
Saat akan perjalanan pulang ke rumah, Fauzi mendadak berhenti.
"Kenapa berhenti kak?" tanya Anaya.
"Anaya, kaka minta kamu gak bahas tentang seperti kamu mau pergi jauh ya. Biarkan Allah yang menentukkan kapan kita mati. Selama Allah belum mengambil nyawa kita, Anaya dilarang berbicara tentang kematian. Yang penting Anaya tetap semangat untuk hidup," ucap Fauzi.
"Insya Allah kak, Anaya gak janji. Yang pasti Anaya akan tetap semangat buat hidup dan rajin minum obat," ucap Anaya.
Fauzi mendadak memeluk dari belakang dan mengecup kepala Anaya, Anaya yang kaget langsung memeluk Fauzi juga.
"Makasih ya kak," ucap Anaya.
"Makasih buat apa Nay?" ucap Fauzi.
"Buat segalanya yang kaka kasih buat Anaya," ucap Anaya.
"Kaka akan kasih apa yang bisa kaka kasih buat Anaya dan kaka akan kasih apa yang Anaya minta, asal gak bahas tentang kematian. Biarkan itu jadi urusan Allah," ucap Fauzi.
Anaya mendadak menangis dan membuat Fauzi kaget.
"Kenapa menangis?" tanya Fauzi.
"Baru kali ini merasakan benar - benar kasih sayang dari orang lain," ucap Anaya.
"Pokoknya Anaya harus rajin belajar, rajin minum obat, harus mau terapi totok, dan gak bahas tentang kematian lagi. Kaka akan menemani Anaya sampai sembuh," ucap Fauzi.
"Iya kak, Anaya janji. Asalkan janji sama kaka," ucap Anaya.
Fauzi pun kembali mendorong kursi roda hingga ke rumah.
.
.
.
Ayah dan bunda pun pulang sekalian jemput Adam pulang sekolah. Bunda sudah menunggu Adam di luar mobil.
"Bundaaaaa," teriak Adam.
Adam langsung berlari ke arah bunda dan menyalami tangan bunda, lalu masuk ke dalam mobil.
"Assalamu'alaikum ayah," ucap Adam sambil menyalami dan mencium tangan ayah.
"Walaikumsalam Adam," ucap ayah.
"Tumben ayah dan bunda jemput Adam?," tanya Adam.
"Iya ayah dari kantor, terus ke rumah sakit dan sekalian jemput Adam aja," ucap ayah.
"Adam mau makan sama apa?" tanya bunda.
"Apa aja deh bun, Adam pengen cepet sampai rumah. Tugas Adam banyak bun," ucap Adam.
"Okay deh bos kecil, kita beli makan dulu terus lanjut pulang ya," ucap ayah.
Ayah pun melajukan mobil menuju sebuah restoran untuk membeli makan dan semua pesanan bunda telah datang. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap ayah yang sambil menggendong Adam yang sudah tidur sepanjang perjalanan pulang.
Ayah merebahkan tubuh Adam di atas sofa dan membuka sepatu Adam.
"Ris tolong ambilkan baju ganti Adam dong," ucap ayah.
"Iya yah," ucap Aris.
Aris pun berlari ke kamar Adam untuk mengambil pakaian ganti untuk Adam dan sudah turun lagi ke bawah.
__ADS_1
"Ini yah," ucap Aris sambil memberikan baju Adam.
"Anaya sama Fauzi mana?," tanya ayah.
"Ada di kamar yah, tadi Anaya sempat sesak jadi pake oksigen tadi," ucap Aris.
"Panggil mbak Nita," ucap ayah.
Aris pun mencari mbak Nita dan menyuruh ke ruang tengah. Nita pun ke ruang tengah.
"Nit, tolong gantikan baju Adam. Saya mau liat Anaya dulu," ucap ayah.
Nita pun langsung mengganti baju Adam dan ayah segera ke kamar Anaya.
"Zi gimana keadaan Anaya?" tanya ayah.
"Tadi sempat mendadak sesak yah, dan kondisi pun menurun," ucap Fauzi.
"Apa harus di bawa ke dokter?" tanya Ayah.
"Jangan dulu yah, di rumah dulu aja. Uzi juga udah kasih obat penenang, biar Anaya sedikit relax dan istirahat," ucap Fauzi.
"Ayah serahkan semua sama Uzi," ucap ayah.
"Iya yah, kita bantu doa juga ya. Kita juga butuh Allah untuk menyembuhkan Anaya," ucap Fauzi.
"Ya udah kita bicara diluar, ada yang ingin ayah sampaika," ucap Ayah.
"Tapi ini Anaya gimana?" ucap Fauzi.
"Biar mba Nita yang jaga dulu," ucap Ayah.
Ayah dan Fauzi pun keluar kamar Naya untuk meminta mba Nita menemani Anaya.
"Ada apa yah?" ucap Fauzi di sebelah Aris.
Aris langsung memeluk sang bunda dan Fauzi masih terlihat tenang, karna Fauzi sudah terbiasa mengalami hal seperti ini.
"Usahakan kalian selalu membuat Anaya bahagia ya, karna kita tidak pernah tau sampai kapan Anaya bertahan," ucap ayah.
"Bunda cuman minta sama Aris, jaga emosi ya nak. Kalau Anaya bikin kamu marah, harap tenang dulu," ucap bunda.
