She'S Come Back

She'S Come Back
Bab 11- Kebencian


__ADS_3

Alika dan papih merasa bahagia kalau istrinya mau berobat kanker otak dengan dokter Benny.


"Pih... akhirnya mamih mau, tapi kalau tiba-tiba mamih gak mau gimana?" tanya Alika.


"Tenang aja, papih ada caranya!" ucap papih.


"Cara apa?" tanya Alika.


"Papih akan ambil kartu kredit mamih dan kartu ATM mamih," bisik papih di telinga Alika.


"Itu sih bagus banget pih," ucap Alika.


"Ya udah sekarang kamu tidur, besok masih sekolah. Fauzi apa kabar?" tanya papih.


"Fauzi baik pih," ucap Alika.


"Ya udah sana tidur," ucap papih.


"Good night pih," ucap Alika.


"Good night sayang," ucap papih sambil mengecup kening anaknya.


Soni pun setelah berpamitan dengan anaknya, kini masuk ke kamar untuk melihat istrinya.


"Pih... kamu tau kan, kalau aku tuh benci sama Fauzi, tapi kenapa harus berobat sama bapak angkatnya si anak miskin itu sih!" ucap Ibu Lili.


"Sekarang kalau bukan sama dia, mau sama siapa? kalau punya rekomendasi dokter yang bagus ya silahkan berobat sendiri. Kamu tuh aneh, benci sama Fauzi karna miskin?" tanya pa Soni.


"Iya karna dia miskin dan gak pantes sama anak kita," ucap Ibu Lili.

__ADS_1


"Kamu sadar diri dong! ingat dulu kamu siapa? kamu hanya gadis miskin yang orang tua kamu punya banyak hutang sama keluarga saya. Gak usah menilai orang karna miskinnya, tapi lihat Alika kalau sama Fauzi semangat belajarnya, jaman gak sama Fauzi kemarin, liat nilainya ancur dan gak ada semangat belajar," ucap pa Soni dengan setengah membentak.


Ibu Lili pun jadi teringat lagi akan masa lalunya yang kelam, kalau bukan karna kebaikan Soni, Lili saat ini masih miskin.


"Pokoknya Fauzi tidak pantas dengan Alika," ucap Ibu Lili.


"Ya udah terserah kamu saja! jangan salahkan saya bila sewaktu-waktu kartu ATM dan kartu kredit saya blokir semua," ucap suaminya.


"Tapi pih... ini kan buat kebutuhan Alika," ucap mamaih yang berkelit.


"Untuk Alika apa? biaya Alika dari papih, kartu kamu tuh hanya untuk diri kamu dan kehidupan kamu! jangan pikir saya gak tau apa saja yang sudah kamu beli, saya akan menelepon Adrian untuk memblokir semua kartu kamu, bila kamu masih mempermasalahkan ini!" ucap pa Soni.


"Okay... baik, tapi Fauzi tidak boleh berteman dengan Alika," ucap ibu Lili.


Pa Soni pun mencari kontak Adrian dan pura - pura menelepon Adrian.


"Halo Adrian, tolong blokir semua kartu ATM dan kartu kredit istri saya," ucap Pa Soni yang mencoba untuk menggertak istrinya.


"Kalau kamu Macem-macem di belakang saya, saya pastikan hidup kamu kembali miskin lagi dan tidak akan ada biaya untuk kami hidup!" ucap pa Soni.


Ibu Lili merasa kesal karna tak bisa berbuat apa-apa, karna kekuasaan hanya suaminya yang memiliki segalanya.


"Sudahlah aku lakukan semua, agar aku sembuh. Dan tidak jadi miskin lagi," gumam ibu Lili dalam hati.


Ibu Lili pun berpikir sejenak selama di Surabaya, Alika menjadi anak yang pemurung dan sekarang pindah ke Bandung berubah menjadi periang lagi.


"Apa selama ini saya sudah salah menjauhkan Alika dari Fauzi? tapi biarkan sajalah dulu, kalau Alika tidak ada perubahan, akan saya jauhkan Alika dari Fauzi," gumam ibu Lili dalam hati.


Hari semakin malam, semua orang pun sudah tertidur dan terbang ke alam mimpi. Kini malam telah berputar dan waktu sudah menunjukkan subuh.

__ADS_1


Adzan subuh pun sudah berkumandang, Alika yang masih nyenyak tidur langsung terbangun setelah mendengar suara adzan subuh. Alika membuka matanya dan duduk sejenak, Alika segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Ritual mandi pun telah selesai, sebelum mengganri dengan seragam segera melakukan solat subuh dulu. Setelah solat selesai, Alika segera mengganti baju tidur dengan seragam sekolah.


Alika sudah siap untuk sekolah, buku sudah di siapkan dari semalam, sepatu sudah di pakai. Alika keluar kamar dengan perasaan senang, karna akan bertemu dengan sahabat sejatinya.


"Pagi pih, mih," ucap Alika.


"Pagi sayang," ucap papih.


"Mau sarapan nasi atau roti?" tanya mamih.


"Nasi aja mih," ucap Alika.


Mamih segera menyiapkan sarapan untuk Alika dan Alika yang semangat pagi, menghabiskan sarapannya.


"Pih, mih... aku berangkat ya, Assalamu'alaikum," ucap Alika sambil menyalami dan mencium tangan orang tuanya.


"Walaikumsalam, ati-ati di jalan dan semangat sekolahnya," ucap papih.


"Iya pih," ucap Alika.


Alika yang memiliki semangat tinggi untuk sekolah, saat bertemu dengan Fauzi menjadi semangat lagi sekolahnya.


"Mamih lihatkan, gimana semangatnya Alika? apa pernah mamih lihat Alika semangat sekolah selama beberapa bulan di Surabaya?" tanya pa Soni.


Sebenarnya ibu Lili masih belum menerima, jika anaknya bergaul dengan anak dari seorang pembantu. Yang kini orang tuanya sudah mati, dan menjadi anak angkat dokter Benny.


"Hmmm," ibu Lili hanya mengeluarkan deheman.

__ADS_1


Pa Soni tau kalau istrinya itu masih belum. bisa menerima kenyataan, kalau anaknya itu harus kembali bersahabat dengan Fauzi. Bagi pa Soni tak menjadi masalah, jikalau Alika mau berteman dengan Fauzi,


__ADS_2