangun, solat subuh dulu yu," ucap Fauzi.
Anaya pun membuka mata dan meregangkan tubuhnya.
"Solat subuh dulu Nay," ucap Fauzi.
"Iya kak, kaka udah solat?" tanya Anaya.
"Baru saja selesai," ucap Fauzi.
"Kalo besok solat subuh lagi, bareng ya kak. Anaya ingin selalu solat berjamaah bersama kak Fauzi," ucap Anaya.
"Iya sayang, ya udah sekarang tayamum dulu," ucap Fauzi.
Fauzi menyiapkan sejadah kecil di ujung kaki Anaya dan kerudung mukena di samping Anaya. Anaya pun solat subuh dan sudah selesai.
"Nay, bener kamu mau home schooling dan gak mau sekolah biasa?" tanya Fauzi.
"Ya inginnya sih sekolah biasa, tapi Anaya merasakan kalau kondisi Anaya belum stabil. Jadi Anaya pilih home schooling aja ka," ucap Anaya.
"Dokter Benny juga sih, menyarankan untuk home schooling aja. Tadinya kaka dan ayah bingung harus bilang gimana sama Anaya, Tapi setelah kemarin kaka mendengar saat mengobrol bersama Dita, kaka jadi tahu kalau Anaya ingin home schooling," ucap Fauzi.
"Kalau home schooling kan, jam belajarnya pasti tidak akan lama. Dan sisa waktunya bisa Anaya pergunakan untuk istirahat atau hal lain," ucap Anaya.
"Kaka bangga sekali sama Anaya, masih tetap semangat untuk belajar. Walaupun keadaan lagi seperti ini, tapi Anaya masih mau belajar. Emang cita - cita Anaya apa?" tanya Fauzi.
"Ingin menjadi seorang istri dan punya suami seperti ka Fauzi," ucap Anaya sambil tersenyum.
Fauzi yang kaget dengan pernyataan Anaya seperti itu.
"Anaya sayang, itu bukan cita - cita. Kalau itu biar Allah yang menakdirkannya. Cita - cita Anaya mau jadi apa?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"Cita - cita Anaya mau jadi perawat atau seorang dokter," ucap Anaya.
"Semoga cita - cita Anaya terwujud ya, serahkan semua apa yang Anaya inginkan dalam doa, biar Allah bisa membantu Anaya mewujudkan cita - citanya ya," ucap Anaya.
"Tapi apa mungkin Anaya bisa sembuh, bertahan dan mewujudkan semua itu?" tanya Anaya.
"Bawa semua yang Anaya inginkan dalam doa sesudah solat ya, serahkan semua sama Allah. Biarkan Allah yang bekerja, kita yang sebagai umatnya jangan pernah menyerah dan jangan berputus asa dalam berusaha dan berdoa," ucap Fauzi sambil memeluk Anaya.
"Makasi ya kak, kaka selalu jadi obat penenang hati Anaya, kaka yang baik dan Anaya berdoa semoga Anaya bisa menemukan calon suami seperti kaka," ucap Anaya.
"Sekolah dulu yang benar, gak usah ngomongin jodoh dulu. Kamu tuh masih kecil, baru mau 12 tahun. Udah ngomongin calon suami," ucap Fauzi sambil mencubit hidung Anaya.
Anaya pun jadi malu dan menundukkan kepala, tiba - tiba menangis.
"Heh, kenapa nangis?" tanya Fauzi sambil mengangkat wajah Anaya.
"Anaya takut kalau kaka pergi tinggalin Anaya sendiri di sini," ucap Anaya.
"Siapa yang mau ninggalin Anaya? Kaka gak akan meninggalkan Anaya," ucap Fauzi.
"Janji ya, kaka tidak akan meninggalkan Anaya," ucap Anaya sambil mengacungkan jari kelingking ke arah Fauzi.
"Kaka gak berjanji, tapi kaka Insya Allah. Karna kalau kaka berjanji dan kaka gak bisa menepati janji, kaka takut jadi dosa. Jadi kaka ber-Insya Allah," ucap Fauzi sambil mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Anaya.
"Anaya sayang banget sama kaka," ucap Anaya.
"Kaka juga sayang banget sama Anaya," ucap Anaya.
Fauzi dan Anaya pun saling berpelukan, lalu Fauzi mengecup kening Anaya dengan penuh rasa kasih sayang dan rasa cinta yang Fauzi beri untuk Anaya.
Fauzi dan Anaya pun saling berpelukkan dan tiba - tiba ada suara.
kruuuuk kruuuuuuk
Anaya dan Fauzi pun saling menatap.
"Anaya lapar?" tanya Fauzi.
"Iya kak, Anaya lapar," ucap Anaya.
"Mau sarapan apa?" tanya Fauzi.
"Pengen bubur ayam yang dekat rumah," ucap Anaya.
Fauzi pun mengambil ponselnya untuk melihat bisa pesan online atau tidak, ternyata bisa.
"Kumplit?" tanya Fauzi.
"Iya kumplit tapi gak pake kacang dan kecap manis," ucap Anaya.
