
Fauzi yang sedang gelisah di luar ruang rawat Anaya, karna dokter Benny sedang memeriksa kondisi Anaya, yang sempat drop lagi.
"Suster Alika, tolong panggil Fauzi," ucap Dokter Benny.
"Baik dok," ucap Suster Alika.
Alika pun pergi menuju keluar ruang rawat Anaya.
"Kak, di panggil dokter Benny," ucap Alika.
Fauzi langsung masuk ke dalam ruang rawat Anaya.
"Gimana pin?" tanya Fauzi.
"Kondisi Anaya semakin menurun, mungkin kita harus membawa Anaya ke ruang ICU, biar kita pantau terus dengan alat - alat," ucap Dokter Benny.
"Lakukan yang terbaik buat Anaya," ucap Fauzi.
Dokter Benny dan para suster langsung membawa Anaya ke ruang ICU, karna kondisi Anaya menurun dan sudah hilang kesadarannya. Banyak alat yang menempel di tubuh Anaya, dari alat pendeteksi detak jantung, oksigen, dan infusan yang masih setia menancap di lengan Anaya.
Fauzi hanya bisa melihat Anaya dari luar ruangan di balik kaca, Fauzi sangat terpukul melihat kondisi Anaya seperti ini.
Ponsel Fauzi berdering dan tertera nama Ibu Nunung.
"Assalamu'alaikum bunda," ucap Fauzi dengan lirih.
"Walaikumsalam nak, bunda udah di lobi rumah sakit," ucap Ibu Nunung.
"Iya bentar bun, Fauzi ke sana," ucap Fauzi.
Fauzi pun menjemput ibu Nunung yang sudah ada di lobi rumah sakit.
__ADS_1
"Bunda," ucap Fauzi.
"Nak, gimana kondisi Anaya?" tanya Ibu Nunung.
"Ikut Fauzi yu bun," ucap Fauzi.
Ibu Nunung pun mengikuti langkah Fauzi menuju ruang ICU.
"Itu Anaya bun," ucap Fauzi.
"Astagfirullah Anaya," ucap Ibu Nunung sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Fauzi pun hanya bisa duduk di kursi dekat ruang ICU dan Ibu Nunung memeluk Fauzi yang pastinya sangat terpukul.
Tiba - tiba ponsel Fauzi berbunyi, ternyata yang menelepon ayah.
"Zi, gimana kondisi Anaya?" tanya Ayah.
"Anaya masuk ICU yah, kondisi Anaya menurun," ucap Fauzi dengan lirih.
Ayah lupa mengucapkan Assalamu'alaikum, karna panik setelah mendengar kabar kondisi Anaya saat ini.
Iyan dan Dita berlari ke ruang ICU, karna sebelumnya Iyan dan Dita ke ruang rawat Anaya, hanya saja suster di sana mengatakan kalau Anaya masuk ICU.
"Kak, Anaya mana?" tanya Dita.
"Itu Dita," ucap Fauzi sambil menunjuk di mana Anaya terbaring dengan lemah.
Dita yang melihat kondisi Anaya seperti ini, hatinya semakin hancur.
"Nay bangun, jangan tinggalin Dita. Katanya kita mau sekolah SMP bareng lagi," ucap Dita
__ADS_1
Semua yang mendengar ucapan Dita, rasanya semakin hancur. Ibu Nunung menghampiri Dita, lalu mengusap pundak sang murid.
"Kita do'ain buat Anaya ya," ucap Ibu Nunung.
Iyan yang melihat kondisi Anaya, rasanya hancur dan sangat terpukul. Lalu ayah dan yang lainnya datang.
"Kak Anaya bangun, jangan tinggalin Adam," ucap Adam sambil menangis.
"Nay bangun, jangan tinggalin Aris sendiri. Katanya mau di bonceng naik motor kalau sekolah," ucap Aris sambil menangis.
Ayah dan bunda sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, karna tak mampu mengucapkan kata.
Dokter Benny menghampiri semua yang ada di luar ruang ICU.
"Dok gimana kondisi Anaya?" tanya Teguh.
"Saat ini kondisi Anaya menurun dan sekarang Anaya sedang koma," ucap Dokter Benny.
"Astagfirullah," ucap semua.
Semua yang mendengar kabar Anaya saat ini, hanya bisa menangis dan terdiam tanpa kata.
"Dok, apa boleh menemui Anaya?" tanya Ayah.
"Boleh, tapi setiap masuk hanya 2 orang secara bergantian. Nanti pake baju khusus dan pake masker dan setiap yang menjenguk hanya punya waktu 10 menit," ucap Dokter Benny.
"Siapa yang mau masuk?" tanya Ayah.
"Dita mau masuk yah," ucap Dita.
"Ya udah Dita masuk duluan, nanti giliran sama yang lain ya," ucap Ayah.
__ADS_1
Dita pun masuk ruang ICU sendiri, melangkahkan kakinya yang terasa berat. Dita tak kuat melihat kondisi sahabatnya ini seperti sekarang.
"Nay kalau kamu udah gak kuat, kamu boleh pergi menyusul ibu. Tapi kalau kamu masih mau bertahan, sadarkah Nay. Dita gak sanggup melihat dirimu seperti ini," bisik Dita di telinga Anaya.