
Damian akhirnya tiba di ruang sidang sedikit terlambat gara-gara ayahnya. Semua orang sudah datang dan duduk di tempat mereka masing-masing. Ruangan tersebut mirip amphitheater mini dengan tempat duduk berundak melingkar yang digunakan sebagai tempat para penonton persidangan.
Di ujung ruangan tersebut, terdapat sebuah mimbar yang dibangun tinggi di atas sana. Tempat itu adalah tempat sang hakim yang akan memutus perkara. Di tengah ruangan terdapat dua sisi meja yang digunakan oleh pendakwa dan terdakwa. Keduanya duduk berseberangan bersama jaksa pembela mereka masing-masing.
Damian mengambil tempat duduk di salah satu tempat duduk berundak yang dekat dengan para dewan berada. Ia duduk di baris terdepan dan menunggu gilirannya untuk muncul. Sidang sudah dimulai sekitar sepuluh menit yang lalu. Damian bisa memperkirakannya karena sekarang pembacaan berkas perkara masih belum selesai.
Sembari menunggu, pemuda itu mengedarkan pandangannya sekilas. Ia melihat Viscountess Gausse yang duduk di sisi kiri, mengenakan topi berpenutup wajah gelap dan tampak menahan isak tangis. Suaminya duduk di sisi kanan, bertampang parlente dan duduk dengan angkuh seolah-olah hari itu dia yang akan memenangkan perkara tersebut.
Cassie terlihat duduk tak jauh dari Damian, di baris kedua tempat duduk berundak para penonton. Perempuan itu melambai singkat pada Damian, menyatakan bahwa ia sudah melihat pemuda itu datang. Damian balas melambaikan tangannya sekilas, lantas kembali mengamati jalannya persidangan.
“Viscount Gausse, Anda menerima tuduhan melakukan perselingkuhan di belakang punggung istri Anda. Apa sanggahan Anda?” sang Jaksa Penuntut mulai menjalankan perannya.
Pria berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahun itu tertawa mengejek. “Istriku hanya paranoid. Dia memang punya kelainan sejak orang tuanya bercerai dan ayahnya berselingkuh. Selama ini ia hanya berpikir sesuai keinginannya dan menuduhku yang tidak-tidak. Ia bahkan tidak punya bukti atas tuduhan itu,” ujar sang Viscount tampak percaya diri.
__ADS_1
Dari kejauhan Damian hanya mendengkus pendek penuh celaan. Bagaimana bisa seseorang yang bersalah menjadi sangat percaya diri seperti itu. Seolah-olah dia sama sekali tidak melakukan kejahatan. Memuakkan.
“Sayangnya istri Anda memiliki bukti-bukti perselingkuhan itu,” gumam sang jaksa penuntut sembari menyeringai.
Jaksa tersebut lantas melirik ke arah Damian yang duduk di dekat anggota dewan. Pemuda itu pun bangkit berdiri dari tempat duduknya, lantas maju ke panggung sidang. Inilah waktunya untuk beraksi.
Dengan tenang Damian pun menghadapi Viscount Gausse yang kini wajahnya berubah pucat ketika menyadari kedatangannya. Kedatangan Damian sudah mengonfirmasi kemenangan istrinya di persidangan. Pemuda itu sudah sangat tersohor di Ponza. Semua kasus yang mengandalkan bantuan Damian sebagai delator, sudah pasti akan dimenangkan olehnya.
“Dasar rubah licik itu, mengambil uangku untuk membayar delator brengsek ini,” geram Viscount Gausse dengan ekspresi penuh emosi.
“Morituri te salutant,[1],” kata Damian memberi salam pada hakim. “Menurut Corpus Juris Civilis[2], pasal perselingkuhan biasanya akan menghukum pasangan yang berselingkuh dengan mengaraknya ke seluruh kota sambil bertelanjang bulat. Apakah Anda sudah siap menerima hukuman tersebut, Viscount?” tanya Damian beralih pada pria terdakwa yang sudah berwajah pucat pasi itu.
“Yang Mulia Hakim dan hadirin sekalian,” lanjut Damian sembari mengeluarkan kotak kayu yang ada di saku mantelnya.
__ADS_1
Pemuda itu membuka kotak tersebut dan mengambil pena serta sapu tangan milik Viscount Gausse yang tertinggal di rumah bordil. Kedua benda tersebut lantas ia letakkan ke atas nampan yang dibawa oleh seorang pria muda. Nampan ini nantinya akan diserahkan kepada hakim yang duduk di mimbar utama.
“Kedua benda itu saya termukan di tempat terkahir yang didatangi oleh Viscount Gausse, Red Lotus,” tutur Damian menyelesaikan kalimatnya.
Sang Viscount tampak panik. Ia segera berdiri dari tempat duduknya sembari menunjuk-nunjuk marah ke arah Damian. “Dia berbohong! Aku kehilangan benda itu beberapa hari yang lalu. Ada yang mencurinya dan sengaja menjebakku! Hakim, mohon percayalah pada saya,” rengek sang Viscount hilang akal.
“Kau! Jangan berani-berani menjebakku! Semua orang di Ponza juga tahu kelicikanmu Damian Castor! Hanya karena kau putra duke, bukan berarti kau bisa menghancurkan hidup orang lain,” seru Viscount Gausse gusar.
Damian hanya tersenyum simpul. “Kalau Anda tetap tidak merasa bersalah, saya bisa memanggil saksi yang melihat kedatangan Anda ke Red Lotus,” ucapnya tenang.
Damian lantas menoleh ke arah Cassie sembari memanggilnya ke depan. Cassie mengangguk gugup, tetapi ia tetap menuruti perintah Damian.
[1] Morituri te salutant: Mereka yang mati memberi salam padamu. Salam tersebut biasa diucapkan para gladiator romawi kepada kaisar sebelum memulai pertempuran mematikan.
__ADS_1
[2] Undang-undag Hukum Romawi.