She'S Come Back

She'S Come Back
Bab 4 - Ibunya Fauzi Meninggal


__ADS_3

Fauzi yang sudah masuk ke SMPN 2 Bandung, udah membuat orang tuanya bangga dengan segala prestasi yang udah di raihnya selama ini.


Dokter Benny melihat Fauzi yang punya semangat tinggi dan tekad yang besar, maka dari itu Dokter Benny mau membiayai pendidikan Fauzi hingga jadi dokter, seperti cita - cita Fauzi.


Ibunya Fauzi mulai sakit - sakitan dan ini yang membuat Fauzi bersedih.


"Bu... cepet sembuh ya, kan mau liat Fauzi jadi dokter," ucap Fauzi sambil menangis.


"Ibu ndak apa - apa nak, ibu hanya kelelahan saja. Pokoknya anak ibu harus rajin sekolah dan wujudkan cita - citamu nak!" ucap ibunya Fauzi.


Dokter Benny membawa ibunya Fauzi ke rumah sakit dan memeriksa keadaan ibu Siti. Dokter Benny sudah mendapatkan hasil pemeriksaan secara keseluruhan.


Fauzi yang masih setia menemani ibunya di rumah sakit, tapi Fauzi masih tidak pernah membolos sekolah.


"Fauzi... malam ini pulang sama papih ya, besok kan sekolah," ucap Dokter Benny.


"Iya pih," ucap Fauzi.


"Zi... tolong belikan roti susu 3, roti keju 3, dan pilih roti yang Fauzi mau. Ini uangnya, beli di tempat biasa dan di antar sama mbak Imah ya," ucap dokter Benny.


"Iya pih," ucap Fauzi sambil keluar dengan mbak Imah.


Dokter Benny sengaja meminta Fauzi untuk membelikan roti, karna dokter Benny mau mengobrol dengan ibu Siti.


"Gimana keadaan ibu?" tanya dokter Benny.


"Sedikit membaik tuan! saya sakit apa?" tanya ibu Siti.


"Ibu siap mendengar seluruh hasilnya?" tanya dokter Benny.


"Siap dok... bila saya sakit parah, jangan beritahu Fauzi," ucap ibu Siti.


"Maka dari itu, saya meminta Fauzi membeli roti! Karna saya ingin menyampaikan hasilnya. Ibu Siti sakit Kanker otak stadium 4 atau stadium akhir. Karna dari itu, ibu sering merasakan sakit kepala yang tak tertahankan," ucap dokter Benny.


"Astagfirullah separah itukah tuan? tapi saya pasrah sama Allah saja. Allah yang memberikan saya sakit dan Allah pun yang akan menyembuhkan saya," ucap ibu Siti.


"Ibu yang tabah ya... saya tidak akan memberitahu perihal ini sama Fauzi saat ini. Saya takut dia drop dan tidak mau melanjutkan sekolah," ucap dokter Benny.


"Tuan... bila nyawa saya tidak selamat, saya mau mengucapkan banyak terima kasih sama keluarga besar tuan yang sudah baik sama keluarga saya, terutama sama Fauzi. Saya titip Fauzi sama tuan," ucap Ibu Siti.

__ADS_1


"Itu sudah kewajiban saya sebagai majikannya ibu Siti, saya janji akan merawat dan menyayangi Fauzi seperti anak saya sendiri. Ibu gak usah khawatir," ucap dokter Benny.


Ibu Siti pun merasa bahagia dan tenang, ibu Siti pun bisa meninggalkan Fauzi dengan tenang.


"Ya Allah... jika engkau mau mengambilku saat ini, aku siap dan sudah pasrah," gumam Ibu Siti dalam hati.


Fauzi dan mbak Imah pun datang dan membawa beberapa pesanan roti untuk dokter Benny.


"Nak sini... ibu mau bicara," ucap Ibu Siti.


"Iya bu, ada apa?" tanya Fauzi.


"Kamu janji sama ibu ya! harus rajin sekolah, belajar yang rajin, nurut sama tuan dan nyonya, jangan tinggalkan sholat, wujudkan cita - citamu," ucap ibu Siti.


"Insya Allah bu... Fauzi akan menuruti semua nasehat ibu, yang penting sekarang ibu harus sehat. Katanya ibu mau liat Fauzi jadi dokter dan pakai jas putih kaya papih dokter," ucap Fauzi.


"Iya nak... doakan ibu untuk sehat lagi dan bisa liat anak kesayangan ibu pakai jas putih kaya tuan dokter," ucap Ibu Siti.


Fauzi dan ibunya saling berpelukkan sambil menangis.


"Tangan ibu kenapa dingin?" tanya Fauzi.


Fauzi menatap ibunya dengan perasaan gelisah, Fauz bingung dengan perasaannya saat ini.