Akhirnya Fauzi memesan 2 bubur ayam kumplit tapi gak pake kacang dan gak pake kecap manis. Dan Fauzi meminta drivernya untuk menyamar sebagai pengunjung rumah sakit, karna Fauzi tidak mungkin meninggalkan Anaya sendiri.
Setelah menunggu selama 45 menit, akhirnya driver sudah sampai di depan ruang rawat Anaya dan Fauzi pun segera keluar.
"Berapa semuanya?" tanya Fauzi.
"Jadi 70ribu kak," ucap driver ojol.
"Ini uangnya dan kembaliannya buat mas nya aja," ucap Fauzi.
"Allhamdulilah, makasih ya kak," ucap Driver ojol.
Driver ojol itu pun pergi meninggalkan Fauzi dan Fauzi masuk ke dalam ruang rawat Anaya. Lalu menyiapkan sarapan untuk Anaya.
"Mau makan sendiri atau di suapin?" tanya Fauzi.
"Sendiri aja kak, biar kaka juga bisa sarapan. bareng," ucap Anaya.
Lalu Fauzi dan Anaya sarapan bersama, tiba - tiba ponsel Fauzi berbunyi dan ada video call dari ayah.
"Assalamu'alaikum yah," ucap Fauzi.
"Walaikumsalam nak, lagi apa?" tanya Ayah.
"Lagi sarapan bareng Anaya yah," ucap Fauzi.
Ponsel pun di berikan pada Anaya.
"Assalamu'alaikum ayah," ucap Anaya.
"Walaikumsalam sayang, lagi makan apa?" tanya ayah.
"Tadi pesan bubur mang Otong," ucap Anaya.
__ADS_1
"Nanti siang Anaya mau makan apa?" tanya bunda yang berada di belakang ayah.
"Anaya mau udang bakar madu, sop baso ikan, puding coklat dan jus jambu merah," ucap Anaya.
"Fauzi mau makan apa?" tanya bunda.
"Mau Ayam rica - rica aja bun," ucap Fauzi.
"Okay, ya udah kalian met sarapan dan ngobrol lagi sama ayah ya," ucap bunda.
"Ayah, kemarin Dita bilang mau ngasih kucing betina seumuran Miko. Katanya biar Miko gak jomblo lagi," ucap Anaya.
Ayah pun berjalan ke arah halaman belakang.
"Wah bagus itu, biar Miko gak jomblo," ucap ayah.
Anaya pun melihat ayah berjalan ke arah halaman belakang dan Anaya memanggil kucing kesayangannya itu.
"Mikooooooo," ucap Anaya.
Ayah mengarahkan ponsel kedepan Miko dan Miko senang sekali melihat Anaya.
"Meong," suara Miko.
"Nanti, Miko akan punya teman namanya Meli, kalian akur - akur ya nanti," ucap Anaya.
Miko pun menggerak - gerakkan ekornya ke kiri dan ke kanan, menandakan Miko senang.
"Meong," suara Miko.
"Miko do'ain Anaya ya, biar Anaya bisa cepat pulang dari rumah sakit. Dan bisa main sama Miko lagi ya," ucap Anaya.
"Meong," suara Miko.
"Assalamu'alaikum Miko," ucap Anaya.
"Meong," suara Miko.
Ayah pun mengalihkan lagi ponsel nya ke arah muka ayah.
"Ya udah kalian selamat sarapan ya, nanti ayah dan bunda ke sana siang," ucap ayah.
"Adam udah berangkat sekolah yah?" tanya Anaya.
"Udah, tadi di antar om Rio," ucap ayah.
"Salam buat mbak Nita dan om Rio ya yah," ucap Anaya.
"Okay sayang, Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam," ucap ayah.
Panggilan video call pun di matikan.
"Ya udah lanjut sarapannya," ucap Fauzi.
Anaya pun melanjutkan sarapan yang sempat tertunda beberapa menit, kini sarapannya telah selesai. Fauzi pun membereskan bekas Anaya sarapan.
Tiba - tiba dokter Benny masuk untuk memeriksa kondisi Anaya.
"Selamat pagi Anaya," ucap dokter Benny.
"Pagi juga om dokter," ucap Anaya.
"Dokter mau periksa kondisi Anaya dulu ya," ucap dokter Benny.
Dokter Benny dengan telaten memeriksa kondisi Anaya yang naik turun.
"Nah udah beres, sekarang mau ambil darah dulu ya," ucap dokter Benny.
Fauzi pun langsung memeluk Anaya, agar Anaya tenang saat di ambil darahnya.
"Selesai deh," ucap dokter Benny.
"Ini obat paginya," ucap suster.
"Makasih dokter dan suster," ucap Anaya.
Dokter Benny pun pamit untuk keluar ruang rawat Anaya.
"Nanti papih kirim chat sama kamu," ucap dokter Benny.
Fauzi pun hanya menganggukkan kepala dan kembali masuk ke ruang rawat Anaya. Lalu Fauzi memberikan obat pagi hari untuk Anaya.
__ADS_1
Anaya pun semangat minum obat, Fauzi menyalakan TV. Agar Anaya tidak bosan. Fauzi fokus pada ponselnya, dan tanpa disadari Anaya sudah terbang ke alam mimpinya sambil memeluk bantal kesayangannya. Lalu auzi melihat Anaya sudah tidur lagi.