
Fauzi masih berada di lingkungan keluarga Anaya, mulai menjaga Anaya yang menderita meningitis.
Dokter Benny datang untuk memeriksa kondisi Anaya, dan mengijinkan Anaya untuk bisa pulang hari ini.
Wajah Anaya merasa bahagia, saat mendengar udah bisa pulang ke rumah. Fauzi sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk di bawa ke rumah Keluarga ayah Teguh.
Akhirnya semua tiba di rumah keluarga ayah Teguh, Fauzi merasa bahagia berada di tengah keluarga ini.
Semua pun meninggalkan ruang keluarga, Anaya di bantu oleh Fauzi untuk masuk kamar, setiba di kamar Anaya diberikan obat malam agar lebih rilex dan tenang.
"Kak, apa Anaya boleh bertanya?" tanya Anaya.
"Apa yang akan Anaya tanyakan?" tanya Fauzi.
"SD, SMP, dan SMA kaka di mana?" tanya Anaya.
"SD Harapan Bangsa, SMPN 2, dan SMAN 3" ucap Fauzi.
"Kaka alumni Harapan Bangsa?" Tanya Anaya.
"Iya, kenapa?" tanya Fauzi.
"Berarti kaka diajar sama Ibu Nunung dong?" tanya Anaya.
"Iya, kok Anaya tau?" tanya Fauzi.
Anaya mengambil ponselnya dan memperlihatkan wajah ibu Nunung.
"Yang ini bukan kak?"tanya Anaya.
"Iya yang itu, kok Anaya tau?" tanya Fauzi sambil terheran.
"Lalu kapan ibu Nunung kemari lagi?," tanya Fauzi.
"Lusa kak," ucap Anaya.
"Ya udah besok lagi lanjut ngobrolnya, sekarang Anaya tidur. Kaka disini temani Anaya ya" ucap Fauzi.
"Makasih ya kak," ucap Anaya.
Anaya pun memejamkan mata sambil berdoa dalam hati dan akhirnya Anaya tidur pulas. Fauzi yang melihat Anaya sudah tidur dengan pulas, Fauzi melihat wajah Anaya dengan lekat.
"Aku akan membantumu hingga kau sembuh," gumam Fauzi dalam hati.
Fauzi masih semangat dalam mengerjakan skripsi sambil menemani Anaya malam ini. Tiba-tiba Anaya terbangun dan melihat ada Fauzi.
"Kak... Anaya ingin ke toilet," ucap Anaya.
Fauzi pun membantu Anaya turun dari tempat tidur dan membantu Anaya berjalan ke kamar mandi. Fauzi menunggu Anaya di luar.
"Aduh ini kenapa kepala Anaya pusing lagi," gumam Anaya dalam hati".
Ketika Anaya hendak berjalan ke arah pintu, Anaya merasakan sakit kepala yang luar biasa, tanpa disadari Anaya pingsan.
Fauzi menunggu di luar kamar mandi, tapi merasa aneh tidak ada suara, karna Fauzi merasa aneh. Fauzi membuka kamar mandi itu dan melihat Anaya yang sudah jatuh pingsan.
"Astagfirullah Anaya," ucap Fauzi sambil mendekati ke arah Anaya.
Fauzi pun mengangkat tubuh Anaya dan membawa ke tempat tidur, lalu Fauzi berlari ke atas membangunkan ayah.
"Ayah... Ayah... bangun," teriak Fauzi sambil mengetuk pintu.
Ayah yang sudah tidur, kaget mendengar suara Fauzi dan suara ketukan pintu.
"Ada apa Fauzi," ucap ayah.
"Anaya pingsan yah, tadi minta ke kamar mandi, tapi pingsan di kamar mandi," ucap Fauzi.
"Astagfirullah, ayo turun," ucap ayah.
Fauzi dan ayah pun turun ke kamar Anaya untuk melihat kondisinya.
"Anaya bangun Nay," ucap ayah sambil berusaha membangunkan Anaya.
