Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Penculikan


__ADS_3

“Fold.” Akhirnya Chiara melepaskan sisa uangnya dan memilih menyerah.


Beberapa orang yang melihat ke meja tersebut berdecih kecewa, seolah mengharapkan kekalahan yang lebih besar dari gadis itu. Namun Chiara sudah bertekad untuk mengakhiri permainannya sampai di sini saja. Karena itu, ketika bangkir hendak membagikan kartu untuk putaran selanjutnya, Chiara berdiri dari kursinya.


Hal yang tidak terduga terjadi. Beberapa penonton yang sudah menyesaki meja Chiara mendadak berdiri rapat di hadapan gadis itu. Mereka seperti berusaha menghalang-halangi Chiara agar tidak pergi, dan kembali duduk bermain.


Chiara tidak yakin apakah pikirannya keliru atau tidak. Namun ekspresi wajah orang-orang itu yang menatapnya dengan tajam seakan mengonfirmasi dugaannya. Mereka semua ingin melihat Chiara hancur sehancur-hancurnya.


Kemarahan bercampur rasa panik memenuhi pikiran Chiara. Ia tidak ingin mewujudkan harapan-harapan jahat orang-orang ini. Sisa chipnya hanya bisa digunakan untuk satu kali permaninan lagi. Itu pun kalau lawannya tidak terus-terusan menaikkan taruhan. Ia jelas tidak mungkin bisa menang. Chiara tidak ingin pulang dalam keadaan berhutang.


Maka, dengan seluruh kekuatan tubuhnya, Chiara berusaha menepis orang-orang yang mendorongnya. Kerumunan yang berkumpul di meja tersebut ternyata sudah sangat banyak. Chiara susah payah menelusup di antara celah-celah orang yang berdiri rapat.


Beberapa kali Chiara merasa dirinya didorong kembali ke belakang. Ia sudah nyaris jatuh terinjak-injak ketika sekonyong-konyong pergelangan tangannya digenggam oleh seseorang. Chiara tidak yakin siapa yang menariknya. Akan tetapi orang itu kini tengah membawanya keluar dari kerumunan.


Sambil terus berdesak-desakan, akhirnya Chiara pun berhasil menyeruak keluar. Rupanya Ben yang sedari tadi menarik tangannya. Kini pria itu berdiri begitu dekat dengannya.


“Cepat pergi dari sini dan jangan kembali lagi,” bisik Ben sembari melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Chiara menurutinya. Segera setelah berhasil meloloskan diri dari kerumunan, Chiara pun berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Ia bahkan tidak menukarkan chipnya terlebih dahulu. Semua orang di tempat itu menatapnya dengan begitu tajam dari segala penjuru. Chiara merasa punggungnya seperti akan terbakar karena seluruh tatapan sinis yang diarahkan kepadanya tersebut.


Setelah waktu-waktu menegangkan itu, Chiara akhirnya berhasil keluar dari Venetian. Ia segera pergi ke toko barang antik untuk melepas penyamarannya. Entah mengapa ia merasa dirinya belum sepenuhnya aman. Gadis itu berjalan setengah berlari melewati jalan batu.


Dan benar saja, tak berapa lama setelah berjalan, Chiara menyadari bahwa ritme langkahnya yang cepat sepertinya diikuti dari belakang. Chiara berusaha berlari, dan orang yang mengikutinya pun ikut berlari. Gadis itu masih selamat semata-mata karena kini mereka berada di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan utama.


Sebentar lagi, saat hendak mencapai toko barang antik, jalanan akan mulai sepi. Chiara mungkin tidak bisa menyelinap di balik kerumunan orang lagi. Karena itu, dengan nekat, gadis itu pun melepas sepatu hak tingginya begitu saja. Dia angkat roknya yang mengembang seperti sangkar burung itu, lantas berlari secepat mungkin. Ia tidak perlu lagi berpura-pura menjaga keanggunannya sebagai seorang lady.


Orang-orang yang mengejar Chiara ikut berlari dengan cepat. Gadis itu mencoba mengecoh pengejarnya dengan berbelok di salah satu gang yang berbeda dari biasanya, lalu masuk ke area pertokoan dan kembali ke jalan raya. Sayangnya, rencana tersebut ternyata gagal.