"Ada apa ini? kenapa perasaan Fauzi begitu gelisah melihat keadaan ibu dan memegang tangan ibu. Ya Allah sembuhkanlah ibunya Fauzi, biar ibu bisa liat Fauzi pakai jas putih seorang dokter," gumam Fauzi dalam hati.


Tanpa terasa air mata Fauzi menetes dan membanjiri pipinya Fauzi.


"Kenapa menangis?" tanya ibu Siti.


"Fauzi takut kalau ibu gak sembuh dan ibu pergi tinggalin Fauzi sendiri disini," ucap Fauzi.


Dokter Benny yang mendengar ucapan Fauzi, seperti tau kalau Fauzi merasakan hal yang membuat hatinya gelisah.


"Sayang... ibumu pasti sembuh, kalau pun gak sembuh, mungkin itu takdir dari Tuhan. Semua agama mengajarkan bagaimana takdir datang dalam kehidupan semua umatnya, takdir datang tidak ada yang mampu melawan dan melarangnya. Fauzi gak sendiri, disini masih ada banyak orang yang sayang sama Fauzi. Ada papih, mamih, cici Felisya, koko alfred, keluarga besar om, seluruh pelayan di rumah. Semua sayang Sama Fauzi, jadi jangan pernah merasa sendiri dan jangan berpikir akan menjadi sendiri," ucap Dokter Benny.


Fauzi langsung memeluk dokter Benny sambil menangis.


"Menangislah nak... jika dengan menangis bisa membuat hati Fauzi menjadi tenang," ucap dokter Benny.

__ADS_1


Mbak Imah yang melihat hal ini, ikut terharu dan menangis.


"Ya Allah sembuhkanlah ibu Siti! kalaupun tidak sembuh, buatlah ibu Siti bahagia di sisa umurnya," gumam mbak Imah dalam hati sambil menatap wajah ibu Siti.


"Imah... nanti saya titip Fauzi ya, kamu tau makanan kesukaannya Fauzi dan segala hal tentang Fauzi," ucap Ibu Siti.


"Iya bu... saya akan jaga Fauzi seperti adik saya sendiri. Yang penting ibu Siti sehat lagi dan bisa pulang ke rumah dengan sehat," ucap mbak Imah.


Setelah berbicara panjang lebar, tiba - tiba ibu Siti merasakan sesak di dada dan pingsan. Dokter Benny langsung memanggil suster untuk membantu menyadarkan kondisi ibu Siti.


"Ibu bangun bu... jangan tinggalin Fauzi sendiri, Fauzi udah gak punya siapa - siapa lagi," ucap Fauzi sambil berteriak dan berlari ke arah ibunya.


Suster mencoba menjauhkan Fauzi dari ibu Siti, agar dokter Benny bisa memeriksa kondisi ibu Siti.


Mbak Imah memegang Fauzi dan menenangkan Fauzi.


"Sabar mas... istigfar! ibu pasti sehat lagi dan bisa pulang ke rumah lagi," ucap mbak Imah.


"Bu bangun... jangan tinggalin Fauzi," ucap Fauzi sambil menangis dan memeluk mbak Imah.


Dokter Benny pun berusaha untuk membuat ibu Siti sadar kembali, namun Tuhan berkata lain. Tuhan telah membawa ibu Siti pergi dari dunia ini.


"Fauzi... sabar ya nak! ibu udah pergi dengan tenang dan ibu udah gak sakit lagi," ucap dokter Fauzi.


Fauzi yang mendengar ucapan dokter Benny langsung berlari menghampiriibunya. Fauzi mencoba membangunkan ibunya, tapi ibunya tak kunjung bangun dan membuka mata.


"Bu bangun bu... jangan pergi tinggalin Fauzi, Fauzi belum jadi dokter dan Fauzi belum pakai jas putih kaya papih dokter. Katanya ibu mau liat Fauzi jadi dokter," ucap Fauzi sambil menangis.


Mbak Imah yang melihat semua ini, ikutan menangis. Di tambah Fauzi yang belum siap menerima semua kenyataan ini.


Dokter Benny pun memeluk Fauzi dan mengecup kening anak angkatnya ini, yang di urus dari sejak orang tuanya bekerja di rumah orang tua dokter Benny.


Dokter Benny sangat mengenali sifat dan karakter seorang Fauzi, keluarganya pun sangat menyayanginya. Betapa beruntungnya Fauzi berada di keluarga yang selalu menyayangi Fauzi.


Dokter Benny pun mengurus kepulangan jenazah ibu Siti ke rumah dokter Benny, sebelumnya dokter Benny pun sudah memberitahukan pada orang rumah dan rt/rw setempat.


Jenazah ibu Siti di bawa ke kota Garut dan di makamkan disebelah makam suaminya. Keluarga di Garut pun tidak menyangka dengan kabar duka ini.


Kini Fauzi mulai menata kehidupannya untuk menjadi murid yang di banggakan dan mewujudkan cita - citanya demi orang tua dan dokter Benny.

__ADS_1


__ADS_2