Ayah dan Fauzi berusaha membangunkan Anaya tapi tidak bangun juga.
"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit," ucap ayah.
Fauzi pun menyiapkan mobil untuk membawa Anaya ke rumah sakit dan ayah menggendong Anaya. Mobil pun melaju ke rumah sakit.
Setiba di rumah sakit, Anaya langsung di bawa ke IGD dan untuk di periksa. Fauzi langsung menelepon dokter Benny dan mengatakan kalau Anaya pingsan.
"Tenang yah, Fauzi udah telepon dokter Benny," ucap Fauzi.
Ayah masih berjaga diluar untuk menunggu hasil pemeriksaan, dan dokter Benny pun keluar ruangan. Ayah dan Fauzi mendatangi dokter Benny.
"Gimana keadaan Anaya?" ucap ayah.
"Keadaan Anaya sedang drop, nah ini yang saya takutkan, kondisinya bisa tiba-tiba drop," ucap dokter Benny.
"Jadi harus gimana dok?" tanya Ayah.
"Mau tidak mau harus di rawat lagi di rumah sakit untuk menganalisisnya lagi," ucap dokter Benny.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk Anaya," ucap Ayah.
Dokter Benny, Fauzi dan para suster membawa Anaya ke ruang rawat VIP, agar Anaya merasa lebih tenang.
"Mas kenapa Anaya bisa pingsan?" tanya dokter sama Fauzi.
"Tadi udah tidur, Tiba-tiba Anaya meminta ke kamar mandi, terus Fauzi merasa kenapa lama sekali dan ketika Fauzi melihat Anaya sudah pingsan," ucap Fauzi.
Dokter Benny pun menganalisis keterangan dari Fauzi, tapi harus menunggu Anaya sadar, agar bisa menanyakan apa yang terjadi. Semua menunggu Anaya sadar dan akhirnya Anaya sadar.
"Ada di mana ini?" tanya Anaya.
"Di rumah sakit Nay," ucap Ayah.
Anaya pun mengingat-ngingat apa yang terjadi.
"Semalam apa yang Anaya rasakan?" ucap dokter Benny.
"Tadi pas di kamar mandi, Anaya mendadak pusing, Anaya mencoba untuk diam dulu, setelah pusingnya ilang Anaya mencoba berdiri, tapi gak tau lagi," ucap Anaya.
"Apakah Anaya sedang banyak pikiran?" tanya dokter Benny.
"Tidak ada dok, Anaya cuman memikirkan untuk UN saja," ucap Anaya.
"Sebaiknya jangan di pikirkan ya, biarkan saja berjalan dengan semestinya. Ingat Anaya jangan banyak pikiran, pusingnya Anaya berpengaruh dengan kalau Anaya banyak pikiran," ucap dokter Benny.
"Oh gitu ya dok, apakah Anaya boleh pulang?," ucap Anaya.
"Tunggu cairan infusan, darah, dan vitamin ini habis ya, baru Anaya boleh pulang," ucap dokter Benny.
__ADS_1
Anaya yang mendengar itu merasa sedih karna harus berbaring lagi di rumah sakit. Dokter Benny yang melihat Anaya pasti merasa tidak nyaman. Dokter Benny pun menyuntikkan obat agar Anaya istirahat dengan rilex dan dan tenang.
"Fauzi tunggu di sini ya, papih mau mengobrol dulu sama pa Teguh," ucap dokter Benny.
"Iya pih," ucap Fauzi.
Dokter Benny dan Teguh berjalan keluar kamar untuk mengobrol sedikit tentang Anaya.
"Nay apa yang membuat kamu seperti ini," gumam Fauzi dalam hati.
Fauzi pun menemani Anaya di kamar.
.
.
.
.
.
Ruang dokter Benny.
"Ada apa dok?" ucap Teguh.
"Begini pak, usahakan Anaya untuk tidak banyak pikiran dan jauhi dari yang membuat Anaya stress. Karna itu semua bisa menghambat recovery penyembuhan Anaya," ucap dokter Benny.
