
Setelah pulang dari pemakaman sang ibu, Fauzi tidak mau makan. Dan berjam - jam Fauzi masih menangis.
"Ibu kenapa tinggalin Fauzi? ibu belum liat Fauzi pake jas putih," racau Fauzi sambil menangis.
Dokter Benny yang melihat itu semua, hatinya sakit banget melihat Fauzi seperti ini.
"Sayang... sudah jangan seperti ini terus! kalau Fauzi seperti ini terus, kasihan ibu disana menjadi sedih," ucap Dokter Benny.
"Pih... kenapa ibu meninggalkan Fauzi secepatnya ini?" tanya Fauzi.
"Ini sudah takdir dari Tuhan dan kalau ibu di samping Fauzi terus, ibu akan sakit - sakitan terus. Apa Fauzi mau melihat ibu sakit terus?" tanya Dokter Benny.
"Gak mau pih... Fauzi ingin ibu sehat, emang ibu sakit apa?" tanya Fauzi.
"Sekarang ibu sudah sehat dan ibu sakit kanker otak stadium akhir. Telat pengobatan, jadi susah untuk di obati. Mungkin ini jalan terbaik buat ibu!" ucap dokter Benny.
"Apa kanker otak itu parah?" tanya Fauzi.
"Maka dari itu, Fauzi rajin sekolah biar bisa masuk fakultas kedokteran. Biar Fauzi tau seperti apa kanker otak itu," ucap Dokter Benny.
"Iya pih... Fauzi akan belajar sungguh - sungguh, biar bisa kuliah kedokteran dan bisa jadi dokter," ucap Fauzi.
"Okay... sekarang Fauzi mandi, ganti baju dan istirahat. Makan malam untuk Fauzi, biar nanti mbak Imah yang antar kesini," ucap dokter Benny.
"Makasih pih," ucap Fauzi.
"Sama - sama sayang, istirahat ya. Besok paouh ijinkan untuk tidak masuk sekolah dulu, biar papih yang ijin ke sekolah," ucap dokter Benny.
Fauzi pun menganggukkan kepala dan sebelum dokter Benny keluar kamar Fauzi, dokter Benny mengecup kening Fauzi.
Fauzi yang masih merasa sedih, saat ini hanya bisa menangis setiap melihat foto orang tuanya yang kini telah tiada.
tok tok tok
"Fauzi," ucap mbak Imah.
"Masuk mbak," ucap Fauzi.
"Ini mbak mau antar makan dan vitamin untuk Fauzi dari tuan," ucap mbak Imah.
"Makasih ya mbak," ucap Fauzi.
Mbak Imah pun keluar dari kamar Fauzi dan mbak Imah berasa sedih melihat Fauzi seperti ini.
"Fauzi... kamu yang kuat dan tabah ya! ibu mu sudah tenang di alam sana, semoga impian dan cita - citamu tercapai," gumam mbak Imah dalam hati.
Fauzi hanya menyentuh makanan itu sedikit, karna selera makan hari ini masih membuatnya tak ingin makan.
Setelah menyentuh makanannya sedikit, Fauzi berusaha untuk tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya. Setiap Fauzi memejamkan matanya, bayangan wajah sang ibu selalu hadir.
"Bu... Fauzi belum bisa melupakan ibu! apa ibu merasakan apa yang Fauzi rasakan?" racau Fauzi sambil berusaha untuk memejamkan mata.
__ADS_1
Tanpa terasa Fauzi tertidur, mungkin lelah karna menangis semalaman karna sang ibu yang selalu hadir ketika memejamkan mata.
.
.
.
Keesokan harinya, dokter Benny berusaha untuk membangunkan Fauzi. Dokter Benny ingin mengajak Fauzi jalan - jalan.
tok tok tok
"Fauzi," ucap dokter Benny.
Dokter Benny beberapa kali mengetuk pintu kamar Fauzi, namun tak ada jawaban dari Fauzi. Dokter Benny pun membuka pintu kamar Fauzi dan melihat Fauzi yang gelisah dalam tidur.
"Bu... jangan tinggalin Fauzi, bu!" Fauzi meningau dalam tidurnya.
Dokter Benny melihat Fauzi yang mengigau dan keluar bulir keringat. Dokter Fauzi pun memegang tubuh Fauzi.
"Ya Tuhan... tubuhnya panas," ucap dokter Benny.
Dokter Benny pun keluar dari kamar Fauzi dan berteriak.
"Imah... Imah... saya minta air kedalam baskom dan handuk kecil! Ini Fauzi demam, cepat," ucap dokter Benny.
"Iya tuan, Imah siapkan sekarang," ucap mbak Imah.
Mbak Imah yang mendengar Fauzi demam, hati ini berasa hancur. Karna Imah pernah merasakan gimana sedihnya kehilangan orang tua untuk selamanya, terutama seorang ibu. Kali ini Fauzi sedang merasakan kesedihan yang teramat dalam.
"Ini tuan," ucap Mbak Imah.
"Kamu buatkan nasi tim untuk Fauzi," ucap dokter Benny.
