She'S Come Back

She'S Come Back
Bab 2 - Asal Usul Fauzi


__ADS_3

Benny Hadiatma merupakan salah satu dokter ahli saraf senior di rumah sakit Borromeus, dokter Benny tinggal di kawasan dekat rumah sakit beliau bekerja.


Benny Hadiatma memiliki asisten rumah tangga yang bernama ibu Siti Samiah dan pa Ali, mereka merupakan sepasang suami istri yang bekerja menjadi asisten rumah tangga dari orang tua Benny Hadiatma masih ada hingga sudah meninggal.


Kini mereka ikut bekerja di rumah Benny Hadiatma, saat itu mereka membawa seorang anak yang bernama Muhammad Fauzi. Fauzi di biayai sekolah oleh Benny Hadiatma.


"Fauzi... apakah kamu mau sekolah?" tanya Benny.


"Saya mau sekolah, tuan," ucap Fauzi.


"Jangan panggil tuan, panggil saja papih," ucap Benny.


"Iya papih," ucap Fauzi dengan masih lugu dan polos, karna masih usia 6 tahun.


"Nanti saya, daftarkan kamu sekolah. Saya akan biayai pendidikan sampai kuliah. Apa cita - citamu?" tanya Benny.


"Saya ingin menjadi dokter seperti papih," ucap Fauzi.


"Asalkan kamu berprestasi di sekolah, saya akan membiayai sampai kamu bisa menjadi dokter," ucap Benny.


Fauzi yang mendengar ucapan sang majikan, langsung berlari ke arah Benny Hadiatma dan mencium tangan dokter itu.


"Terima kasih papih, udah mau biayai pendidikan Fauzi," ucap Fauzi.


"Terima kasih tuan, tuan dan keluarga sudah selalu baik sama kami. Hingga mau membiayai anak kami sekolah," ucap Ibu Siti.


"Saya melihat Fauzi, anaknya rajin dan mau membantu pekerjaan di rumah ini. Seharusnya dia bersekolah, jadi saya akan membiayai pendidikan Fauzi hingga cita - citanya terkabul," ucap Benny.


Benny pun mengajak Fauzi untuk mendaftar sekolah, karna ajaran baru akan segera di mulai. Benny mendaftarkan sekolah di SD Harapan Bangsa.


Akhirnya Benny telah selesai mendaftarkan Fauzi sekolah, Fauzi terlihat sangat gembira dan antusias sekali.


"Fauzi... belajar yang rajin ya, buatlah cita - citamu tercapai," ucap Benny.


"Makasih pih, udah mau biayai Fauzi sekolah. Semoga Allah membalas semua rezeki papih yang udah papih kasih untuk Fauzi dan orang tua Fauzi," ucap Fauzi.


"Sama - sama nak, nanti selama sekolah. Fauzi akan di antar jemput oleh supir yang bernama pa Andri," ucap Benny.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih untuk dokter Benny dan keluarga yang sudah baik sama kami selama ini," ucap pa Ali.


"Itu sudah kewajiban saya pa, apa lagi kalian sudah lama kerja disini. Saya ingin melihat anak kalian sukses dan bisa membuat kalian bangga," ucap Benny.


Benny Hadiatma pun masuk ke dalam kamar, Fauzi dan orang tuanya pun masuk kamar.


"Nak... pesan ibu hanya 1, jadilah anak yang berprestasi. Kalau bisa, dapatkan beasiswa biar biaya yang di bayarkan tuan Benny tidak terlalu mahal. Ayah dan ibu hanya bisa mendoakan Fauzi biar sukses dan bisa jadi dokter," ucap Ibu Siti.


"Ayah gak bisa kasih apa - apa, semua sudah difasilitasi oleh tuan. Jadilah anak yang rajin, ingat jangan pernah Fauzi tinggalkan solat," ucap ayah Ali.


"Ibu dan ayah, terima kasih untuk selama ini. Sudah mengajarkan banyak hal untuk Fauzi. Semoga setelah Fauzi jadi dokter, kita bisa hidup bahagia," ucap Fauzi.

__ADS_1


Fauzi memeluk orang tuanya satu per satu dan mencium tangan orang tuanya. Akhirnya pengajaran baru pun dimulai, Fauzi yang sudah lancar membaca dan menulis. Itu bukan hal yang sulit bagi Fauzi untuk mengikuti pelajaran disekolah. Fauzi sangat aktif dalam mengikuti pelajaran.


.


.


.


salah satu guru yang bernama Ibu Nunung memperhatikan Fauzi yang sangat antusias dan aktif.


"Hai ganteng, namanya siapa?" tanya Ibu Nunung sekaligus wali kelas 1.


"Nama saya Muhammad Fauzi bu," ucap Fauzi.


"Semangat terus ya sekolahnya dan yang rajin belajarnya, biar bisa naik kelas," ucap Ibu Nunung.


"Terima kasih bu," ucap Fauzi.