"Baik pa saya usahakan agar Anaya merasa senang dan tenang di rumah," ucap Teguh
"Nanti saya berikan obat penenang sama Fauzi dan harus di suntikkan pada malam hari menjelang tidur, biar lebih relax tidurnya," ucap dokter Benny.
.
.
.
Hari sudah pagi dan Fauzi sudah terbangun.
"Nay," ucap Fauzi sambil berbisik di telinga Anaya.
Anaya pun membuka matanya.
"Kak, Anaya haus," ucap Anaya.
Fauzi pun mengambil kan minum untuk Anaya dan memberikan untuk Anaya.
"Ayah mana kak?" Anaya.
Fauzi pun hanya menunjuk di mana ayahnya tertidur.
"Kalian pasti cape ya menjaga Anaya," ucap Anaya.
"Kok gitu bilangnya," ucap Fauzi.
"Ya kalian pasti cape merawat Anaya yang sakit-sakitan dan yang gak tau kapan sembuhnya," ucap Anaya.
"Nay jangan bilang gitu, kaka gak merasa cape. Kaka senang merawat dan membantu Anaya untuk sembuh, jadi jangan berpikiran seperti itu ya," ucap Fauzi.
"Tapi ayah, bunda, dan ka Aris cape melihat Anaya yang gak bisa bantu apa-apa, malah merepotkan semuanya," ucap Anaya.
"Nay jangan salahkan dirimu sendiri, ini semua udah takdir dan kehendak Allah. Mungkin saja ini awal untuk kita semua bahagia. Jadi Nay jangan berpikiran seperti itu lagi ya, kaka sedih kalau Anaya bilang kaya gitu, rasanya kaka yang gak berguna merawat Nay," ucap Fauzi sambil memeluk Anaya untuk menenangkan Anaya.
"Astagfirullah Nay jangan bilang gitu, kita gak ada yang tau sampai kapan kita hidup, jadi jangan pernah berbicara seperti itu," ucap Fauzi.
Anaya pun hanya bisa menangis dalam pelukkan Fauzi. Ayah yang sedari tadi mendengar percakapan itu, rasanya sedih sekali.
"Semangat terus untuk sembuh, walaupun nanti kamu kembali ke pangkuan Allah, yang penting kita sudah berjuang dan berusaha untuk kamu sembuh," gumam ayah dalam hati.
Fauzi pun melepaskan pelukkan Anaya.
"Jangan pernah berbicara lagi tentang kematian, kaka, ayah, bunda, Aris dan Adam yang akan membantu Anaya untuk sembuh," ucap Fauzi.
"Iya kak, maaf," ucap Anaya.
"Sekarang harus semangat lagi untuk menjalani hari-hari seperti biasanya, jangan patah semangat dan jangan berputus asa. Kita meminta segala seuatu sama Allah," ucap Fauzi.
Ayah yang sudah bangun dan mendengar semua ucapan mereka.
"Itu benar yang dikatakan Fauzi, jadi Anaya jangan berhenti berharap, teruslah berjuang dan berdoa untuk sembuh," ucap ayah.
Anaya dan Fauzi kaget mendengar ucapan ayah.
"Ayah kapan bangun?," tanya Anaya.
"Ayah baru saja bangun dan mendengar ucapan Fauzi, apa yang dikatakan Fauzi itu semuanya benar. Jadi Anaya jangan sedih dan harus selalu bahagia. Dan weekend nanti kita akan berlibur ke villa"" ucap ayah.
"Horee liburan," ucap Anaya.
"Dan Fauzi harus ikut, ayah gak mau dengar alasan kalau kamu gak bisa ikut," ucap ayah.
"Iya yah, Fauzi ikut," ucap Fauzi.
Fauzi merasakan keutuhan sebuah keluarga, karna Fauzi telah di tinggal oleh kedua orang tuanya sejak umur 6 tahun. Di rawat oleh dokter Benny, disekolahkan hingga bisa kuliah. Sekarang dapat keluarga lagi yang begitu menyayanginya.