"Baik tuan... saya permisi ke dapur," ucap mbak Imah.
Mbak Imah pun keluar dari kamar Fauzi.
"Betapa beruntungnya kamu, langsung di rawat oleh tuan! tuan pun mau merawat kamu," gumam mbak Imah dalam hati.
Dokter Benny pun mengompres keningnya Fauzi dan memberikan obat untuk Fauzi, agar demamnya Fauzi segera turun.
"Tuhan... berikanlah kesembuhan untuk anakku ini dan tegarkanlah hatinya, kabulkanlah doaku ini," ucap dokter Benny.
Dokter Benny pun terus mengompres kening Fauzi hingga demamnya turun, tanpa menunggu lama demamnya pun turun.
Dokter Benny yang merasa kantuk, akhirnya ikut tertidur di samping anak angkatnya ini. Dokter Benny berusaha merawat sebaik mungkin, karna saat ini Fauzi sudah tak memiliki keluarga selain keluarga dokter Benny.
Fauzi terbangun dan merasa ada benda aneh di keningnya, Fauzi pun mengambil benda itu.
"Hah... anduk, punya siapa!" gumam Fauzi dalam hati.
__ADS_1
Fauzi belum melihat ke sisi kanannya, setelah melihat dan kaget ada papih dokter.
"Ada apa ini?" gumam Fauzi dalam hati.
Fauzi pun bergerak pelan - pelan untuk membuka selimut, karena merasa gerah dan keluar keringat dari dalam tubuhnya.
Dokter Benny merasakan ada yang bergerak dan ternyata Fauzi sudah sadar.
"Gimana keadaan mu dan apa yang kamu rasakan?" tanya dokter Benny.
"Kepala pusing, pih!" ucap Fauzi.
"Sepertinya kamu demam dari malam, karna tadi pagi kamu demam. Tadinya papih mau mengajak kamu jalan - jalan, ternyata kamu sakit. Ya sudah papih mengompres kamu dan merawat kamu. Dan allhamdulilah kamu sehat," ucap dokter Benny.
Fauzi jadi teringat ibunya, kalau sedang sakit slalu di jaga sang ibu. Kini di jaga papih dokter. Fauzi pun menghapus air mata yang turun.
"Kenapa sayang?" tanya dokter Benny.
"Ingat ibu... biasanya kalau Fauzi yang sakit, ibu yang selalu menjaga dan merawat Fauzi. Tapi sekarang papih dokter yang menjaga dan merawat Fauzi," ucap Fauzi.
"Kamu itu anak bungsunya papin, jadi sekarang biarkan papih yang merawat anak bungsunya papih," ucap dokter Benny.
"Makasih ya papih, udah mau menjaga dan merawat Fauzi saat ini. Fauzi sayang papih," ucap Fauzi sambil tersenyum dan menunduk malu.
flashback on
Ketika Fauzi membuka mata dan menyadari ada sebuah benda yang menempel di keningnya, ternyata sebuah handuk kecil.
Handuk kecil itu untuk mengompres Fauzi yang mendadak demam, dan dokter Bennylah yang merawatnya.
Fauzi kaget melihat ketelatenan dokter Benny merawat dirinya saat lagi demam seperti ini. Yang dulu biasa, sang ibu yang merawatnya ketika lagi demam, tapi ibu sudah tak ada di dunia ini.
"Mungkin sudah saatnya, aku menerima papih dalam kehidupanku saat ini. Beliau sudah baik padaku, beliau tidak pernah membeda - bedakan dengan anaknya. Makasih ya papih udah menjadi orang tua pengganti untuk Fauzi saat ini," gumam Fauzi dalam hati.
Flashback Off
"Papih... gak apa - apakan, kalau Fauzi manggil papih untuk selamanya, Seperti cici Felisya dan koko Alfred," ucap Fauzi.
"Gak apa - apa sayang, justru seneng banget kalau di panggil seperti itu," ucap dokter sambil meluk Fauzi.
Tiba - tiba pintu kamar terbuka, ternyata istri dokter Benny yang datang.
"Gimana udah sembuh sayang?" tanya ibu Meliana.
"Allhamdulilah mih... Fauzi udah sembuh," ucap Fauzi sambil tertunduk malu karna menyebut mamih.
"Barusan panggil apa?" tanya ibu Meliana yang kaget mendengar panggilan dari Fauzi.
"Mamih," ucap Fauzi sambil menatap ibu Meliana.
Tanpa di duga, ibu Meliana langsung memeluk Fauzi. Karna selama ini menunggu Fauzi memanggil itu, ibu Meliana lebih suka ketika Fauzi memanggil dirinya dengan mamih ketimbang nyonya atau tante.
__ADS_1
Ibu Meliana terharu mendengar sebutan mamih oleh Fauzi, hingga ibu Meliana menangis sambil memeluk Fauzi.
"Ini yang ku tunggu selama ini, makasih ya sayang udah mau memanggil mamih. Mamih kadang iri, kok manggil ke dokter Benny dengan sebutan papih, tapi ke mamih dengan tante," ucap Ibu Meliana.