
Anaya dan Fauzi pun sarapan, seperti biasa Anaya menggunakan kursi roda dan alat infusan di tangan, karna infusan itu tercampur dengan cairan obat. Agar tubuh Anaya tidak terlalu lemas ketika berpikir mengerjakan soal UN.
Akhirnya Fauzi mengantar Anaya ke sekolah, selama perjalanan Anaya tidak banyak bicara.
"Ada apa ya sama Anaya. Mukanya terlihat sedih," gumam Fauzi dalam hati.
Setiba di sekolah, Anaya di antar Fauzi ke dalam kelas, dan bel pun berbunyi yang menandakan UN di mulai.
Dengan santai Fauzi menunggu Anaya di dalam mobil lalu memejamkan mata sambil memikirkan apa yang sedang terjadi pada Anaya.
2 jam sudah waktu UN, Fauzi menjemput Anaya ke kelas dan melihat Anaya terlihat pucat.
"Nay kamu gak apa - apa," ucap salah satu teman Anaya.
"Gak apa - apa, memang kenapa?" tanya Anaya berbohong.
"Muka mu pucat sekali," ucap salah satu teman Anaya.
"Mungkin aku lapar, efek Bahasa Inggris tadi," ucap Anaya sambil terkekeh.
Fauzi pun langsung menghampiri Anaya.
"Nay kenapa?" ucap Fauzi.
"Aku gak kenapa - kenapa," ucap Anaya berbohong.
Fauzi langsung memeriksa cairan infusannya dan memegang untuk mengecek suhu tubuh Anaya.
"Astagfirullah Nay, badan kamu panas sekali. Ya udah kita pulang sekarang," ucap Fauzi.
Fauzi pun segera mendorong kursi roda Anaya menuju mobil dan teman - teman Anaya menemani hingga mobil.
"Makasih ya buat semuanya, udah mau menemani Anaya," ucap Fauzi.
"Iya kak sama - sama, semoga kondisi Anaya kembali membaik ya kak," ucap salah satu teman Anaya.
"Saya ijin pamit duluan, Assalamu'alaikum," ucap Fauzi.
"Walaikumsalam kak," ucap semua teman Anaya.
Fauzi pun langsung menancapkan gas dan segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Fauzi menggendong Anaya.
"Bunda... bunda," Teriak Fauzi.
Bunda pun mendengar suara Fauzi berteriak dan melihat Fauzi menggendong Anaya.
"Astagfirullah Nay kenapa?" tanya bunda.
"Uzi gak tau kenapa bun, pas bel berbunyi Uzi menunggu di mobil. Saat akan menjemput ke kelas, teman - teman Anaya sudah berada di sekitar Anaya," ucap Fauzi.
"Ya Allah Nay, ya udah bunda mau telepon ayah dulu biar cepet pulang," ucap bunda.
Fauzi pun langsung mengecek keadaan Anaya.
"Astagfirullah tensi Anaya tinggi dan suhu tubuh tinggi," racau Fauzi.
Fauzi mengambil ponsel dan menelepon Dokter Benny.
"Halo pih, kondisi Anaya mendadak drop. Suhu tubuh 39,5°c dan tensi 130 per 50," ucap Fauzi.
"Ya udah kasih infusan murni dan kompres. papih ke sana sekarang," ucap Dokter Benny.
Telepon pun di matikan, Fauzi langsung mengerjakan apa yang di ucapkan Dokter Benny. Dan Fauzi berjalan keluar kamar untuk mencari bunda.
"Bunda... Minta air ke baskom dan handuk kecil untuk mengomprrs Anaya. Uzi udah menelepon Dokter Benny dan akan segera kemari," ucap Fauzi.
Bunda yang gelisah melihat keadaan Anaya langsung menangis. Fauzi pun langsung mengompres kening Anaya dan bunda membalurkan minyak kayu putih di tubuh Anaya sekalian mengganti seragam.
"Sabar ya bun, semoga gak ada apa - apa sama adek," ucap Fauzi.
__ADS_1
"Aamiin Zi," ucap bunda.
Tak lama kemudian, ayah pulang dan langsung berlari ke kamar Anaya. Kondisi Anaya yang masih demam dan muka pucat.
"Zi apa yang terjadi?" tanya ayah.
"Tadi setelah bel masuk, Uzi langsung meninggalkan Anaya dan menunggu di mobil. Karena pihak sekolah tidak mengizinkan Uzi berada di dalam lingkungan sekolah. Uzi pun ke mobil untuk menunggu Anaya. Pas jam bel pulang, Uzi langsung menjemput Anaya ke kelas, dan kondisi Anaya drop," ucap Uzi.
"Ya udah kita bawa ke rumah sakit aja," ucap ayah.
"Dokter Benny mau kesini, Uzi udah telepon," ucap Fauzi.
Ayah pun langsung memegang tangan anaknya.
"Nay, kenapa jadi kaya gini? Apa yang membuatmu seperti ini?" racau ayah.
Fauzi pun berjalan ke arah sang ayah, langsung menggenggam tangan ayah, bunda dan di simpan di atas tangan Anaya.
"Semoga aja adek masih sanggup bertahan dan melawan semua ini," ucap Fauzi.
"Aamiin nak," ucap ayah dan bunda.