"Kak, boleh pulang gak?," rengek Anaya.
"Bentar kaka tanya om dokter dulu ya," ucap Fauzi terkekeh.
Fauzi pun keluar kamar Anaya untuk menuju ruang dokter Benny, dan mereka pun berjalan menuju kamar Anaya.
"Selamat pagi semuanya," ucap dokter Benny.
"Pagi dok," ucap Anaya.
"Gimana dan apa yang dirasakan," tanya dokter Benny.
"Udah gak pusing dok," aucap Anaya.
"Dokter periksa dulu ya" ucap dokter.
Anaya pun di periksa oleh dokter dan dinyatakan boleh pulang dengan catatan gak boleh banyak pikiran. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah dan tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam, kalian dari mana? bunda cemas ini," tanya bunda.
"Maaf bun, lupa kasih kabar. Semalam Anaya pingsan dan langsung di bawa ke rumah sakit," ucap ayah.
"Astagfirullah nak, kamu gak apa-apa sekarang?" tanya bunda.
"Gak apa-apa bun, sekarang udah baikan. Bun Anaya mau sarapan nasi goreng, Anaya lapar," ucap Anaya.
__ADS_1
"Okay siap, bunda masak dulu, dan Anaya istirahat dulu di kamar sama ka Fauzi," ucap bunda.
Fauzi pun menuntun Anaya ke kamar untuk istirahat.
"Nay, kaka ganti baju dulu ya. jangan nakal ya," ucap Fauzi.
"Iya kak," ucap Anaya.
Fauzi pun meninggalkan Anaya sebentar untuk mandi dan mengganti baju. Aris yang sudah bangun langsung menengok adiknya.
"Pagi tuan putri yang cantik," ucap Aris.
"Pagi pangeran ganteng," ucap Anaya.
Aris pun mengajak Anaya bercanda agar Anaya tidak stress dan Fauzi masuk kamar Anaya untuk mengajaknya sarapan.
"Pagi Ris," ucap Fauzi.
"Pagi juga kak," ucap Aris.
"Ya udah kita ke meja makan yu, tadi kata bunda sarapannya udah siap," ucap Fauzi.
Aris dan Fauzi pun membantu Anaya duduk di kursi roda dan Aris membantu mendorong kursi roda menuju meja makan.
"Pagi ka Anaya, ka Aris, dan Ka Fauzi," ucap Adam.
"Pagi juga dek," ucap mereka bertiga yang di sapa Adam.
Semua pun duduk untuk sarapan dan sarapan pun telah selesai. Adam pun bersiap-siap untuk berangkat sekolah yang di antar oleh supir.
Setelah Sarapan Aris pergi ke kamar untuk mandi karna mau pergi ke rumah Iyan.
"Bun, Aris ijin mau ke rumah Iyan ya, karna mau belajar bersama," ucap Aris.
"Iya boleh," ucap bunda.
"Ya Ka Aris pergi, Adam sekolah, Anaya sama siapa?" ucap Anaya.
"Aku gak di anggap nih," ucap Fauzi sambil cemberut.
"Eh... Maaf kak, Anaya lupa punya kaka ganteng juga," ucap Anaya sambil terkekeh.
Semua pun tertawa, Aris yang sudah berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap-siap.
"Kita keliling komplek aja yu atau mau kemana?" ucap Fauzi.
"Iya kak kita keliling komplek dan nanti Anaya mau minta anter ke suatu tempat," ucap Anaya.
"Iya boleh Putri cantik," ucap Fauzi.
Ayah dan bunda yang senang melihat anak-anaknya bahagia.
"Bun, sabtu -minggu kita ke villa ya, siapin dari sekarang. Sebelum Aris hari Senin UN, biar fresh otaknya," ucap ayah.
"Okay yah, nanti bunda tulis-tulis dulu apa yang harus di bawa ke villa," ucap bunda.
"Makasih istriku yang cantik," ucap ayah sambil mengecup kening istrinya.
