
Fauzi yang mendengar ucapan dokter Benny tentang Anaya semakin gusar hatinya.
"Aku harus bisa buat Anaya bahagia dengan caraku," gumam Fauzi dalam hati.
Fauzi pun masuk ke dalam rumah dengan langkah yang gontai. Fauzi tidak menyadari sejak berbicara dengan dokter Benny di depan pagar, ternyata ada Aris yang mendengar semua obrolan mereka.
Ayah dan bunda berada di kamar, Aris yang sudah masuk lewat pintu samping langsung menarik Fauzi dan di bawa ke atas.
"Ada apa Ris?" tanya Fauzi.
"Maaf ka, tadi Aris mendengar semua obrolan kaka dan dokter Benny di pagar. Apa benar umur Anaya sudah tidak lama lagi?" tanya Aris.
Fauzi yang kaget dengan pertanyaan dari Aris, Fauzi bingung harus jawab apa dan menjelaskan pada Aris.
"Kak, please jawab dengan jujur," ucap Aris.
"Menurut ilmu dokter, umur Anaya memang sudah tidak lama lagi. Tapi tetap kita menyerahkan semua sama Allah SWT," ucap Fauzi.
"Emang tadi hasil pemeriksaan gimana?" tanya Aris.
"Kondisi Anaya menurun dan semakin tidak stabil. Detak jantungnya pun mulai melemah dan besok hasil darahnya," ucap Fauzi.
"Astagfirullah Anaya, apa ayah udah tau hasil pemeriksaan tadi," ucap Aris.
__ADS_1
"Ayah dan bunda sudah tau, tapi yang masalah tadi di pagar depan, ayah dan bunda belum tau. Tolong jangan ceritakan sama ayah dan bunda, apalagi Anaya," ucap Fauzi.
"Iya kak, akan Aris simpan ini semua," ucap Aris .
Tiba - tiba ayah masuk ke kamar Aris
"Apa yang kalian sembunyikan dari ayah?" tanya ayah.
Fauzi dan Aris yang terkaget mendengar suara sang ayah yang tiba - tiba masuk ke kamar Aris dan tiba - tiba menanyakan itu.
"Gak ada yah," ucap Fauzi berbohong.
"Kalian jangan bohong, ayah tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari ayah," ucap ayah.
Fauzi bingung harus bilang apa sama sang ayah, Fauzi pun semakin gusar dan Fauzi duduk mulai gak tenang.
Fauzi dan Aris bingung harus berkata apa pada sang ayah.
"Ayah tau, kalian sedang menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak mau cerita, jangan ngajak ayah ngobrol lagi," ucap ayah.
Fauzi dan Aris pun saling menatap dan bingung harus bilang apa, akhirnya Fauzi mencoba untuk memberanikan diri berbicara pada ayah.
"Yah," ucap Fauzi.
__ADS_1
"Iya nak, ada apa dengan kalian?" tanya Ayah.
"Fauzi mau bilang, kalau Anaya," ucap Fauzi.
"Anaya kenapa nak?" tanya ayah yang semakin penasaran dengan sikap kedua anaknya itu.
"Tadi Fauzi di depan sempat mengobrol sama dokter Benny, kalau kondisi Anaya semakin melemah dan tidak akan lama lagi. Tapi kita tetap menyerahkan semua ini sama Allah SWT," ucap Fauzi.
Ayah langsung merasa pusing di kepala hampir jatuh, Fauzi dan Aris langsung sigap untuk menahan sang ayah.
"Yah, jangan cerita sama bunda. Fauzi takut bunda pingsan lagi," ucap Fauzi.
"Iya nak, kalau ada apa - apa cerita sama ayah," ucap ayah.
Ayah pun memeluk kedua anaknya.
"Ya udah sekarang kita makan malam dulu, tadi ayah mau ngajak kalian makan malam," ucap ayah.
Mereka yang berbeda generasi turun dari tangga dengan langkah gontai dan lemas sekali.
"Hey ganteng kok pada sedih gitu?" tanya Anaya sambil terkikik.
"Siapa yang ganteng Nay?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"Kalian bertigalah, masa di panggil cantik," ucap Anaya.
Mereka pun langsung tertawa dan langsung duduk di tempat biasa, mereka pun makan malam tanpa suara dan akhirnya telah selesai.