Tanpa terasa Fauzi sudah naik kelas lagi, karna nilai - nilai pelajaran Fauzi sangat memuaskan sekali. Akhirnya Fauzi mendapatkan beasiswa hingga nanti lulus sekolah dasar.


Pihak sekolah memberikan beasiswa, karna Fauzi sangat aktif dikelas, nilai - nilai kesehariannya pun sangat memuaskan di tambah Fauzi ini memiliki kepribadian yang baik.


Kini Fauzi sudah kelas 6, saat ini Fauzi sedang fokus di semua mata pelajaran.


"Alika... nanti kita belajar bareng yu," ucap Fauzi.


"Okay Alika," ucap Fauzi.


Alika merupakan teman sekelas dan sebangku dengan Fauzi dari kelas 1 hingga kelas 6.


.


.


.


Akhirnya ujian akhir sekolah pun dimulai, Fauzi dan Alika dengan santainya mengerjakan setiap soal yang di ujiankan. Selama sekolah mereka merupakan murid teladan, sama - sama mendapatkan beasiswa di sekolah.


Ujian sekolah pun telah selesai dan kini pengumuman kelulusan.


"Assalamu'alaikum... selamat pagi untuk seluruh murid sekolah kelas 6 Harapan Bangsa dan orang tua yang telah datang. Hari ini kami pihak sekolah akan mengumumkan nilai tertinggi hasil ujian. Juara umum se-Kota Bandung di raih Muhammad Fauzi, lalu juara umum di sekolah di raih oleh Muhammad Fauzi. Untuk Muhammad Fauzi silahkan maju ke depan," ucap kepala sekolah.


Semua murid dan semua orang tua riuh bertepuk tangan.


"Baru segitu aja udah sombong, padahal dia itu hanya anak pembantu dari dokter Benny," ucap mamihnya Alika kepada orang tua murid yang lain.


"Justru saya akan bangga memiliki anak dari seorang pembantu yang sangat pintar," ucap salah satu orang tua murid.


"Pintar apanya? Lebih pintar Alika," ucap mamihnya Alika.

__ADS_1


"Kalau anak ibu pintar, masuk peringkat keberapa?" tanya salah satu orang tua murid.


Mamihnya Alika pun kesal, karena anaknya tidak menjadi juara, justru yang menjadi juara itu hanya seorang anak dari pembantu.


"Untuk juara kedua diraih oleh Alika Putri, untuk Alika silahkan maju kedepan," ucap Kepala sekolah.


Pihak sekolah memberikan piagam, alat tulis dan seragam polos untuk masuk SMP. Kepala sekolah pun melanjutkan membaca hingga peringkat ke 10.


"Alika dan Fauzi... selamat ya. Ibu bangga sama kalian," ucap Ibu Nunung.


"Terima kasih ya bu, untuk selama ini udah mengajari banyak hal untuk Fauzi," ucap Fauzi.


"Sama - sama nak," ucap Ibu Nunung.


"Ibu... Terima kasih juga udah banyak memberi ilmu untuk Alika. Saat ini Alika mau mengucapkan salam perpisahan sama ibu dan Fauzi, karna Alika akan pindah ke Surabaya mengikuti dinas ayahnya Alika bekerja," ucap Alika.


"Kamu hati - hati disana, jangan lupakan aku ya. Kamu tau alamat rumah ku, jadi kalau kamu ke Bandung mampir ke rumah ya," ucap Fauzi.


"Iya Zi, kamu adalah sahabat aku yang terbaik," ucap Alika.


"Dimana pun Alika sekolah, jadilah murid yang berprestasi. Tingkatkan terus prestasi Alika," ucap Ibu Nunung.


"Iya makasih ya bu," ucap Alika sambil memeluk Ibu Nunung.


Akhirnya mereka pun berpamitan.


.


.


.


"Alikaaaa... cepet, nanti kita ketinggalan pesawat," teriak mamihnya Alika.


Alika pun segera menyusul mamihnya dan sekarang waktunya untuk mamihnya memarahi Alika.


"Masa kamu kalah sama seorang anak dari pembantu, makanya mamih suruh belajar ya belajar. Sekarang akibatnya, kamu tidak jadi juara umum, kamu bikin mamih malu tau," ucap Mamihnya Alika.


"Alika udah berusaha mih," ucap Alika.


"Kalau udah berusaha, kamu jadi juara umum atau juara 1! bukan juara ke 2," ucap mamihnya Alika.


Mamihnya Alika terobsesi memiliki anak yang sangat pintar, biar tidak membuat malu keluarga. Mamihnya Alika tidak melihat seberapa jauh kemampuan Alika dalam belajar.


"Terus Alika harus gimana?," tanya Alika.


"Pokoknya nanti di Surabaya kamu harus rajin belajar, les semua mata pelajaran," ucap mamihnya Alika.


Alika hanya bisa menghela nafas dan Alika capek untuk selalu mengikuti obsesi mamihnya, untungnya Alika bisa menyesuaikan kemampuan Alika.

__ADS_1


__ADS_2