Tanpa disadari Aris, Anaya dan Fauzi melihat kemesraan di pagi hari.
"Cieeeeeee so sweet,"teriak Aris, Anaya dan Fauzi.
Bunda dan ayah kaget mendengarnya, ayah dan bunda jadi malu dan salah tingkah. semua pun tertawa.
"Bunda, ayah, Anaya, ka Fauzi... Aris pamit dulu ya," ucap Aris.
"Kak titip salam buat ka Iyan, Dita dan ibu Caca ya," ucap Anaya.
"Okay putri cantik," ucap Aris sambil mengecup kening Anaya.
Aris pun pamit dan pergi naik motor milik Fauzi
Anaya pun siap-siap mengajak Fauzi ke suatu tempat.
"Ayah, bunda... Anaya dan ka Fauzi jalan-jalan dulu ya," ucap Anaya.
"Iya sayang, ati-ati ya. Zi titip Anaya ya," ucap Ayah.
"Iya yah," ucap Fauzi.
Anaya dan Fauzi pun pergi berkeliling di komplek dan Anaya akan mengajak Fauzi pergi ke makam sang ibu.
"Nay, kita mau kemana nih," ucap Fauzi.
"Anter Anaya ke makam kak, di belakang mesjid itu ada pemakaman khusus warga komplek ini," ucap Anaya.
"Mau ke makam siapa?" ucap Fauzi.
"Mau ke makam ibu kandungnya Anaya," ucap Anaya.
Setiba di makam, Anaya meminta di turunkan untuk duduk di bawah. Sebelum duduk, Fauzi membersihkan tempat untuk Anaya duduk.
"Assalamu'alaikum bu, maaf Anaya baru kesini lagi. Semoga ibu slalu husnul khotimah dan tenang di surga sama allah ya bu," ucap Anaya.
Lalu Anaya berdoa dengan membaca buku yasin.
"Ternyata baru meninggal, tapi kenapa meninggal nya," gumam Fauzi dalam hati.
Setelah selesai berdoa, Anaya mengajak Fauzi untuk duduk di taman.
"Nay, kalau boleh tau. ibu meninggalnya kenapa?," tanya Fauzi.
"Ibu meninggal kecelakaan di Bali saat berangkat kerja ka," ucap Anaya.
Karna Anaya tidak tau apa yang terjadi sebenarnya sama ibu kandungnya itu.
"Owh gitu, doakan terus ibumu ya. Doa anak sholehah untuk orang tuanya," ucap Fauzi.
"Kalau kaka sendiri kenapa bisa tinggal sama dokter Benny?" tanya Anaya.
"Orang tua kaka kerja jadi ART di rumah orang tua dokter Benny. Sampai kedua orang tua dokter Benny meninggal dunia, lalu bekerja di rumah dokter Benny, Saat itu ibu dan bapak membawa Fauzi untuk ikut bekerja. Sampai Fauzi umur 6 tahun, ibu dan bapak meninggal. Fauzi di rawat oleh dokter Benny dan istrinya, disekolahkan di sekolah yang bagus hingga Fauzi seperti sekarang. Dan Fauzi senang bisa mengenal keluarga Anaya," ucap Fauzi.
"Kaka yang sabar ya, pasti akan ada kebahagiaan untuk kaka kelak," ucap Anaya.
"Makasih Nay, kamu juga semangat terus ya, jangan pernah berhenti berharap dan pernah berhenti berdoa untuk memohon untuk sembuh," ucap Fauzi.
"Kak pulang yu," ucap Anaya.
"Ayo,"ucap Fauzi.
Anaya merasa senang bisa berbagi cerita sama kak Fauzi. Tiba sudah di rumah, dan Anaya pun diantarkan ke kamar untuk istirahat.
Fauzi pun merebahkan tubuhnya di sofa kamar Anaya, Fauzi tidak mau meninggalkan Anaya sedikit pun. Takut terjadi yang tidak di inginkan.
__ADS_1