Tiba - tiba Anaya membuka matanya, melihat yang di sana menangis.
"Ayah, bunda dan kak Fauzi kenapa menangis?," tanya Anaya.
"Apa yang adek rasakan?" tanya Fauzi.
"Kepala adek pusing dari pas di sekolah," ucap Anaya.
"Maafkan kaka ya, tadi gak bisa standby di samping adek," ucap Fauzi.
"Iya kak gak apa - apa, lagian itu kan aturan sekolah," ucap Anaya.
"Sekarang adek mau apa?" tanya ayah.
"Mau makan, perut Anaya lapar dan mau makan di suapin sama ka Fauzi," ucap Anaya.
"Iya bun," ucap Anaya.
"Mau makan apa?" tanya bunda.
"Makan apa aja, asalkan kita makan di sini semua bareng ayah, bunda, ka Fauzi, Adam, mbak Nita dan Om Rio," ucap Anaya.
Bunda pun langsung keluar kamar dan untuk memanggil Nita, Adam dan Rio.
"Nita, Rio, Adam," ucap bunda.
"Iya bunda," ucap Nita.
"Iya bunda," ucap Rio.
"Bentar bunda," ucap Adam.
Semua pun berkumpul di dekat bunda.
"Anaya meminta untuk kita semua makan di kamar Anaya," ucap bunda.
"Ka Anaya udah pulang bun?" tanya Adam.
"Udah, tapi adek jangan terlalu ganggu Kak Anaya ya," ucap Bunda.
"Iya Bunda," ucap Adam.
"Semua ambil makan dulu, nanti kita makan di kamar Anaya ya," ucap bunda.
Semua pun telah menganbil makan dan berjalan menuju kamar Anaya, bunda pun telah menyiapkan makan untuk Anaya, bunda, ayah, dan Fauzi.
"Tumben Anaya gak nanya dan gak minta Aris," gumam bunda dalam hati.
__ADS_1
"Sayang mari kita makan, Anaya mau makan sendiri atau di suapin?," tanya bunda.
"Makan sendiri aja bun, tapi kita makan bareng ya," ucap Anaya.
Semua pun makan bersama tanpa suara.
"Kak Aris, Anaya akan berusaha untuk menjauh dari kak Aris. Biar ka Aris bahagia," gumam Anaya dalam hati.
Akhirnya makan pun telah selesai dan satu per satu pergi dari kamar Anaya.
"Kak, Adam ke kamar dulu ya. Mau siap - siap ngaji. Kaka cepet sembuh ya.Adek selalu do'ain kaka tiap adek solat," ucap Adam lalu mengecup pipi Anaya.
"Aamiin dek, makasih ya doanya," ucap Anaya.
Adam pun hanya bisa tersenyum lalu keluar kamar. Tiba - tiba dokter Benny telah datang.
"Hai cantik, apa yang kamu rasakan?" ucap Dokter Benny.
"Pusing dan tadi mendadak lemes aja," ucap Anaya.
"Om periksa dulu ya," ucap Dokter Benny.
Anaya pun hanya menganggukkan kepala dan tangan Anaya tak lepas menggenggam tangan Fauzi.
"Apa yang sedang Anaya pikirkan?" tanya dokter Benny.
"Gak ada dok, Anaya cuman mikirin pelajaran untuk UN saja," ucap Anaya berbohong.
"Aku tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Ka Aris," gumam Anaya dalam hati.
Flashback On
Anaya pun mengambil ponselnya untuk mengirim pesan sama Aris.
"Kak apa kabar? Nay kangen kaka. Maaf ya kak, kalo adek punya salah sama kaka. Kapan kaka pulang," ucap isi pesan Anaya.
.
.
.
Aris yang sedang rebahan di Villa mendengar ada nada pesan masuk, lalu Aris membaca pesan itu.
"Ngapain lo chat gue, lo tuh udah ambil kebahagiaan gue selama ini. Gue benci lo Nay, gue gak akan pernah maafin lo. Semua orang jadi lebih peduli sama lo ketimbang gue," ucap isi pesan Aris.
Anaya sedang menunggu balasan dari Aris dan kaget membaca pesan itu.
"Okay akan Anaya usahakan, Anaya akan segera mati dan biar kalian bahagia tanpa Naya. Tapi itu semua keputusan Allah, hanya Allah yang tau kapan Anaya mati," ucap isi pesan Anaya.
Flashback Off
"UN sampai kapan?," ucap Dokter Benny.
"Besok terakhir, lalu libur 1 bulan," ucap Anaya.
"Okay deh, semoga aja. Beres UN kondisimu semakin membaik ya. Dan ingat obat harus di minum," ucap Dokter Benny.
"Iya om dokter ganteng dan baik," ucap Anaya sambil terkekeh.
"Bisa aja kamu," ucap Dokter Benny.
"Pa Teguh bisakah kita berbicara?," ucap Dokter Benny.
"Bisa pa, mari kita bicara di luar saja," ucap Teguh.
Dokter Benny dan Teguh pun keluar kamar Anaya.
"Kak jangan ke mana - mana, ajarin buat besok," ucap Anaya.
__ADS_1
"Okay adek ku sayang," ucap Fauzi.
Fauzi pun mengajarkan pelajaran matematika yang belum Anaya mengerti.