
Flashback On
Sebelum terjadi kondisi Anaya drop, Fauzi menyatakan cinta sama Anaya.
"Nay... ijinkan kaka untuk menyayangimu lebih dari seorang adik," ucap Fauzi.
"Maksud kaka apa?" tanya Anaya.
"Mungkin menurut Anaya, ini hal yang aneh. Tapi ntah sejak kapan, kaka memiliki rasa sayang dan cinta untuk Anaya," ucap Fauzi.
"Jangan kak... umur Anaya gak akan lama lagi. Sebaiknya kaka sama ka Alika," ucap Anaya.
"Alika sudah menjadi masa lalu kaka, sekarang masa depan kaka ada di kamu Nay," ucap Fauzi.
"Kalau Anaya meninggal gimana?" tanya Anaya.
"Kamu jangan bilang gitu, kamu pasti kuat dan bisa bertahan melewati semua ini," ucap Fauzi dengan egois, yang sebenarnya Fauzi tau kalau Anaya tidak akan lama lagi.
"Kaka gak tau gimana rasa sakitnya menahan semua ini dan bertahan untuk bisa sembuh dari semua penyakit ini. Cuci darah saja membuat Anaya lelah untuk hidup kak," ucap Anaya.
Fauzi dengan egoisnya, mencoba untuk menyemangati Anaya. Agar Anaya bisa bertahan hidup.
__ADS_1
"Kaka tau itu Nay, tapi setidaknya ijinkan kaka untuk menyayangi dan mencintai Anaya lebih dari seorang adik," ucap Fauzi yang lalu mencium bibir Anaya dengan waktu beberapa detik saja.
Anaya kaget tapi bahagia, mendapatkan perlakuan spesial dari orang yang begitu sangat menyayanginya.
"Anaya ijinkan kaka untuk menyayangi dan mencintai diri Anaya. Asalkan kalau Anaya pergi ke surga, simpan semua rasa itu di hati kaka yang paling dalam," ucap Anaya.
"Makasih Nay, kaka akan simpan rasa itu di hati kaka yang paling dalam dan kaka tidak akan pernah melupakan Anaya sedikit pun. Karena Anaya merupakan wanita ketiga untuk kaka sayangi, setelah almarhumah ibu, Alika dan kini Anaya," ucap Fauzi.
Anaya hanya bisa memeluk Fauzi dengan erat, seakan - akan Anaya tak mau kehilangan dan tak ingin jauh dari Fauzi.
"Makasih ya kak... kaka udah baik, perhatian, sayang, bahkan sampai cinta sama Anaya," ucap Anaya.
"Kalau ayah tanya ini cincin apa, Anaya jawab apa?" tanya Anaya.
"Ayah udah tau Nay, malahan ayah meminta sama kaka buat melamar Anaya," ucap Fauzi.
"Jadi ayah udah tau masalah kalau kaka sayang dan cinta sama Anaya?" tanya Anaya.
"Udah tau Nay, malahan kaka udah dapat restu dari ayah," ucap Fauzi.
Anaya pun hanya bisa tersenyum dang memeluk Fauzi dengan erat.
__ADS_1
"Kak... makasih udah begitu baik sama Anaya, makasih juga udah mau nerima kondisi Anaya seperti ini. Anaya seneng banget kalau kaka melamar Anaya dengan restu dari ayah. Tapi Anaya gak janji bisa bertahan, yang penting Anaya udah berusaha untuk bertahan," gumam Anaya dalam hati sambil menangis tersedu - sedu.
"Kenapa menangis?" tanya Fauzi.
"Anaya senang di saat Anaya seperti ini, ada orang yang sangat spesial di hidup Anaya selain ayah dan Dita," ucap Anaya.
"Kaya martabak aja, ada spesialnya," ucap Fauzi sambil tersenyum.
Anaya pun ikut tersenyum dan kembali memeluk Fauzi, seakan Anaya sudah tau kalau dirinya akan pergi jauh dari Fauzi.
"Iya kaka itu melebihi segala makanan yang spesial, pokoknya kaka itu spesial banget di hati dan di hidup Anaya saat ini. Sekali lagi Anaya cuman bisa bilang makasih, tanpa Anaya bisa berbuat sesuatu buat kaka. Yang ada selalu menyusahkan kaka," ucap Anaya.
"Udah gak usah bicara yang aneh - aneh lagi ya, yang penting Anaya sehat lagi, bisa sekolah lagi dan bisa pulang ke rumah," ucap Fauzi.
"Ya udah Anaya tidur ya kak, biar Anaya bisa cepet sembuh, gak sakit lagi dan secepatnya bisa pulang ke rumah," ucap Anaya.
Fauzi pun tidak menaruh curiga dengan ucapan Anaya yang bilang seperti itu, dan Fauzi pun berpikir positif kalau Anaya bilang seperti itu hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Sejam kemudian mendadak Anaya seperti merasakan sesak nafas dan Fauzi pun panik, mendadak kondisi Anaya drop. Sehingga Fauzi memanggil dokter Benny.
Flashback Off
__ADS_1