Aris hanya bisa menangis dalam pelukkan sangat bunda. Adam yang sedari tadi sudah bangun, hanya mendengar apa yang ayah dan bunda bicarakan mengenai sang kaka.
Nita yang keluar kamar dengan panik mencari ayah dan bunda.
"Bunda ... ayah, itu non Anaya," teriak Nita.
"Kenapa mbak," ucap ayah.
"Itu Non Anaya," ucap Nita.
Semua pun panik langsung berlari ke kamar Anaya.
Fauzi langsung mengecek kondisi Anaya.
"Yah telepon ambulance, harus bawa Anaya ke rumah sakit. Kondisi Anaya drop," ucap Fauzi.
Ayah pun langsung menelepon rumah sakit yang biasa dan meminta kirim ambulans, sambil menunggu ambulans datang. Fauzi mencoba untuk membantu Anaya kembali normal.
"Zi, kaki Anaya dingin," ucap bunda sambil memegang kaki Anaya.
"Adam, tolong bacakan doa - doa untuk kaka," ucap ayah.
Adam pun langsung membaca doa di dekat telinga Anaya. Aris memegang tangan Anaya dan Fauzi masih terus memeriksa kondisi Anaya.
Akhirnya ambulans datang dan petugas membawa Anaya ke dalam ambulans,dan Fauzi ikut di dalam ambulans.
__ADS_1
"Nay bangun Nay," ucap Fauzi sambil menangis.
Petugas di dalam ambulans langsung memasang selang oksigen ke hidung Anaya. Fauzi masih terus memegang tangan Anaya.
Ayah, bunda, Aris dan Adam ikut ke rumah sakit dengan mobil ayah. Semua sudah menangis karna melihat kondisi Anaya saat ini.
Akhirnya tiba di rumah sakit, Anaya langsung di bawa ke IGD untuk di tangani oleh Dokter Benny.
"Apa yang terjadi Zi," tanya dokter Benny.
"Tadi habis makan, terus di kasih obat yang biasa. Tiba - tiba sesak sempat tenang. Saat Uzi lagi ngobrol sama ayah, mbak bilang kalau Anaya makin parah sesaknya," ucap Fauzi.
"Siapkan ruang ICU dan alat detak jantung, kondisi Anaya melemah," ucap dokter Benny.
"Baik dokter," ucap Para suster.
"Zi, kabari pada keluarga kalau Anaya harus masuk ICU karna kondisi Anaya melemah. Harus di pantau selama 24 jam," ucap dokter Benny.
Fauzi sudah tak kuat membendung air mata dan keluarlah air mata hingga membanjiri wajah Fauzi. Fauzi pun keluar ruang IGD.
"Yah," ucap Fauzi.
"Ada apa nak?" tanya ayah.
"Anaya harus masuk ruang ICU karna kondisi Anaya melemah dan harus di pantau terus. Anaya akan di pasang alat untuk mendeteksi detak jantung Anaya," ucap Fauzi.
Bunda yang mendengar penjelasan dari Fauzi mendadak lemas hingga jatuh pingsan, ayah langsung membawa bunda ke atas brankar untuk di rebahkan.
"Aris dan Adam di sini dulu, jaga bunda. Ayah sama Ka Fauzi ikut anter Anaya ke ICU. Nanti ayah balik lagi ya," ucap ayah.
"Iya yah," ucap Aris dan Adam.
Ayah dan Fauzi melangkahkan kaki menuju ICU, untuk mengetahui lebih lanjut kondisi Anaya saat ini.
Dokter Benny keluar dari ruang ICU dan merangkul pundak pa Teguh.
"Pa sabar ya, banyak berdoa dan serahkan semua sama Allah. Sekarang Kondisi Anaya menurun dan sekarang Anaya koma," ucap dokter Benny.
"Astagfirullah, kenapa bisa gitu dok?" tanya Teguh.
"Obat - obatan yang di minum Anaya, tubuh Anaya menolak untuk obat itu. Sekarang obat - obatan akan di suntik lewat cairan infusan," ucap dokter Benny.
"Ya Allah," ucap Teguh.
"Pa sabar ya, semoga dengan seperti ini, kondisi Anaya menjadi lebih baik lagi. Sekarang biarkan Anaya istirahat dulu," ucap dokter Benny.
Saat ayah sedang mengobrol dengan dokter Benny, bunda datang bersama Aris dan Adam.
"Yah, gimana kondisi Anaya?" tanya bunda.
Ayah bingung harus berkata apa pada sang istri yang baru siuman dari pingsan.
"Bunda, sini duduk dulu ya. Kondisi Anaya saat ini lemah banget dan," ucap ayah.
"Dan apa yah," ucap bunda.
"Dan saat ini Anaya Koma," ucap Ayah.
"Astagfirullah," ucap bunda, Aris dan Adam.
Semua yang mendengar kabar Anaya saat ini, langsung terduduk lemas di kursi.
"Terus sekarang gimana kondisi Anaya?" tanya bunda.
"Kondisi Anaya melemah, kita berdoa sama Allah. Biar Anaya bisa kembali sadar lagi," ucap Ayah.
Fauzi gak banyak bicara hanya bisa terdiam dan menatap Anaya dari kaca.
__ADS_1