Dua orang pria kekar berkumis sudah menunggu Chiara di balik gang tersebut. gadis itu telah salah perhitungan. Sontak Chiara pun menghentikan langkahnya dan berniat untuk memutar balik sebelum terlambat. Sayangnya laki-laki lain yang sedari tadi mengikutinya kini sudah berada di belakang punggung Chiara.


Tiga laki-laki sangar itu saling memandang sambil menyeringai. Salah satu dari mereka, yang memiliki luka di wajahnya, akhirnya menjawab pertanyaan Chiara tersebut.


“Kami adalah orang yang akan menagih seluruh hutangmu di Venetian,” ujar laki-laki itu.


“Aku tidak punya hutang di Venetian!” pekik Chiara membela diri. Dia memang sama sekali tidak pernah berhutang.

__ADS_1


Sang laki-laki mendengkus pendek, penuh cela. “Kau pikir hanya karena kau bermain dengan cerdik dan selalu membawa banyak uang, itu artinya kau sekedar beruntung? Itu adalah hutang! Kami memberimu hutang hingga jutaan keping emas. Kau bayangkan saja, sudah berapa banyak keping emas yang kau curi dari kami?


“Selama ini kami membiarkan saja semua ulahmu karena ada sponsor yang bersedia menjaminmu. Tapi kini sponsormu sudah berhenti memberi dana. Itu artinya, seluruh hutangmu harus kau bayar sendiri,” jelas laki-laki itu sembari terkekeh. Ia mengeluarkan sebuah belati kecil dari sakunya lantas secara perlahan mendekati Chiara. Dua rekannya yang lain juga ikut mengepungnya. Chiara mulai panik karena tak ada jalan keluar lagi baginya.


“Ta, tapi aku sudah tidak punya uang lagi. Kalian lihat sendiri tadi aku sudah kalah telak,” ujar Chiara berusaha terus mengulur waktu dan mencari jalan keluar. Namun ia tidak bisa menemukan ide apa pun unutk kabur.


“Kalau begitu kau bisa membayarnya dengan tubuhmu, Gadis Kecil.” Laki-laki itu tertawa mengancam. Ketiganya lantas menyergap Chiara secara bersamaan.


Gadis itu berusaha memukul-mukulkan tinjunya, berharap tangannya bisa menjadi gada berduri lagi. Tentu saja tidak ada yang terjadi. Hal-hal ajaib seperti itu biasanya terjadi hanya saat Chiara tidak memikirkannya. Kedua tangan Chiara kini hanya melayang-layang tak tentu arah. Memukul udara kosong tanpa membuat ketiga laki-laki itu merasa terancam.


Akhirnya, dalam satu sergapan, Chiara pun berhasil diringkus. Salah satu pria berkumis memukul tengkuk gadis itu hingga tak sadarkan diri. Hal terakhir yang Chiara lihat hanya tawa bengis penuh ejekan dari ketiga penculiknya.


 


Chiara terbangun di sebuah ruangan gelap dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya juga dibekap dengan kain basah yang menjijikkan. Sementara wajahnya ditutup menggunakan kain hitam yang membuatnya sesak bernapas.


Chiara mencoba berontak. Akan tetapi yang keluar hanya suara gumaman tak jelas dari mulutnya yang tertutup rapat oleh kain. Dia menyadari tengah dibaringkan di suatu tempat yang empuk, semacam kasur bulu angsa yang mewah. Aroma mawar dan kesturi membuat Chiara semakin merasa curiga.

__ADS_1


Ia ingin melihat keluar tetapi kedua tangannya terikat ke belakang. Gadis itu pun hanya bisa menggeliat-geliat, berusaha berpindah tempat menggunakan seluruh tubuhnya. Seperti ular. Hanya itu satu-satunya cara bagi Chiara untuk bisa bergerak.


Akan tetapi, baru beberapa menit bergulat dengan seluruh tubuh, mendadak ia mendengar suara pintu terbuka, disusul dengan langkah kaki yang mendekat. Chiara segera terdiam kaku. Ia takut bergerak karena tidak bisa memperkirakan siapa yang tengah datang. Benaknya kosong, tak mampu berpikir apa-apa. Hanya suara jantungnya yang berdentum-dentum keras karena rasa cemas tak tertahankan.


__ADS_2